
...✪✪✪...
Menyaksikan kedatangan Mirna, Yudha segera menyalami. Dia berperilaku sangat sopan hingga membuat hati Mirna tergugah.
"Ikut kami ke rumah yuk! Kita makan malam bareng," ajak Mirna bersemangat. Ia memegangi lengan Yudha.
"Nggak bisa, Tante. Aku ada janji setelah ini. Mungkin lain kali." Yudha menolak baik-baik. Dia tidak lupa untuk menambahkan sebuah senyuman.
Mirna mencoba memahami. Hal serupa juga dilakukan oleh Yanto, yang sebenarnya menginginkan hal sama seperti Mirna.
"Boleh kami meminta nomor teleponmu? Mungkin suatu hari nanti kau punya waktu senggang untuk ikut makan malam," ujar Yanto.
"Tentu saja, Om." Yudha bergegas menuliskan nomor teleponnya. Dia meminta kertas dan pulpen kepada pemilik kedai terlebih dahulu. Yudha tentu menuliskan nomor telepon palsu. Dirinya tidak mungkin memberikan yang asli. Selanjutnya, Yudha langsung berpamitan untuk pulang.
Ketika sudah tiba di rumah, Yudha melenggang laju memasuki pintu. Dia melihat Elisha terlihat berlari kecil menghampirinya.
"Cepat ceritakan kepadaku, kenapa kau pulang terlambat? Kau tidak tertangkap polisi kan? Lalu bagaimana anak itu?" Elisha mencecar kedatangan Yudha dengan banyak pertanyaan.
Yudha tampak memasang lagak tenang. Dia meletakkan barang bawaan ke meja terlebih dahulu. Lalu menceritakan semuanya kepada Elisha. Termasuk pertemuannya dengan Yanto dan Mirna.
Elisha terdiam seribu bahasa. Seolah ada sesuatu hal yang dipikirkan gadis itu. Pinggulnya nampak bersandar ke meja makan.
"Jangan bilang kau terpikir untuk kembali kepada ayah dan ibumu?" timpal Yudha. Mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Elisha. Satu tangannya sibuk memegang segelas air putih.
"Kau tidak kunjung menikahiku, Yud!" seru Elisha dengan dahi yang berkerut.
Yudha memutar bola mata jengah. Dia tidak habis pikir, kenapa Elisha terus-terusan membicarakan masalah pernikahan. Bagi Yudha, yang terpenting adalah tetap bersama.
"Memangnya kau mau menikah dengan cara seperti apa?" tanya Yudha. Mengurung Elisha dengan dua tangannya yang berpegangan ke meja. Tatapan matanya menajam penuh akan keseriusan.
"Entahlah. Yang terpenting kita bisa saling terikat. Aku hanya tidak nyaman menjalani hubungan tanpa status begini," jelas Elisha.
"Bisakah aku hanya membelikan cincin untukmu? Apa itu sudah cukup?" tukas Yudha.
"Tentu saja tidak!" Elisha lekas menolak.
Yudha justru merespon dengan cara memberikan sentuhan. Dia menenggelamkan wajahnya persis ke ceruk leher Elisha. Akan tetapi kali ini Elisha mendorongnya menjauh. Kemudian pergi memasuki kamar.
Lidah Yudha berdecak kesal. Dia kadang lelah menghadapi sikap Elisha yang masih kekanak-kanakan.
"Dia masih terikat di basemen! Kau bunuh saja sendiri!" Elisha balas memekik dari dalam kamar.
Yudha segera beranjak menuju basemen. Dia terlihat membawa sebuah belati yang selalu di asahnya hampir setiap hari. Belati itu merupakan senjata favoritnya untuk sekarang.
"Mmphh! Mmmphh!" suara gumaman dari Jaka menyambut pendengaran Yudha.
Tanpa pikir panjang, Yudha berjalan menghampiri. Lalu tidak lupa untuk melepas kain yang menutupi mulut Jaka.
