Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 59 - Season 2 [Tertangkap]


...✪✪✪...


Yudha dan Elisha telah sama-sama mengenakan pakaian. Keduanya sibuk berkutat di meja dapur untuk persiapan makan malam. Tanpa mereka sadari, puluhan polisi sudah mengepung di sekeliling rumah.


Para polisi tidak bodoh. Mereka sengaja datang diam-diam agar bisa melakukan penangkapan dengan lancar. Mereka bahkan rela memarkir mobil jauh-jauh dari lokasi kediaman tersangka.


"Menyerahlah dan jangan bergerak!" sosok polisi tiba-tiba muncul sambil menodongkan pistol.


Yudha dan Elisha sontak terkejut. Keduanya saling bertukar pandang sejenak. Lalu mengangkat tangan ke udara. Lama-kelamaan jumlah polisi kian bertambah. Menyebabkan Yudha dan Elisha tak mampu lagi untuk berkutik.


"Borgol lelaki itu! Dia sudah mencuci otak anakku!" Yanto muncul dari balik pintu. Dia mengeratkan rahang sambil melotot tajam ke arah Yudha.


"A-apa?! Mencuci otak kau bilang?!" Yudha terperangah. Dia membiarkan tangannya diborgol oleh polisi. Mata Yudha membalas pelototan Yanto. Seakan memberikan ancaman. Namun Yanto membuang muka dan lebih memilih menghampiri Elisha.


"El, kamu masih ingat aku kan?" tanya Yanto sembari memegang pundak Elisha. Matanya memancarkan binar nanar penuh akan kepedulian.


Elisha mengangguk lemah. Ia tidak berani menatap Yanto. Elisha menundukkan kepala seolah merasa bersalah. Rasa sayang tentu masih dirasakannya terhadap Yanto dan Mirna.


"Maafkan aku..." lirih Elisha.


"Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah kembali." Yanto tak mampu menahan air mata. Dia segera membawa Elisha untuk ikut dengannya. Tetapi langkah kaki Elisha terhenti saat matanya bertemu dengan mata Yudha.


"Yud!" Elisha baru tersadar kalau Yudha sendirian di borgol. Sementara dirinya tidak.


"A-aku juga bersalah! Kenapa kalian tidak--"


"Ayo, El. Kau lebih baik ikut denganku." Yanto sengaja memotong ucapan Elisha. Kemudian mengajaknya menjauh dari Yudha.


"Yah, aku nggak mau pergi dari Yudha..." ujar Elisha yang mulai menampakkan raut wajah masam.


"Lelaki itu jahat, El. Dia sudah memberimu pengaruh yang buruk." Yanto memberikan nasehat. Namun Elisha justru mendorongnya. Yanto otomatis terhuyung ke belakang. Saat itulah Elisha berlari untuk mengejar Yudha.


Sayangnya usaha Elisah gagal, karena rekan-rekan Yanto dapat menghentikan pergerakannya. Setelah lama bersama, Yudha dan Elisha pada akhirnya berisah.


Di mobil Yudha duduk sembari menggertakkan gigi. Dia dikelilingi oleh lima polisi sekaligus. Polisi-polisi itu sesekali berbisik untuk membicarakan Yudha.


"Woy! Anak muda?! Kenapa anugerah muka ganteng itu disalahgunakan sih?! Harusnya dipakai buat jadi model atau artis kek. Malah jadi pembunuh," cerca salah satu polisi. Dia bernama Hendro, dan kebetulan duduk di depan Yudha.


Setibanya di kantor polisi, Yudha segera mendapat pemeriksaan. Dia tidak perlu di interogasi terlalu lama karena Yudha langsung mengaku. Dirinya tahu, jika mengaku lebih cepat maka hukuman yang dia terima akan semakin ringan. Toh Yudha yakin, para polisi pasti menemukan banyak bukti di basemen.


"Aku terpaksa menjadi pembunuh bayaran. Semuanya kulakukan agar bisa hidup bersama pacarku..." tutur Yudha dengan semburat wajah sendu. Menyebabkan dua polisi yang menginterogasi geleng-geleng kepala.


"Astaga, miris banget aku lihat anak muda zaman sekarang! Kemarin bunuh diri karena ditolak cinta. Ini tega bunuh orang demi cinta. Apaan deh! Hahaha..." komentar Hendro. Dia kebetulan menjadi salah satu polisi yang menginterogasi Yudha.


Yudha menghela nafas panjang. Seringai terukir diwajahnya. Setelah mendapat pemeriksaan fisik, dia segera disuruh mengenakan seragam lapas berwarna jingga. Yudha lantas dimasukkan ke dalam penjara.


"Wah, ada anak baru nih. Ganteng banget bro!" seru seorang lelaki tatoan. Dia bernama Rori. Kebetulan satu lapas bersama Yudha.


"Iya, kalau ada gadis di dalam lapas ini, bisa kalah kita!" sahut Yadi. Teman satu lapas Yudha yang kedua.


Yudha sama sekali tidak hirau. Ia lebih memilih duduk ke lantai. Menyandarkan punggung ke tembok. Kepalanya mendongak sambil memejamkan mata.


"Ditangkap karena apa kamu?!" tanya Rori seraya berjalan ke hadapan Yudha. Dia memasang gaya berkacak pinggang. Namun sekali lagi, Yudha tidak menanggap pertanyaannya.


Rori yang kesal sontak mencengkeram rambut Yudha. Lalu meludahi wajah tampannya itu. Saliva Rori lantas mengenai pipi Yudha.


"Kalau orang nanya itu dijawab! Tuli ya, bangs*at?!" geram Rori.


Yadi yang mendengar hanya cekikikan sendiri. Perutnya yang buncit tampak bergerak akibat tertawa.


Yudha perlahan membuka mata. Kemudian menusap saliva yang menempel diwajahnya. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Hanya berseringai dan berdiri.


"Apa?! Mau nantang ya?!" pungkas Rori dalam keadaan mata yang melotot.


Yudha memperhatikan wajah Rori lebih dekat. Dia memasang ekspresi serius. Hingga di waktu yang tak terduga, jari telunjuknya dimasukkan begitu saja ke salah satu mata Rori. Yudha bahkan sengaja menggunakan kukunya untuk melukai mata Rori.


"Aaarkhh!" Rori memekik kesakitan. Saat itulah Yudha menendang betisnya beberapa kali. Alhasil Rori ambruk ke lantai dalam keadaan memegangi mata yang terluka.


Kini Yudha mencengkeram kerah baju Rori. Dia berkata, "Mau tahu alasanku bisa masuk ke sini? Karena aku ketahuan memenggal kepala seorang lelaki paruh baya. Aku momotong kepalanya dengan gergaji mesin."


Rori menjadi gemetar ketakutan. Hal serupa juga dirasakan oleh Yadi. Keduanya langsung merasa ciut terhadap tindakan gila Yudha.