
...✪✪✪...
Yudha memanfaatkan suasana remang-remang merah dengan baik. Dia membungkuk, karena tangannya hendak mengambil pisau lipat diam-diam disaku celana. Yudha melakukannya dengan mulus. Apalagi posisi berdiri Erin berlawanan dari saku celana dimana pisau Yudha berada.
"Ughhh!" Yudha bergumam kesakitan. Dia menutupi area wajahnya dengan baik. Terutama bagian mulutnya.
"Eh! Jangan berakting ya!" respon Erin. Dia sedikit kaget dengan gelagat Yudha. Perlahan dia membungkuk karena berniat memeriksa keadaan Yudha.
Tanpa diduga Yudha mendadak mencengkeram kedua tangan Erin. Kemudian menyemburkan darah dari mulutnya.
"Aaaaarkkkhhh!!!" Erin sontak berteriak histeris. Sama halnya dengan semua orang yang melihat. Sementara Yudha, masih saja sibuk menyipratkan darah. Parahnya Yudha sengaja menyemburkannya ke wajah Erin. Kakak tingkatnya itu kini sangat ketakutan.
"Maaf Kak..." ucap Yudha pelan. Dia berpura-pura tumbang ke lantai. Seakan benar-benar kesakitan.
"Yudha!" pekik Elisha yang merasa cemas. Dia segera menghampiri. Hal serupa pada akhirnya juga dilakukan oleh Tiara dan yang lain. Mereka mencoba membantu Yudha.
"Sialan, gila!" umpat Erin yang sudah menjaga jarak dari Yudha. Dia masih gemetaran sembari mencoba membersihkan darah di wajahnya.
"Lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit. Aku akan membawanya! Kalian lanjutkan saja proses jurit malam. Aku juga akan panggilkan teman yang lain untuk membantu!" ucap Niken memberi saran. Dia terlihat panik. Apalagi kala menyaksikan linangan darah yang terus keluar dari mulut Yudha.
"Yud, kamu tidak--" ucapan Elisha terpotong ketika Yudha mendorongnya menjauh dengan kasar. Elisha merasa dibuat kaget terhadap respon Yudha kepadanya. Yudha lebih memilih menjawab pertanyaan Tiara dan Damar.
"Maafkan aku--"
"Udahlah Yud, nggak usah mikirin kita. Yang penting kamu cepat-cepat ke rumah sakit gih!" Damar sengaja menjeda perkataan Yudha. Dia merasa kasihan dengan keadaan temannya tersebut.
Niken bergegas mengambilkan tisu untuk mengelap darah yang ada pada Erin dan Yudha. Dia lantas membawa Yudha ke rumah sakit. Sedangkan Erin bergegas berlari ke toilet untuk membersihkan diri. Sekarang hanya Mia dan Fadli yang menangani proses jurit malam di pos satu. Menyelesaikan kegiatan yang dihadapi kelompok Yudha yang tersisa.
Yudha dibawa ke rumah sakit Bima Jaya. Jaraknya hanya sekitar 50 meter dari kampus. Tidak begitu jauh.
Dalam perjalanan Yudha berseringai, rasa sakit dimulutnya seolah tidak terasa. Padahal dia tadi memasukkan pisau diam-diam ke dalam mulut. Kemudian sengaja melukai lidah dan gusinya. Itulah alasan Yudha mampu mengeluarkan darah yang banyak dari mulut. Sebagai mahasiswa jurusan kedokteran dia tentu tahu bagian tubuh mana yang aman dan tidak untuk dilukai.
"Kamu nggak apa-apa kan Yud?" tanya Niken, yang tengah menemani Yudha pergi ke rumah sakit.
"Kalau Kakak sibuk, aku bisa sendiri. Ini cuman luka digusiku aja kok. Memang semenjak kemarin agak bermasalah," ujar Yudha berkilah.
"Enggak Yud, aku akan pastikan kamu sampai ke rumah sakit!" balas Niken memaksa. Tidak lama kemudian dia dan Yudha tiba di rumah sakit.
Luka Yudha di obati oleh seorang Dokter bernama Zain. Sosok yang tidak asing untuk Yudha. Bahkan Zain juga mengenali Yudha. Dia terkejut menyaksikan kehadiran lelaki tersebut.
Karena ada Niken, Yudha meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir. Menyuruh Zain untuk menutup mulut, dan berpura-pura tidak mengenal dirinya.
"Aku sudah baik-baik saja, Kak. Sekarang Kakak bisa kembali ke kampus," saran Yudha pelan.
"Oke, aku tinggalin bentar ya. Nanti aku akan kembali lagi!" kata Niken. "Dok, titip adek saya ya," lanjutnya lagi, yang sekarang bicara kepada Zain. Niken pun berlalu pergi.
Kini tinggal Yudha dan Zain. Mereka duduk saling berhadapan.
"Aku tidak menyangka... Kau masih hidup?" pungkas Zain seraya memegangi pundak Yudha.
Zain adalah putra dari Heru. Dokter yang bertugas membantu ayahnya Yudha ketika di markas. Dokter Heru juga meninggal saat insiden kebakaran terjadi. Makanya Zain sangat senang kala melihat Yudha masih hidup.
"Apa yang terjadi pada mulutmu? Ada luka di lidah dan gusi dekat gigi gerahammu," ucap Zain dengan dahi yang berkerut. Dia memeriksa keadaan mulut Yudha.
