
...✪✪✪...
Elisha berusaha keras memanjat. Hingga akhirnya dia mampu menggapai pelafon. Tubuhnya yang kurus mampu memasuki lubang berbentuk persegi tersebut.
Kini Elisha hanya perlu mencari jalan keluar. Dia menyusuri atap dengan hati-hati. Pergerakannya terhenti ketika melihat mobil Yanto datang. Untuk sementara Elisha bersembunyi terlebih dahulu.
Setelah memastikan Yanto masuk ke rumah, Elisha bergegas turun dari atap. Dia berpijak dengan hati-hati. Akan tetapi keadaan atap yang licin, harus membuat kaki Elisha tergelincir.
Syut!
Elisha otomatis terjatuh ke bawah. Dua tangannya reflek berpegangan. Posisinya sekarang sedang bergelantungan di atap. Di depannya ada jendela yang berhadapan langsung dengan ruang tengah. Jika Yanto dan Mirna memergokinya. Gagal sudah usaha Elisha untuk melarikan diri.
Elisha memeriksa ke bawah. Jarak tanah dan kakinya cukup jauh. Namun dirinya tidak punya pilihan selain menjatuhkan diri. Lagi pula tangannya mulai lelah berpegangan. Menopang badan dengan tangan tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin akan mudah untuk orang yang sering melakukan olahraga pull up.
Sambil berharap akan keselamatan, Elisha akhirnya melepaskan pegangan. Dia sontak terjatuh ke tanah. Wajahnya meringis kesakitan. Walaupun begitu, Elisha berupaya keras tidak mengeluarkan suara berisik.
...***...
Jumlah rekan Yudha sekarang hanya mencapai sepuluh orang. Dia merasa belum cukup. Apalagi setelah melihat ada banyak polisi di lapas sekarang dirinya berada.
Yudha yang jenius tidak perlu berpikir lama. Terlintas ide cemerlang dalam benak. Tanpa basa-basi, dia segera menghubungi Roy dengan ponsel simpanannya.
"Ada apa, Yud? Kau tenang saja, aku sedang bersiap-siap sekarang," ujar Roy dari seberang telepon.
"Tidak, tidak! Jangan dulu. Aku masih perlu menambah rekan lagi. Aku perlu orang lebih banyak untuk melakukan penyerangan. Polisi di sini cukup banyak!" jelas Yudha.
"Oke, apa rencanamu?"
"Tolong hacking kamera CCTV di ruang kerja furniture tahanan. Tepat di jam 12 siang sampai jam 3 sore. Nanti di sana aku akan menjalankan rencana," ungkap Yudha.
Roy langsung setuju. Dia akan melakukan perintah Yudha di waktu yang sudah ditentukan.
Yudha berseringai. Ia dan teman-temannya akan bersiap untuk kegiatan pembuatan furniture nanti. Kebetulan itu merupakan kegiatan yang dilakukan setiap seminggu sekali.
Sekian jam berlalu. Yudha dan kawan-kawan sudah berada di ruang kerja furniture. Mereka memperhatikan orang-orang yang sibuk bekerja.
"Apa rencanamu?" tanya Rian dengan nada berbisik.
Yudha hanya membisu. Diam-diam dia menengok layar ponsel yang dari bawah meja. Pesan masuk dari Roy sudah diterima. Temannya tersebut memberitahu bahwa CCTV sudah dikuasai olehnya.
"Tutup semua pintu! Pertama-tama, kita akan membidik polisi yang berjaga terlebih dahulu. Kalau para polisi mencoba menghentikan, pukul saja mereka!" titah Yudha sembari menatap tiga polisi yang berjaga secara bergantian.
Madi dan Dimas segera menutup pintu yang ada. Mereka tidak memperdulikan para polisi yang berusaha menghentikan. Keduanya justru melakukan serangan tak terduga kepada ketiga polisi.
