
...✪✪✪...
Yudha telah memberitahukan kepada ketiga temannya bahwa ia akan mengadakan pesta ulang tahun. Dia menyuruh teman-temannya untuk menggunakan topeng saat ke pesta.
"Oh jadi pesta topeng nih Yud?" Sandi memastikan sembari mengangkat alisnya dua kali.
"Iya!" jawab Yudha.
"Teman-teman semua, Yudha akan mengadakan pesta ulang tahun malam ini, kalian semua di undang!" ujar Ben dengan suara lantangnya.
"Yeaaayyy!! wohoo!" semua teman sekelas Yudha menyambut meriah.
"Apa-apaan kau!" geram Yudha sembari menggertakkan gigi.
"Aku membantumu membuat pestanya lebih seru!" balas Ben.
Bruk!
Yudha memukul meja dengan keras, hingga suaranya berhasil mengagetkan seluruh orang yang berada di kelas. Lelaki tersebut mendekatkan wajahnya kepada Ben. "Lain kali kalau mau mengatakan sesuatu, berpikir dan tanyakan dahulu padaku!" Yudha melayangkan tatapan tajam. Hingga membuat Ben merasa bergidik ngeri dan terancam. Semua orang pun tampak serius menanggapi perilaku Yudha. Namun Yudha langsung sadar terhadap suasana mencekam itu. Dia berusaha sebisa mungkin menahan amarahnya.
"Haha! kenapa kalian sangat serius, aku hanya bercanda!" lanjut Yudha seraya menepuk-nepuk pundak Ben. Semua orang sontak tergelak bersama. Apalagi Ben, dia merasa lega Yudha tidak benar-benar marah kepadanya.
"Ya sudah, aku mau ke toilet!" ungkap Yudha seraya berlalu pergi dengan wajah cemberut. Dia ingin menjauh dari ketiga cecunguknya untuk sementara. Kadang jika dia terus memaksakan diri, Yudha bisa kelepasan begitu saja. Seperti yang terjadi kepadanya tadi misalnya.
Yudha mencari sisi sepi sekolah, jujur dirinya seringkali merasa lelah karena terus-terusan berlagak baik. Dan tempat hening mampu menenangkan pikirannya sejenak.
Yudha berjalan menuju arah gudang tempat dirinya dan Elisha tempo hari berada. Tanpa diduga dia menyaksikan kehadiran seorang gadis di sana. Gadis itu tampak termenung duduk di lantai dan menyenderkan badannya ke dinding. Sebilah rokok yang menyala terpaut di sela-sela jarinya.
Yudha melebarkan matanya, karena gadis yang dilihatnya ternyata adalah Elisha. Yudha sontak tersenyum tipis, kemudian memposisikan diri duduk di samping Elisha. Dia juga sengaja merebut rokok yang sedang dipegang Elisha.
"Eh!" Elisha kaget melihat kehadiran Yudha. Apalagi lelaki itu berhasil memergoki dirinya melakukan hal yang tabu bagi seorang perempuan. Yaitu merokok.
"Yudha?" Elisha mengerutkan dahi.
"Pilihanku benar, kau satu-satunya orang yang bisa aku percaya di sekolah ini. Kau bahkan tidak menyebarkan gosip apapun tentangku setelah apa yang terjadi di gudang!" celetuk Yudha.
Elisha tersenyum dan berkata, "Itu karena aku juga menyukainya."
"Apa?" Yudha memastikan.
"Sentuhanmu, aku menyukainya." Elisha berterus terang. Yudha yang mendengar lantas tergelak sejenak.
"Terima kasih El, kau berhasil memperbaiki mood burukku." Yudha mengaitkan rambut Elisha ke telinga. "Aku tahu kau gadis yang cantik, bahkan lebih menawan dari Dea. Kau hanya malas bersolek!" tambahnya.
"Thanks," respon Elisha sambil menoleh ke arah Yudha. Dia sedikit salah tingkah, pipinya tiba-tiba menjadi merah merona. Gadis tersebut seketika melupakan sikap kasar Yudha kemarin, akibat termakan kalimat rayuan.
"Datanglah ke pesta ulang tahunku malam ini El!" ujar Yudha.
"Benarkah? kau mengundangku?" Elisha tak percaya. Dia langsung mendapat jawaban dari anggukan Yudha. Gadis tersebut terlihat tak kuasa menahan kebahagiaannya.
"Sudah! jangan cengengesan terus, aku jadi ilfil!" kritik Yudha sembari meringiskan wajah. Elisha pun langsung merubah ekspresinya menjadi datar.
"Kau masih tinggal di panti asuhan Pelita kan?" tanya Yudha.
"Iya."
"Nanti sopirku akan menjemputmu. Aku yakin kau akan kewalahan pergi ke rumahku sendirian."
