
...✪✪✪...
Yudha dan Yanto melakukan pembicaraan serius tidak begitu lama. Sebab Mirna sudah memanggil dan menyuruh mereka untuk makan malam. Yanto lantas bangkit dari tempat duduk. Lalu memegang pelan pundak Yudha. Sementara Yudha hanya tersenyum tipis untuk menanggapi perlakuan ramah tersebut.
Makan malam sedang berlangsung. Semuanya berjalan baik-baik saja. Tetapi Yudha merasa ada yang aneh dengan Yanto. Ayah tiri dari Elisha itu, terus memandangnya curiga.
"Ada apa, Om? Apa masih ada sesuatu yang ingin Om bicarakan denganku?" tanya Yudha.
Yanto yang merasa tertangkap basah, segera menggelengkan kepala. Dia tersenyum dan mengatakan tidak. Dirinya malah berkilah dengan cara menawarkan lauk lagi untuk Yudha.
"Tidak Om. Ini sudah cukup," jawab Yudha lembut.
"Oh iya, Yud. Sampai sekarang Tante masih ingat sekali dengan kunjungan pertamamu ke sini. Kenapa sih, kamu harus menutupi nama asli sendiri?" tanya Mirna mendadak. Yudha sudah mengangakan mulut untuk menjawab, namun Mirna kembali lanjut bicara, "Pah, Yudha dulu bilang namanya Andre loh. Katanya terlalu malu sama aku. Lucu nggak tuh." Mirna terkekeh sambil memposisikan satu tangan menutupi mulutnya.
Yudha dan Elisha relfek saling bertukar pandang. Karena hanya mereka berdua yang tahu kebenarannya. Yudha berbohong karena mengira dirinya akan membunuh Elisha pada hari itu. Namun kenyataannya, rencana tersebut tidak dilakukan oleh Yudha.
"Benarkah?" respon Yanto. Kemudian menatap Yudha melalui ujung matanya. "Ternyata kamu juga bisa malu ya Yud," komentarnya.
"Nggak apa-apa Pah, yang penting tidak malu-maluin!" Mirna menepuk pelan pundak sang suami. Kembali tertawa kecil. Sepertinya dia sangat menyukai sosok Yudha. Apalagi setelah mengetahui kalau Yudha juga berada di jurusan yang sama dengan Elisha.
Makan malam berselang selama setengah jam. Waktunya tak terasa karena di isi dengan berbagai topik obrolan. Sekarang semua hidangan telah dihabiskan.
Yudha terlihat mencoba membantu Mirna dan Elisha membawa piring kotor ke wastafel.
"Ya ampun Yudha, kamu nggak perlu bantu. Elisha aja cukup loh," tegur Mirna. Berusaha menghentikan pergerakan Yudha. Dia sejujurnya sangat senang, menyaksikan betapa baiknya lelaki yang dikiranya akan menjadi calon menantu.
"Iya, kamu sengaja meyindir Om yang duduk santai ini ya?" timpal Yanto. Dia bersekongkol bersama Mirna.
"Udah, duduk aja Yud!" Elisha memaksa Yudha kembali ke meja makan, dan duduk di hadapan Yanto.
Kini Yudha dan Yanto kembali melakukan percakapan. Jujur saja, semuanya terasa canggung bagi Yudha. Karena Yanto terus berbicara perihal rekannya yang baru meninggal. Ayah tiri Elisha tersebut bahkan telah menyebutkan nama Erwin.
"Yud, kamu beli parfum dimana sih? Aku suka sekali sama baunya," ungkap Yanto. Dia sedikit mencondongkan kepala untuk membaui Yudha.
"Ayahku yang membelinya." Yudha menjawab dengan senyuman kecut. Dia segera menjaga jarak dari Yanto.
"Oh, begitu..." Yanto memanggut-manggutkan kepala.
Yudha menghabiskan waktu satu jam lagi untuk berkumpul bersama keluarga Elisha. Selanjutnya dia segera berpamitan untuk pulang. Setelah kepulangan Yudha, Yanto diam-diam mengajak Elisha berbicara empat mata.
"Ada apa, Pah?" tanya Elisha, penasaran.
"Kamu sejak kapan kenal sama Yudha?" Yanto langsung bertanya ke intinya.
"Sebelum aku bertemu Papah sama Mamah. Dia teman baikku saat di SMA," tutur Elisha dengan senyuman tipis.
"Iya... Emm..." Elisha mengusap tengkuk tanpa alasan. Hingga akhirnya otaknya memberikan sebuah jawaban. "I-itu karena aku dan Yudha baru saja berbaikan. Hubungan kami renggang karena ada masalah yang rumit," jelasnya.
"Oh, begitu. Ya sudah, kamu sebaiknya tidur. Besok ada jam kuliah kan?" Yanto mengusap puncak kepala putrinya. Elisha otomatis mengangguk dan segera beranjak pergi ke kamar.
