
...✪✪✪...
Yudha perlahan melangkah mendekati Mbok Lastri. Matanya memancarkan binar licik. Seakan ada iblis bersemayam di sana.
"A-apa yang kau lakukan?!" ujar Mbok Lastri, yang sudah terpojok ke pagar balkon. Di belakangnya hanya ada jurang beraspal yang sedang dipenuhi kesibukan alat transportasi.
"Dor!" ujar Yudha, sengaja menakut-nakuti Mbok Lastri. Dia mengarahkan pecahan botol nan runcing.
Mbok Lastri tersentak kaget. Tangannya mulai gemetar ketakutan. Apalagi kini Yudha berada tepat di hadapan Mbok Lastri. Masih dengan senyuman tak berdosanya.
"Naiklah ke atas pagar," suruh Yudha pelan. Perintahnya tentu ditolak oleh Mbok Lastri. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala beberapa kali.
"CEPAT! Atau kau ingin luka dari kaca botol ini?" geram Yudha, mendesak.
Karena tidak punya pilihan lain, Mbok Lastri akhirnya menuruti suruhan Yudha. Dia sekarang naik ke atas pagar. Menyaksikan ketinggian yang langsung membuat tubuhnya berkeringat dingin. Perlahan dirinya mencoba membalikkan badan ke belakang, tetapi belum sempat berbalik, Yudha sudah mendorongnya lebih dahulu.
Mbok Lastri kehilangan keseimbangan. Dia terjatuh ke udara dan tidak tertolongkan lagi. Dalam selang beberapa detik tubuhnya menghantam aspal di bawah. Langsung mengeluarkan cairan merah yang segar dan berbau anyir. Tengkorak kepalanya pecah dan mengeluarkan otak yang bercampur dengan darah.
Setelah mendorong Mbok Lastri, Yudha berjalan santai menuju pintu. Dia bahkan sama sekali tidak berniat menengok keadaan Mbok Lastri. Yudha mengibaskan tangannya seakan baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
Kabar kamatian Mbok Lastri menghebohkan penghuni gedung apartemen dan juga sekitarannya. Polisi segera melakukan penyelidikan. Memeriksa penghuni-penghuni apartemen yang akhir-akhir ini ditemui Mbok Lastri. Mereka ingin memastikan apakah Mbok Lastri bunuh diri atau tidak.
Bukannya menemukan fakta tentang tersangka, polisi malah mendengar kenyataan tak terduga. Sebab banyak penghuni yang mengatakan kalau Mbok Lastri sering menganiaya anak perempuannya sendiri. Selain itu, Mbok Lastri adalah sosok yang suka menyebarkan rahasia pribadi orang. Beberapa minggu lalu Mbok Lastri berhasil mengusik seorang janda. Akibat merasa terganggu, janda tersebut kini sudah pindah dari apartemennya.
Yudha melangkah memasuki lift. Kebetulan dia bertemu dengan dua polisi penyidik di sana. Dia tersenyum dan menutup mulutnya. Dia sengaja memasang headset di kedua telinganya. Memanggut-manggutkan kepala seolah benar-benar mendengarkan musik favoritnya. Padahal tidak ada musik yang terputar.
"Menurutmu Mbok Lastri dibunuh oleh seseorang?" bisik polisi berkumis kepada rekannya yang mengenakan jaket merah. Dia berani bicara karena tahu Yudha asyik mendengarkan musik, dan pasti tidak akan mendengar pembicaraan pentingnya.
"Mungkin. Tetapi terlalu banyak kandidat yang memiliki motif untuk membunuhnya. Bukankah penyelidikannya akan memakan waktu yang panjang?" polisi berjaket merah balas berbisik.
"Ya, melelahkan. Kita akhiri saja sebagai kasus bunuh diri, CCTV pun membuktikan kalau Mbok Lastri pergi sendirian menuju balkon atap," respon si polisi berkumis.
"Nah itu. Aku lapar sekarang, lebih baik kita cepat-cepat mengisi perut!" sahut polisi berjaket merah tersebut. Selanjutnya pintu lift perlahan terbuka. Kedua polisi segera keluar lebih dahulu.
Yudha menatap tajam punggung dua polisi di depannya. 'Sudah kuduga. Sulit menemukan polisi yang bekerja dengan gigih,' ujarnya dalam hati. Yudha pun berjalan menuju parkiran basement. Bergegas pergi ke kampus. Kebetulan hari ini adalah hari pertama ospek jurusan. Dia dan teman-teman seangkatannya akan bermalam di kampus.
