
...✪✪✪...
Saat sudah masuk ke dalam rumah Erwin, Yudha langsung mencari-cari sesuatu di sana. Tempat pertama yang didatanginya adalah kamar Erwin. Dia mencoba mencari informasi mengenai ketua mafia Mata Ular. Yudha yakin pasti ada sedikit petunjuk mengenai sosok dibalik Mr. A.
Sebelum melakukan pencarian, Yudha berusaha memastikan keberadaan Erwin. Dan ternyata lelaki yang bekerja sebagai polisi itu, sedang tidak ada di rumah. Yudha kini memanfaatkan peluang.
Dalam selang beberapa menit, terdengar suara mobil dari depan rumah. Lampunya bahkan bisa terlihat dari gorden yang menutup rapat. Yudha yang belum sempat menemukan apapun bergegas bersembunyi. Dia memilih masuk ke dalam lemari yang ada di kamar Erwin.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Yudha mendengar ada lebih dari satu pasang kaki yang berjalan. Mengartikan kalau Erwin tidak datang sendirian. Terdengar juga bunyi deru nafas, serta suara orang berciuman.
'Sial!' umpat Yudha dalam hati. Sekarang dari celah-celah lemari kayu yang dimasukinya, Yudha dapat menyaksikan aktifitas Erwin bersama wanita seksi berambut panjang. Mereka terlihat sudah mulai bercumbu di atas kasur.
Setelah menyaksikan Erwin sudah melepas seluruh pakaian, saat itulah Yudha keluar dari tempat persembunyian. Sebelum memunculkan diri, Yudha memasang topeng dan sarung tangan terlebih dahulu.
Krieeet...
Yudha sengaja membuka lemari secara perlahan. Namun tindakannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Erwin. Yudha segera mengambil pisau dari saku celana. Kemudian berjalan menghampiri Erwin. Dia menodongkan pisau tepat ke leher polisi itu. Sehingga membuat sang wanita sontak berteriak ketakutan.
Sementara Erwin sendiri, mematung di tempat. Matanya membulat dengan tubuh yang gemetar. Sebab Yudha sudah berhasil melukai area lehernya. Menghasilkan beberapa tetes darah dari sana.
"Berdirilah!" titah Yudha.
"Ta-tapi aku tidak--"
"Berdiri!" Yudha memaksa. Dia tidak mau mendengar alasan tidak bermutu. Alhasil Erwin segera berdiri. Dia terpaksa melakukannya, meski sedang tidak menutupi tubuhnya dengan satu helai kain pun.
Si wanita yang merasa punya kesempatan untuk kabur, bergegas meraih pakaian. Lalu mencoba beranjak dari kasur. Akan tetapi Yudha tidak akan membiarkannya begitu saja. Dengan cekatan tangan Yudha mengambil pistol yang tersimpan di tas selempang kecilnya. Kemudian menembakkan peluru tepat ke kepala sang wanita.
Dor!!!
Wanita itu langsung tumbang ke lantai. Dengan keadaan kepala yang bersimbah darah.
"Dasar gila!" Erwin melakukan serangan tak terduga. Dia berupaya merebut senjata yang dipegang oleh Yudha. Namun usahanya tidak berjalan semulus yang dirinya kira. Hal itu karena gerakan Yudha lebih sigap dibandung Erwin. Untuk yang kedua kalinya Erwin ditodongi Yudha dengan senjata.
"Aku akan melepaskanmu, jika kau memberitahuku siapa ketua mafia Mata Ular!" ujar Yudha sambil menempelkan pistol ke jidat Erwin.
Erwin malah berseringai dan berkata, "Kau harusnya tanyakan kepadaku baik-baik. Aku tentu bersedia menjawabnya. Tidak perlu menggunakan cara kekerasan begini. Apakah kau tidak merasa kerepotan?"
"Jangan bicara omong kosong. Katakan saja langsung!" desak Yudha.
"Bos mafia Mata Ular adalah sosok yang sangat muda," ungkap Erwin.
Yudha yang mendengar merasa terkejut sekaligus heran. Dahinya mengukir kerutan dari balik topeng.
"Siapa namanya?" tanya Yudha.
"Kau benar-benar akan melepaskanku bukan? Aku masih punya satu orang anak yang harus di urus. Aku sedang berjuang untuk merebut hak asuh!" Erwin malah mencurahkan kesulitannya kepada Yudha. Sepertinya dia tengah melakukan proses negosiasi. Agar Yudha bersedia mempertahankan nyawanya.
