Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 28 - Kelompok Mafia Mata Ular


...✪✪✪...


Setelah mengetahui tentang keterlibatan seorang polisi bernama Erwin. Yudha menemukan sesuatu tentang orang-orang bertopeng. Pencarian Deny menjadi lebih mudah, karena dia hanya perlu mengintai Erwin dari jauh. Serta mencari keterkaitan aparat kepolisian itu dengan komplotan penjahat tertentu.


Benar saja, Deny dan bawahannya mengetahui sesuatu. Kalau Erwin berhubungan dekat dengan kelompok mafia bernama Mata Ular.


"Hanya tinggal mencari bukti saja, kalau kelompok mafia Mata Ular itu adalah orang-orang yang menyerang saat insiden kebakaran!" ujar Deny, memberitahu.


"Kau benar." Yudha mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali. "Sekarang bisakah kau mencarikan sebuah rumah mewah untukku? Dan juga... tambah lagi bawahan kita. Aku tidak peduli apakah mereka preman pasar atau para penagih hutang! Yang jelas mereka tidak penakut dan ahli berkelahi!" tambahnya memberikan perintah. Deny lantas segera melakukan apa yang disuruh Yudha.


Satu bulan berlalu. Yudha sudah sepenuhnya berhasil menemukan komplotan orang bertopeng. Ternyata benar dugaan Yudha, orang-orang dari kelompok mafia Mata Ular-lah yang melakukan pembantaian di rumahnya. Deny bisa menemukan buktinya ketika telah berhasil menemukan pembuat topeng. Pengusaha pembuat topeng tersebut memiliki kamera pengawas di tokonya, jadi Deny bisa mengetahuinya.


Dalam rekaman CCTV, Deny menyaksikan Erwin pergi dengan seorang pria misterius. Mereka bahkan terlihat memilih topeng serupa, dengan topeng yang dipakai saat melakukan penyerangan di rumah Yudha.


Meskipun sudah mengetahui siapa orang-orang dibalik komplotan bertopeng, Yudha masih belum mengetahui siapa sosok Mr. A. Dari informasi yang didapatkan Deny, ketua mafia Mata Ular menutup rapat identitas pimpinan mereka.


Deny mengetuk pintu kamar Yudha. Dia, Yudha beserta bawahannya sudah tinggal di sebuah rumah mewah. Yudha bahkan membeli bunker khusus untuk markas berkumpul semua bawahannya.


Tok!


Tok!


Tok!


Yudha mendengar suara ketukan itu. Tetapi dia sedang sibuk mencumbu Elisha. Hubungan keduanya semakin intim, setelah saling mengetahui jati diri masing-masing. Elisha bahkan sering mengajak Yudha pergi menemui orang tua angkatnya. Semuanya berjalan normal di permukaan.


"Yud..." Elisha mencoba menghentikan pergerakan Yudha.


"Abaikah saja dia, El. Kita masih belum selesai..." balas Yudha. Bertekad tetap meneruskan kegiatan intimnya.


Setelah selang waktu lima belas menit, barulah Yudha membuka pintu. Dia langsung memanggil Deny. Bawahan setianya itu lantas bergegas menemuinya. Mereka bicara sambil duduk di sofa ruang tengah.


"Ada apa? Apa kau sudah tahu siapa Mr. A?" tanya Yudha. Duduk dalam posisi merentangkan kedua tangannya ke sofa.


"Aku tidak menemukan foto atau namanya. Tetapi aku berhasil mengetahui, kalau ketua mafia Mata Ular masih sangat muda. Katanya dia seorang lelaki yang berusia dua puluh lima tahunan." Deny memberitahu dengan panjang lebar.


"Benarkah? Lalu, hanya itukah yang kau tahu?" timpal Yudha. Deny langsung menjawab kata 'Ya' dengan anggukan kepalanya.


"Kalau kita masih belum bisa menemukan ketuanya, lebih baik hukum saja orang-orang yang kita tahu. Kita mulai dari polisi bernama Erwin itu," kata Yudha. Satu tangannya tampak memegangi dagunya sendiri.


"Baiklah, jika itu maumu. Apa rencanamu?" balas Deny, menatap serius.


"Ah, kau tidak perlu repot-repot lagi. Biar aku saja yang mengurusnya. Kau sudah bekerja terlalu giat, Paman. Lebih baik nikmati dahulu waktu istirahatmu." Yudha bangkit dari sofa. Kemudian melangkah menuju kamarnya. Dia mengambil tiga gepok uang dari brankas.


"Ini untukmu. Anggap saja sebagai hadiah atas kerja kerasmu selama ini!" Yudha memberikan uang bernilai tiga puluh juta kepada Deny.