Setibanya di kamar, Elisha langsung memeriksa ponsel. Pupil matanya membesar saat menyaksikan ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Yudha. Belum sempat dirinya menelepon balik, Yudha sudah lebih dahulu kembali melakukan panggilan.
"Ada apa, Yud?" tanya Elisha. Memposisikan ponsel di telinga kanan.
"El, apa ayahmu ada bertanya kepadamu mengenai diriku?" pungkas Yudha dari seberang telepon.
"Baru saja tadi aku dan Papah bicara. Iya, kami memang ada membicarakan tentangmu," jawab Elisha. Terlintas dalam ingatannya mengenai pertanyaan yang dilayangkan sang ayah tadi. Elisha berpikir ayahnya tengah mencurigai Yudha. Meskipun begitu, dia tidak berniat memberitahukan Yudha yang sebenarnya. Elisha tidak mau Yudha melakukan sesuatu kepada Yanto.
"Dia bilang apa?" tanya Yudha lagi.
"Dia bilang kau lelaki yang baik. Ayah sangat menyukaimu," kata Elisha. Berbohong.
"Begitukah?..." lirih Yudha. Dia mendenguskan nafas kasar. Lalu mengakhiri pembicaraannya dengan Elisha.
"Sampai jumpa besok, El!" ujar Yudha sebelum benar-benar mengakhiri panggilan.
Elisha kini meletakkan ponsel ke atas nakas. Dia menatap kosong ke arah jendela. Rasa penasaran mulai menggerogoti dirinya. Elisha ingin tahu masalah apa yang terjadi di antara ayahnya dan Yudha.
Demi mengetahui kebenaran, Elisha rela tidak tidur. Dia menunggu tengah malam. Sebab gadis tersebut berniat menemukan jawaban di ruang kerja sang ayah.
Elisha sekarang berada di ruang kerja Yanto. Dia berupaya mencari jawaban seadanya. Terutama hal yang berkaitan dengan Yudha. Nihil, gadis itu sama sekali tidak menemukan apapun.
Mata Elisha memindai baik-baik ruang kerja ayahnya. Atensinya langsung tertuju ke arah tablet yang tergeletak di atas meja. Tanpa pikir panjang Elisha segera meraih tablet tersebut. Memeriksa artikel-artikel yang disimpan oleh Yanto.
Elisha menemukan banyak artikel mengenai insiden pembunuhan yang terjadi dua hari lalu. Seorang polisi bernama Erwin dan wanita malam. Kasus kematian mereka belum terpecahkan hingga kini. Dikatakan dalam artikel kalau polisi masih kebingungan mencari tersangka. Polisi bahkan sempat ingin menutup kasus, dengan menyatakan kalau korban melakukan bunuh diri.
Nama Yudha otomatis terlintas dalam benak Elisha. Dia menduga Yudha-lah yang melakukan pembunuhan terhadap Erwin dan sang wanita malam.
"Jadi karena ini Papah curiga sama Yudha... Tetapi kenapa? Dari mana dia tahu kalau itu Yudha?" gumam Elisha yang kian merasa penasaran.
Elisha mengingat kembali rentetan pembicaraan Yudha dan Yanto saat makan malam. Ada satu hal yang membuatnya tahu. Yaitu mengenai pertanyaan Yanto mengenai parfum kepada Yudha.
'Mungkinkah Yudha memakai parfum yang sama saat melakukan pembunuhan?' batin Elisha. Dia menggigit bibir bawahnya. Merasa khawatir dengan nasib hubungan Yanto dan Yudha. Elisha tidak ingin keduanya mengalami perselisihan. Apalagi dirinya telah tahu bagaimana jati diri Yudha. Kekasihnya tersebut tentu akan langsung membunuh orang yang berani mengganggunya.
Untuk yang sekian kalinya, Elisha merasa apa yang dilakukan Yudha adalah salah. Logikanya sebenarnya sudah melakukan protes ratusan kali. Tidak! Bukan saja logika sebenarnya, tetapi juga lubuk hatinya. Jujur saja, hingga sekarang, Elisha dihantui perasaan bersalah kepada Anton. Insiden pembunuhan yang dilakukannya adalah ketidaksengajaan. Waktu itu Elisha hanya merasa kesal terhadap Anton, hingga tanpa sengaja melepas dan mendorongnya ke sungai.
Catatan Author :
Guys, sebenarnya hari ini aku mau upnya tadi pagi. Karena di daerah author ada bencana banjir, listrik jadi dimatikan, sinyal pun hilang. Tapi sekarang udah surut kok, semuanya telah normal. Makanya bisa up. Meskipun author sibuk sama novel sebelah. Author nggak bakalan lupa lanjutin cerita Yudha, lope lope dariku buat yang masih setia 😘