"Tidak perlu Yud, aku bisa naik angkutan umum."
"Ya sudah, terserah!" Yudha segera mengalah.
"Kenapa kau tidak bersikeras?" Elisha mendengus kasar.
"Pffft! aku bukan orang yang suka memberi kesempatan kedua!" terang Yudha sambil mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulutnya.
"Cewek nggak bolek ngerokok!" ujar Yudha sembari menjauhkan rokok dari jangkauan Elisha.
"Nggak usah bicara tentang gender," sahut Elisha yang cemberut.
"Ya sudah, nih!" Yudha menyerahkan rokok kepada Elisha.
"Sampai jumpa malam ini!" kata Yudha seraya bangkit untuk berdiri. "Oh, iya! bersoleklah untukku El!" tambahnya lalu benar-benar beranjak pergi.
...***...
Acara yang ditunggu-tunggu telah tiba. Rumah Yudha sudan didekorasi seindah mungkin. Konsep gatsby yang menawan menambah kemegahan rumah. Hanya tinggal dua jam lagi menunggu acara dimulai.
Ding Dong!
Bel terdengar berbunyi, seorang pelayan bergegas membukakan pintu.
"Siapa yang datang terlalu dini?" tanya Yudha dengan dahi yang berkerut. Dia menuruni anak tangga secara perlahan.
"Apa aku terlalu dini?" orang yang terlalu cepat datang itu ternyata Elisha. Dia terlihat sudah rapi dengan gaun yang menurutnya bagus. Namun tampak lusuh bagi Yudha.
"Ya ampun El, bukankah aku sudah menyuruhmu bersolek?" protes Yudha kala menyaksikan tampilan Elisha. Dia menggeleng heran.
"Ada apa Yud?" Rena tiba-tiba datang dari arah dapur.
"Lihat gadis ini Mah!" Yudha menunjuk ke arah Elisha. Rena pun sontak mengamati Elisha dari ujung kaki hingga kepala. Dia langsung menggeleng tak percaya. Selanjutnya wanita paruh baya tersebut hanya tertawa kecil, lalu membawa Elisha ikut bersamanya.
"Serahkan dia kepadaku Yud!" kata Rena sambil melingus pergi.
Sekarang hanya tinggal menunggu acara di mulai. Satu persatu orang mulai berdatangan. Yudha bahkan sudah memakai pakaian rapi. Dia mengenakan kemeja putih dan tuxedo hitam yang dilengkapi dengan dasi berwarna merah maroon. Ia juga tidak lupa memakai topeng yang sudah disiapkan sang ibu. Topengnya hanya menutupi bagian jidat dan hidungnya.
"Tuan, semua teman-temanmu mencarimu." Seorang pelayan mendatangi Yudha.
"Aku akan segera ke bawah!" sahut Yudha yang masih berusaha merapikan bajunya.
Tok! tok! tok!
Suara ketukan pintu terdengar. Yudha lantas segera menoleh ke sumber suara. Dia menyaksikan Elisha di depan pintu. Gadis itu tampak sangat menawan dengan gaun berwarna merah menyala selutut. Rambutnya juga tergerai indah menambah aura kecantikannya. Yudha sempat terkesiap, dia tak menyangka Elisha akan tampak secantik itu.
"Apa benar kau Elisha?" tanya Yudha memastikan. Dia perlahan melepaskan topeng dari wajahnya. Elisha hanya meresponnya dengan senyuman.
"Yudha perlahan mencondongkan wajahnya ke arah Elisha. Kemudian memegangi tengkuk Elisha. Dia berniat mengecup bibir gadis itu lagi. Namun kegiatannya harus terhenti, kala sang ibu tidak sengaja memergoki.
"Ya ampun Yudha!" Rena tak sengaja memergoki sang putra hampir bercumbu dengan seorang gadis. Alhasil Yudha dan Elisha bergegas saling menjauh.
"Ada apa Bu?" Yudha mengernyitkan kening.
"Pesta bahkan belum dimulai, kau sudah beraksi saja." Rena memukul ujung kepala Yudha.
"Aku juga seorang lelaki!" Yudha melakukan pembelaan.
"Maafkan Yudha ya El, dia memang tidak sopan!" Rena berbicara kepad Elisha. Namun Elisha yang sudah terlalu malu hanya terdiam.
"Ibu akan pergi kan?" timpal Yudha kepada Rena.
"Kenapa kau mengusir Ibu?" balas Rena merengut.
"Ayolah Bu, ini kan acara anak muda!"
"Ibu akan berada di kamar saja." Rena segera beranjak pergi.
"Kau kenapa memperlakukan Ibumu begitu?" tukas Elisha.
"Bukankah kau tadi sudah mendengar, kalau ini acara tidak cocok untuknya. Aku bukan anak manja El!" terang Yudha, kemudian meninggalkan Elisha begitu saja.