"Kumohon lepaskan aku... Aku tidak melakukan kesalahan apapun kepadamu..." mohon Jaka dalam keadaan berderai air mata.
Yudha membuang muka dan berucap, "Kau benar. Kau memang tidak punya kesalahan apapun kepadaku. Tetapi aku terpaksa menyakitimu, agar klienku merasa puas dengan kinerjaku." Yudha mendekatkan wajahnya. Dia menghela nafas panjang sejenak. Jujur saja, Yudha merasa agak kesal akibat pertengkaran kecil tadi bersama Elisha. Alhasil Yudha kembali mengambil seutas kain, kemudian membekap mulut Jaka lagi.
"Mmphh! Mmphh!" Jaka sontak kebingungan. Tangisan dan ketakutannya kian menjadi-jadi.
Yudha batal menggunakan belati. Dia justru mengambil sebuah paku dan palu. Lalu berjongkok ke hadapan Jaka. "Klienku sebenarnya hanya perlu kepalamu. Tapi biarkan aku melampiaskan kekesalanku kepadamu. Kau tahu? Aku sangat kesal kepada Elisha. Gadis itu terus saja membicarakan perihal pernikahan," terang Yudha yang mendadak mencurahkan isi hati. Tangannya tampak bermain-main dengan paku dan palu.
Dari tangga, ada Elisha yang mendengarkan. Ia sengaja berhenti di sana untuk menguping segala perkataan Yudha.
"Tetapi aku tidak mau Elisha pergi. Walau sedetik pun dia harus berada di sisiku..." ungkap Yudha. Dia lekas berdiri. Kemudian memaku salah satu tangan Jaka.
"Kenapa dia begitu menginginkan pernikahan? Bukankah itu hanya dilakukan oleh orang normal? Padahal sudah jelas aku dan dia berbeda dari orang kebanyakan. Kami adalah makhluk paling spesial!" ujar Yudha lagi sembari memukul paku dengan palu ke tangan Jaka. Dalam sekejap tangan Jaka tertempel ke pegangan kursi. Darah bercucuran. Belum lagi suara erangannya yang tertahan karena mulutnya dibekap.
Tidak tanggung-tanggung. Yudha memaku kedua tangan Jaka sekaligus ke pegangan kursi. Dia menatap lamat-lamat darah yang menetes dari tangan Jaka. Entah kenapa Yudha merasa sedikit tenang ketika menyaksikan cairan merah yang menetes. Ia menanai darah tersebut dengan telapak tangan.
Tiba-tiba sebuah tangan memegangi pundak Yudha. Menyebabkan Yudha otomatis berbalik badan. Dia melihat Elisha sudah ada di depan mata. Gadis itu langsung memberikan sebuah ciuman di bibir.
Yudha tentu tidak akan menolak. Ia membalas ciuman Elisha dengan intens. Bahkan sampai membuat Elisha tidak kuasa bergeming. Gadis itu terpojok ke meja yang ada di belakang.
Telapak tangan Yudha yang dipenuhi darah, perlahan menodai beberapa titik tubuh Elisha. Apalagi dibagian tengkuk leher. Sebab Yudha mencengkeram erat tengkuk Elisha ketika sibuk berciuman.
Yudha melepas tautan bibirnya sejenak, "Kenapa kau tiba-tiba menciumku? Bukankah kau tadi marah kepadaku?" tanya-nya.
"Aku melihat dan mendengar apa yang kau katakan kepada tawanan kita. Aku pikir itu sangat keren!" jawab Elisha. Dia kembali memadukan mulut dengan bibir Yudha. Kegiatan intim mereka kembali berlanjut.
Sementara Jaka, ketakutannya kian bertambah. Dia sangat ingin melarikan diri. Namun apalah daya, dua tangannya telah menyatu dengan pegangan kursi. Jaka hanya bisa menangis sambil berusaha menahan kesakitan yang tiada tara.