"Hei! Apa kau sinting?!" timpal salah satu lapas. Namanya Rizal. Dia merupakan penghuni tahanan teladan. Mungkin dalam beberapa minggu ke depan Rizal akan keluar dari penjara karena memiliki kelakuan baik.
Bagi Yudha berkelakuan baik membuang-buang waktu. Dia tidak mau berharap pada hal omong kosong seperti itu.
"Diamlah! Atau kau akan bergabung dengan mereka!" balas Madi seraya mengarahkan jari telunjuk ke arah Rizal.
Yudha memutar bola mata malas. "Cukup! Bisakah kalian diam dan lihat dahulu apa yang ingin kami lakukan?!" ujarnya dengan suara lantang. Kebetulan posisi ruang kerja furniture berada berjauhan dengan kantor utama. Itu pun dihelat dengan ruang penjara yang entah berapa meter luasnya. Jadi tidak heran Yudha memilih tempat itu untuk mejalankan aksinya.
Yudha berjalan menghampiri tiga polisi yang sudah babak belur akibat dipukuli. Dia menyeret salah satu polisi. Lalu menyuruh Dimas dan Madi untuk memegangi dua polisi yang tersisa.
"Kau mau apakan dia?" tanya Rizal dengan dahi berkerut.
"Paman Rian, tolong nyalakan gergaji bundarnya. Aku ingin memakainya!" kata Yudha.
Rian yang mengerti segera menyalakan listrik. Dia dan lima orang lainnya, bertugas menjaga pintu yang tertutup.
Ngeeeeeeeeng....
Gergaji bundar berputar laju. Yudha lantas merebahkan polisi ke meja dimana gergaji bundar berada. Yudha sengaja menyodorkan leher polisi yang dipegangnya ke arah gergaji bundar.
Polisi yang sering disapa Ali itu berusaha keras lepas dari Yudha. Tetapi dia tidak mampu, karena Yudha dibantu dua orang lain untuk memegangi tubuhnya.
Yudha dengan sengaja menutup mulut Ali. Dia melakulannya agar teriakan Ali tidak menyebabkan keributan.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Tibalah Ali harus menemui ajalnya. Gergaji bundar menyayat area lehernya. Mencipratkan bulir-bulir darah segar yang banyak.
Yudha tersenyum puas sampai memperlihatkan deretan gigi-giginya yang rapi. Cairan merah berbau anyir bahkan sedikit mengenai giginya tersebut.
Bruk!
Kepala Ali otomatis jatuh ke lantai. Menggelinding dan berhenti tepat di kaki Rizal.
Beberapa penghuni tahanan ketakutan bukan kepalang. Terutama para tahanan yang memang bukan berasal dari kalangan penjahat. Mereka tentu tidak biasa menyaksikan apa yang diperbuat oleh Yudha.
"Jangan berisik! Kalau ada yang berteriak atau meminta pertolongan, maka dia akan menjadi korban selanjutnya!" ancam Yudha sambil mengusap kasar wajahnya. Kini wajah tampannya agak berwarna kemerahan. Karena darah tidak semudah itu dapat dibersihkan.
"Selanjutnya, Paman Rian! Kamu bisa memberi pelajaran kepada dua polisi lainnya!" perintah Yudha.
Tanpa pikir panjang, Rian segera menyeret salah satu polisi yang tersisa. Lalu memotong kepalanya persis seperti cara Yudha tadi. Sekarang kepala yang menggelinding di lantai bertambah satu. Namun Rian belum selesai menghabisi satu polisi lagi.
Ngeeeeeng! Bruk!
Gergaji bundar bekerja sangat baik. Tajam dan tanpa ampun. Kini sudah ada tiga buah kepala utuh bertebaran di lantai. Darah juga membanjiri hampir separuh ruangan.
..._____...
Catatan Author :
Maaf lama nggak up guys, aku lagi mikir bikin ending season dua ini. Soalnya sebentar lagi kemungkinan akan tamat. Kebetulan aku bingung sama dua pilihan dalam kepalaku. Hehe...
Makasih buat yang masih setia. Love you!