"Ah! Pokoknya simpan saja. Pakailah untuk ke klub malam atau mendekati seorang wanita. Kau tidak ingin sendirian seumur hidupmu bukan?" Yudha mencoba menggoda.


Deny hanya terkekeh dan menjawab, "Aku punya pengalaman buruk dengan wanita, Yud. Aku butuh waktu yang lama untuk memulai hubungan lagi."


"Oh, begitu. Ya sudah, aku harus pergi ke kampus. Nikmatilah waktu santaimu, Paman!" Yudha beranjak menuju kamar. Dia hendak bersiap-siap pergi bersama Elisha.


Elisha terlihat sudah rapi. Gadis itu bahkan baru mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Dia juga tidak lupa memoles lipcream berwarna merah muda. Membuat bibirnya semakin memancar indah.


"Jangan terlalu cantik. Aku tidak ingin punya saingan!" tegur Yudha, yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Elisha.


"Idih! Justru akulah yang harusnya mencemaskan hal itu. Tidak berdandan pun, kau terlihat luar biasa." Elisha membalas dengan kening yang mengernyit. Gadis tersebut kian gemar bicara. Nampaknya dia telah merasa nyaman bersama Yudha. Ia bahkan tidak segan-segan menunjukkan keliaran yang selama ini disembunyikannya dengan baik. Intinya Elisha lebih berani dari dirinya yang dahulu.


Yudha tergelak kecil mendengar ucapan Elisha. Pipinya sedikit memerah. Karena dibalik kalimat Elisha, ada pujian yang terselubung nyata.


"Kau tenang saja, aku hanya akan bersamamu, El!" ucap Yudha seraya masuk ke dalam kamar mandi. Dia menghilang ditelan oleh pintu.


Elisha menunggu Yudha di depan rumah. Dia saling bicara dengan Deny dan tiga bawahan Yudha. Akibat terbiasa berkunjung, semua orang kenalan Yudha juga semakin akrab dengan Elisha.


"Ayo kita berangkat!" ajak Yudha yang baru saja keluar dari pintu. Dia dan Elisha segera pergi kuliah bersama.



Yudha menghentikan mobilnya. Dia dan Elisha keluar bersamaan dari mobil. Semenjak beberapa minggu lalu, Elisha merasa sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Karena Yudha, namanya ikut menjadi populer.


"Fev, lihat tuh. Cih! Aku nggak nyangka, ternyata Yudha doyan sama cewek kayak gitu. Jelas cantikan kamu Fev!" ujar Dina. Teman dekat Fevita. Dia dan Fevita mengamati Yudha beserta Elisha dari kejauhan.


Fevita hanya terdiam sambil menyalangkan mata. Dia tentu kesal dirinya dicampakkan oleh Yudha. Bukannya marah dengan Yudha, Fevita malah menaruh amarah kepada Elisha. Dia berniat ingin memberi pelajaran, terhadap gadis yang dianggapnya telah merebut Yudha darinya itu.


"Ayo kita beri pelajaran kepadanya. Aku punya ide bagus!" imbuh Fevita. Berseringai licik.


Sementara Yudha, Elisha, Okan dan Beni, telah berada di kelas. Kebetulan akan ada kuliah yang akan dipimpin oleh seorang dokter muda.


"Halo semua..." suara bariton sang dokter selaku dosen yang mengajar menyapa semua mahasiswanya. Namanya adalah Tirta Hermawan. Dia juga dikenal sebagai dokter bedah yang berprestasi.


Tirta memberikan pelajaran yang menyenangkan. Mudah dimengerti oleh semua orang. Hal itu wajar, karena dia masihlah muda, dan mengetahui bagaimana trend belajar mahasiswa zaman sekarang.


Dua jam terlewat. Perkuliahan akhirnya selesai. Seseorang mendadak melemparkan secarik kertas kepada Elisha. Gadis itu sontak menoleh ke arah pintu. Untuk melihat sosok yang sudah memberikannya secarik kertas misterius. Namun Elisha tidak melihat siapapun. Alhasil dia membuka kertas yang didapatnya.


...'Temui aku di toilet wanita. Aku ingin memberitahukan sesuatu tentang Yudha. Dan jangan coba-coba memberitahukan pesan ini kepadanya! Penting!'...


Kira-kira begitulah isi tulisan dari secarik kertas yang dikirimkan kepada Elisha. Perasaan Elisha tentu langsung dirundung kekhawatiran dan penasaran. Dia takut seseorang sudah mengetahui kedok Yudha yang sebenarnya.


"Yud, aku ke toilet dulu ya!" ujar Elisha, yang langsung direspon Yudha dengan anggukan kepala. Elisha lantas bergegas pergi menuju toilet.