Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 65 - Season 2 [Karma]


...✪✪✪...


Yudha membuka mata, dan menemukan dirinya berada dalam bagasi mobil. Dia sontak berteriak dan langsung mencoba membuka pintu bagasi sekuat tenaga.


Madi dan Rian yang mendengar, saling melemparkan senyuman. Kini mereka tahu kalau Yudha sudah sadar.


"Hei, keparat! Cepat lepaskan aku!!!" pekik Yudha sembari menendang pintu bagasi berulang kali. Akan tetapi dia tidak mendapatkan respon dari siapapun.


Yudha baru teringat dengan ponselnya. Dia lantas merogoh saku celana. Sayangnya, benda yang di cari-cari tidak ada di tempat.


Tidak lama kemudian, mobil berhenti. Rian dan Madi membuka pintu bagasi. Keduanya langsung mendapat serangan dari Yudha.


Tidak tanggung-tanggung, Yudha menusuk salah satu mata Rian dan Madi secara bersamaan. Dia melakukannya dengan hanya bermodalkan jari telunjuk.


Cairan merah segar bercipratan ke segala arah. Belum sampai disitu, Yudha yang kesal mengakhiri serangan dengan cara mencongkel bola mata.


Rian dan Madi sontak merintih kesakitan. Keduanya terduduk di tanah sambil terus memegangi bola mata mereka yang telah menghilang.


"Inilah akibat jika kau berani bermain-main denganku!" geram Yudha sembari melompat turun dari bagasi.


"Cuh!" Yudha tidak lupa mengumpat dengan cara meludahkan salivanya ke arah Rian dan Madi. Selanjutnya, dia bergegas masuk ke dalam mobil.


Yudha menjalankan mobil dengan laju. Dia sengaja melindas Rian dan Madi berulang kali. Seringai puas terukir di wajahnya. Separuh jati diri Yudha benar-benar iblis.


Mobil Yudha telah melaju ke jalanan raya. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Elisha.


Perhatian Yudha mendadak tertuju ke ponsel yang tergeletak di dashboard mobil. Dia sangat yakin kalau itu merupakan ponsel miliknya. Tanpa pikir panjang, Yudha langsung menghubungi Elisha.


"Yudha! Kau dimana? Aku dan Roy mencari-carimu!" ujar Elisha dari seberang telepon.


"Aku dalam perjalanan ke tempatmu!" balas Yudha.


"Benarkah? Tapi aku sudah pergi dari sana. Kita bertemu di taman kota, oke?"


"Baiklah, aku akan ke sana." Yudha setuju sambil terus fokus mengemudi. "Elisha! Tunggu!" belum sempat panggilan berakhir, Yudha kembali berseru.


"Maaf jika aku sudah banyak mengecewakanmu. Aku mencintaimu..." ungkap Yudha. Entah kenapa dirinya tiba-tiba merasa emosional.


"Tidak apa-apa. Aku juga mencintaimu," sahut Elisha. Pembicaraan mereka berakhir disitu.


Dari arah belakang, terdengar suara sirine mobil polisi. Yudha tidak menyangka dirinya akan dikejar-kejar lagi. Ia sekarang sadar, lepas dari yang namanya hukum tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.


Yudha tidak punya pilihan selain melajukan mobil. Hingga aksi kejar-kejaran pun terjadi. Hal itu terjadi cukup lama, Yudha bahkan sesekali menabrak beberapa mobil yang ada di sekitar.


Dari kejauhan, ada lampu merah yang menyala. Tetapi Yudha malah menginjak kuat pedal gas. Berharap dirinya dapat lepas dari kejaran polisi.


Sayang seribu sayang. Saat Yudha melewati perempatan jalan, dia justru ditabrak oleh truk tronton.


Mobil Yudha otomatis terseret. Segalanya terasa seperti mimpi. Kaca-kaca yang pecah beterbangan bagaikan kristal.


Yudha merasakan tubuhnya terhentak ke sana kemari. Beberapa titik badannya terluka akibat terhantam pecahan-pecahan kaca. Di akhir penglihatan Yudha menggelap, tatkala truk tronton mengapit mobilnya ke sebuah tiang listrik.


Tengah malam yang harusnya sepi, mendadak menjadi ramai. Satu per satu orang-orang berkerumun ke mobil Yudha yang telah hancur lebur.


Roy dan Elisha baru melalui lokasi kecelakaan. Mereka tidak tahu kalau mobil yang kena tabrakan truk adalah milik Yudha. Jadi keduanya berjalan lurus dan memilih menunggu di taman kota.


Satu malam berlalu. Pagi yang cerah menyapa. Elisha dan Roy masih setia menunggu di taman kota. Jujur saja, mereka sedang dirundung perasaan panik.


"Huek!" Elisha tiba-tiba merasa mual. Dia memuntahkan banyak cairan dari mulutnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Roy.


"Iya, aku tidak apa-apa. Roy, kenapa Yudha belum datang juga? Aku takut sesuatu yang buruk terjadi kepadanya!" imbuh Elisha.


Roy hanya terdiam. Dia sibuk menjelajah internet. Mungkin saja ada informasi yang dapat memberikannya petunjuk tentang keberadaan Yudha.


Sebuah artikel menarik perhatian Roy. Yaitu mengenai artikel yang memberitahukan kecelakaan seorang tahanan muda. Jantung Roy langsung berdegub kencang. Sebab di artikel itu, korban kecelakaan dinyatakan meninggal di tempat. Roy takut kalau orang yang dimaksud artikel tersebut adalah Yudha. Apalagi lokasinya tidak begitu jauh dari taman kota.