Setibanya di tempat tujuan, Yudha melihat semua teman-temannya sudah berbaris. Dia jelas datang terlambat. Akan tetapi Reyhan senang mengetahui kenyataan tersebut.
"BERHENTI DI SANA!" titah Reyhan. Dia menyalangkan mata.
Yudha sontak menghentikan langkahnya. Menundukkan kepala dengan topi yang terpasang, dan berhasil menutupi wajahnya.
"Baru juga acara pembukaan, sudah terlambat kamu ya!" Reyhan sekarang berada di depan Yudha. Memukul kasar topi Yudha, hingga menjatuhkan benda penutup kepala itu. Dia menyuruh Yudha berjongkok seraya memegang kedua kupingnya.
"Maaf Kak. Perut saya tiba-tiba sakit. Saya harus ke toilet." Yudha berdiri, lalu memegangi bagian perutnya. Dia tentu saja berkilah. Yudha tidak akan mau melakukan hal remeh seperti yang diperintahkan Reyhan.
"Oh gitu. Ya udah, berak di sini aja gimana?" balas Reyhan, merasa tak percaya dengan alasan Yudha. Membuat bibir Yudha tanpa sengaja mengukir seringai.
"Malah senyum kamu ya! Sialan!" Reyhan mendadak melayangkan tendangan ke dada Yudha. Dia kesal menyaksikan Yudha malah merespon permainannya dengan senyuman. Perlakuannya itu sontak menyebabkan Yudha terhempas ke tanah.
Mata Yudha langsung melotot tajam ke arah Reyhan. Kedua tangannya mengepalkan tinju.
"Apa?! Apa?! aku kakak tingkatmu ya. Ini masih awal tahu! camkan itu tol*l!" Sekali lagi Reyhan menendangkan kakinya. Dia mengenai betis Yudha.
"Reyhan! gila kamu ya!" salah satu teman Reyhan mencoba mencegah.
"Dia ngelunjak sih!" sahut Reyhan melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri.
"Kita tahu, tapi nggak gini juga sableng!" teman Reyhan yang bernama Joni segera mendorong temannya untuk pergi. "Eh anak baru, mendingan kamu gabung ke barisanmu. Sebelum Reyhan ngamuk lagi!" lanjutnya yang kini berbicara kepada Yudha.
Yudha lantas melangkah menuju barisan teman-temannya. Namun sebelum itu, sebuah tangan mencegat pergerakannya. Ternyata dia adalah Erin, kakak tingkat perempuan yang tampilannya terlihat tomboy. Potongan rambutnya pun sangat pendek. Menyerupai potongan rambut lelaki pada umumnya.
"Habis sudah kau nanti jurit malam!" pungkas Erin. Kemudian melepaskan lengan Yudha seraya tergelak kecil.
Yudha sekarang masuk dalam barisan teman-teman seangkatannya. Matanya segera tertuju dimana Elisha berada. Dia berhasil memergoki gadis itu curi-curi pandang ke arahnya sedari tadi. Yudha tahu Elisha masih peduli kepadanya. Akan tetapi Yudha mencoba tak peduli.
"Yud, kamu nggak apa-apa?" tanya Okan khawatir.
"Sakit nggak? Kak Reyhan sumpah tega banget. Harusnya dia nggak perlu sampai nendang segala," Beni ikut bersuara, namun dengan nada pelan. Dia juga merasa cemas terhadap keadaan Yudha.
"Tenang, aku baik-baik aja," jawab Yudha. Memaksakan dirinya tersenyum. "Kan, jurit malam nanti emang kita mau ngapain?" tanyanya kepada Okan yang berdiri di sebelah. Dia bertanya dengan nada berbisik.
"Biasalah, inisiasi. Biasanya kita disuruh menjelajah dalam gelap, dan kakak-kakak tingkat bakalan ngerjain kita habis-habisan," ungkap Okan memberitahu. Raut wajahnya nampak masam.
"Oh..." respon Yudha. Bola matanya segera di arahkan ke arah kakak-kakak tingkatnya yang tengah asyik berdiskusi. Dalam kepala Yudha sudah terpikir ide cemerlang untuk membalas perbuatan Reyhan.
Barisan dibubarkan sebentar. Yudha dan teman-teman seangkatannya disarankan untuk membangun tenda.
"Yud, kamu nggak papa kan?"
"Aku tadi sebenarnya pengen banget nolongin kamu!"
"Tega banget Kak Reyhan. Sumpah!"
Teman-teman Yudha mendatangi satu per satu. Yudha lagi-lagi hanya bisa memasang senyuman palsu. Menegaskan kalau dirinya memang sedang baik-baik saja.