"Obati saja dahulu, baru aku akan bercerita," sahut Yudha. Kemudian kembali mengangakan mulutnya lebar. Zain menganggukkan kepala, dan segera melakukan tugasnya.
Setelah disuruh berkumur dan meminum obat, Yudha merasa lebih baik. Dia lantas menceritakan apa yang terjadi, dan sekarang Yudha berniat kembali ke kampus.
"Kamu langsung pergi?" tanya Zain tak percaya.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan!" jawab Yudha. "Aku akan menemuimu lagi nanti," sambungnya.
"Ah benar, apa kau punya obat bius?" Yudha yang tadinya hendak melangkah menuju pintu, berhenti sejenak karena teringat sesuatu. Dia meminta obat bius kepada Zain. Berjaga-jaga kalau dirinya nanti akan membutuhkannya saat menjalankan rencana. Selanjutnya dia bergegas pergi ke kampus.
Yudha berjalan menyusuri jalan dalam kegelapan. Dia sengaja mengenakan hodie bertudung. Semenjak di rumah sakit dirinya sudah melepas almameter universitasnya. Inilah saatnya Yudha melakukan rencananya.
Langkah Yudha semakin pelan saat tiba di lingkungan kampus. Dia terlebih dahulu menghampiri tempat dimana dirinya menyimpan topeng. Mengambil topeng itu, dan menyembunyikan almameternya.
Yudha segera mengenakan topeng curiannya. Kemudian berderap masuk ke dalam gedung dimana kegiatan jurit malam sedang berlangsung.
Awalnya Yudha berjalan dengan cara sembunyi-sembunyi. Dia hendak mengamati keadaan terlebih dahulu. Di pos pertama sudah terdapat kelompok tiga sedang menikmati hidangan Erin. Yudha hanya berlalu melewati pos tersebut.
"Apaan tuh?" salah satu kakak tingkat menyadari gerakan Yudha yang melingus lewat. Dia segera memeriksa keluar dari ruangan. Menengok ke kanan dan kiri. Sementara Yudha telah berhasil bersembunyi dibalik dinding. Persembunyiannya sukses besar.
Yudha berniat berkumpul dengan komplotan kakak-kakak tingkat yang mengenakan topeng. Dia menggerakkan kaki melewati beberapa pos. Dalam jurit malam yang diadakan kakak tingkatnya, terdapat empat pos yang harus dilewati.
Salah satu pos pertama adalah suguhan makanan. Pos kedua berupa permainan yang harus menggunakan kerjasama tim. Pos ketiga merupakan tempat dimana para kakak tingkat bertopeng beraksi. Mereka akan memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan ilmu kedokteran dan bedah. Ruangan tempat mereka berada didesain sangat mirip dengan ruang operasi di rumah sakit. Dilengkapi peralatan bedah. Bahkan mereka mengolesi organ-organ palsu dengan darah binatang. Menyimpannya dalam toples kaca, yang penampakannya terlihat begitu nyata.
Yudha menampakkan dirinya. Dia menghampiri Reyhan yang juga terlihat sudah mengenakan topeng. Yudha bisa tahu kalau lelaki tersebut Reyhan karena sepatu dan jam tangan yang dipakainya. Kebetulan Reyhan sedang sendirian di depan ruangan. Dia asyik memainkan ponselnya.
Perlahan Yudha menepuk pundaknya. Reyhan lantas merespon, "Eh, personilnya ditambah lagi nih?!"
Bukannya menjawab Yudha malah menggunakan bahasa tubuhnya. Mengajak Reyhan untuk ikut bersamanya ke suatu tempat.
"Kenapa? Apa kekacauan terjadi lagi?" tanya Reyhan, penasaran. Namun Yudha tetap diam dan malah berjalan memimpin lebih dahulu. Dia berpura-pura sedang tergesak.
Akibat merasa penasaran, Reyhan akhirnya mengikuti Yudha. Mereka berjalan cukup jauh dari ruangan pos tiga.
Yudha mendadak berhenti di depan sebuah ruangan terbengkalai, yang diyakininya adalah gudang.
"Lah, kenapa kamu membawaku ke sini? Kamu siapa? Iwan kan?" Reyhan melayangkan pertanyaan bertubi-tubi. Dia berdiri tepat di belakang Yudha. Saat itulah Yudha tiba-tiba berbalik dan meninju perut Reyhan. Dia kemudian memegangi kedua tangan Reyhan dan menguncinya ke belakang. Yudha menambahkan satu tendangan ke kaki Reyhan. Kakak tingkatnya itu otomatis tumbang.
Yudha segera membawa Reyhan ke dalam gudang. Mengikat kaki dan tangan Reyhan dengan tali. Lalu menukar sepatunya dan memakai jam tangan mahal Reyhan. Tidak lupa juga untuk mengenakan kostum hitam yang membuat seluruh pakaiannya tertutup. Kostum tersebut desainnya seperti jubah, yang panjangnya sampai ke mata kaki.
"Siapa kau?!" geram Reyhan. Topeng masih menutupi wajahnya. Akan tetapi beberapa saat kemudian, Yudha membuka topeng Reyhan.
"Hey! kurang ajar kau! awas... Mmmpphh!" Yudha berhasil menutup mulut Reyhan dengan seutas kain kumal yang kebetulan didapatnya. Kini Yudha telah siap pergi menyamar menjadi seorang Reyhan.