Dor!!!
"Ah! Kau terlalu banyak basa-basi!" ucap Yudha. Setelah sengaja menembakkan timah panas ke daun telinga Erwin. Yudha sengaja membidik area pinggirnya saja. Hingga hanya menimbulkan luka kecil saja kepada Erwin. Walaupun begitu, luka tersebut lumayan banyak mengeluarkan darah yang berceceran.
"Makanya, bicara langsung ke intinya. Cepat! Beritahu aku nama ketua klan Mata Ular!" Yudha bersikeras. Dia tak peduli dengan luka yang dialami oleh Erwin.
"Na-na-nama aslinya adalah Trisno Wijaya." Erwin akhirnya buka suara. Dia memberitahu dengan terbata-bata, akibat masih mencoba menahan rasa sakit.
"Hmmm... Menarik. Aku yakin orang itu memakai banyak nama samaran saat berbaur dengan orang banyak." Yudha berkomentar.
"Sekarang, apa kau--"
Dor!!!
Belum sempat bicara, Yudha sudah lebih dahulu menembakkan peluru ke kepala Erwin. Kini aparat kepolisian tersebut telah kehilangan nyawa.
Yudha bersiap-siap pergi. Sebelum itu, dia sengaja meninggalkan senjata tergenggam di tangan Erwin. Tidak lupa juga untuk mengatasi kamera pengawas, dan menghilangkan semua jejaknya. Selanjutnya Yudha langsung beranjak pergi dari rumah Erwin.
Setibanya di rumah, Yudha memanggil semua bawahannya untuk berkumpul. Termasuk Deny.
"Alasanku membuat kalian berkumpul di sini, karena aku berniat membangun kembali Elang Satan. Kita akan melakukannya perlahan. Dan aku ingin Deny yang memimpin," jelas Yudha.
"Aku? Kenapa tidak kau saja?" tanya Deny sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah dadanya.
"Kita akan memimpin bersama. Aku akan mengambil alih saat waktunya tiba," sahut Yudha. Deny lantas mengangguk. Pertanda dirinya mengerti dengan apa yang dimaksud Yudha. Pembicaraan mereka berakhir disitu.
Yudha kembali ke kamar. Dia memainkan ponselnya. Mencoba mencari tahu berita mengenai kematian Erwin. Dirinya hanya ingin memastikan, kalau kedoknya tidak diketahui oleh polisi.
Hembusan nafas lega keluar dari mulut Yudha. Dia tersenyum tipis, ketika berita mengatakan kalau polisi masih kebingungan dengan apa yang terjadi kepada Erwin. Sekarang kasus tersebut masih dalam penyelidikan.
Sebuah notifikasi mengalihkan atensi Yudha. Ternyata itu adalah pesan dari Elisha.
...'Yud, Ibuku menyuruhmu datang untuk makan malam. Dia membuat banyak hidangan.'...
Kira-kira begitulah bunyi pesan yang dikirimkan oleh Elisha. Yudha segera memakai pakaian rapi. Kemudian langsung beranjak menuju rumah Elisha.
Selang waktu lima belas menit, Yudha akhirnya sampai di rumah Elisha. Dia disambut ramah oleh Mirna, serta ayahnya Elisha yang bernama Yanto. Kebetulan Yanto baru saja kembali setelah bertugas. Dia merupakan salah satu detektif resmi dari kepolisian.
"Yudha, kemarilah. Ayo kita bicara. Biarkan Elisha dan ibunya menyiapkan hidangan ke meja makan terlebih dahulu," ajak Yanto. Melambaikan tangannya. Yudha pun menurut, dan segera duduk di hadapan Yanto.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Yanto. Dia baru saja meletakkan tablet-nya ke meja. Hendak berbicara serius kepada pemuda tampan di hadapannya.
"Baik, Om. Kalau Om sendiri?" balas Yudha pelan. Disertai rekahan senyum yang menenangkan. Hingga berhasil menular kepada Yanto.
"Mungkin baik, mungkin tidak. Aku baru saja kehilangan rekanku. Dia memang banyak melakukan kesalahan, tetapi akhir-akhir ini temanku itu sedang berusaha memperbaiki diri." Yanto mengungkapkan sambil menatap kosong ke lantai.
Deg!
Jantung Yudha berdegub kencang. Dia berpikir rekan yang dimaksud Yanto adalah Erwin. Meskipun begitu, Yudha berupaya sebisa mungkin untuk bersikap tenang. Dia akan berlakon seolah tidak mengetahui apa-apa.