Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 43 - Ke Rumah Yudha


...✪✪✪...


Yudha, Elisha dan Roy telah tiba di klub malam. Mereka sedang berjalan beriringan. Melewati banyaknya orang yang berkerumun. Suara musik yang berdentum langsung menyambut. Lampu-lampu yang ada tentu menyesuaikan ketukan musik. Agak redup dan berwarna-warni.


Elisha yang baru pertama kali menjejakkan kaki ke klub malam, terlihat mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia berjalan mengikuti Yudha.


Dari kejauhan Elisha dapat melihat Joyce dan Alice melambaikan tangan. Elisha lantas memberitahukan Yudha perihal keberadaan kedua gadis itu.


"Kau kenalkan mereka padaku dan Roy. Kita biarkan mereka bersenang-senang terlebih dahulu." Yudha berucap ke telinga Elisha. Suaranya sengaja dilantangkan, karena kerasnya musik begitu mengganggu pendengaran.


Elisha mengangguk, kemudian berderap menghampiri Joyce dan Alice. Kedua gadis tersebut langsung berdiri. Dibanding Elisha, mereka lebih tertarik kepada Yudha.


"Namanya Yudha, dan ada temannya yang bernama Roy." Elisha memperkenalkan. Dia tentu tidak lupa untuk memperkenalkan Joyce dan Alice kepada Yudha serta Roy.


"Bagaimana kalau kita mengobrol terlebih dahulu. Aku akan mentraktir kalian bir!" ajak Joyce bersemangat.


"Ide bagus!" respon Roy dengan senyuman lebar. Lelaki itu mengenakan kaos dan jaket kulit. Sebagian rambutnya masih diwarnai dengan warna merah.


Kini semuanya telah berkumpul di ruangan VIP. Di sana Joyce dan Alice tebar pesona. Terus cerewet dan banyak membicarakan perihal diri mereka sendiri.


"Yudha, bagaimana pertemuan pertamamu dengan Elisha? Bisakah salah satu dari kalian menceritakannya?" tanya Alice seraya menopang dagu dengan satu tangan. Akhirnya dia tertarik untuk bicara mengenai orang lain.


"Kami satu sekolah sejak--"


"Saat kami tidak sengaja menemukan kecocokan satu sama lain. Ketika mengetahuinya, bagiku Elisha sangat istimewa," ungkap Yudha, sengaja memotong ucapan Elisha. Membuat Roy geleng-geleng kepala untuk yang sekian kalinya.


Roy perlahan mendekatkan mulut ke telinga Elisha. Dia berbisik, "Apa Yudha memang sering begitu? Dia terdengar menyebalkan."


"Benar, dia sangat menyebalkan." Elisha membalas. Sekarang dia yang berbisik ke telinga Roy. "Tetapi setiap kali dia mengucapkan hal seperti itu, gadis-gadis pasti bertekuk lutut padanya."


"Termasuk kau bukan?" tebak Roy. Salah satu alisnya terangkat. Elisha segera merespon dengan tatapan tajamnya. Meskipun begitu, dia tidak berupaya membantah.


Joyce hanya tersenyum kecut ketika mendengar cerita Yudha. Dia menatap sinis ke arah Elisha. Saat itulah dirinya berhasil memergoki Roy dan Elisha saling berbisik.


"El, ternyata kau pintar sangat merayu. Harusnya kau pilih salah satu saja. Kenapa diambil dua-duanya," tegur Joyce. Kedua tangannya terlipat didada.


"Tidak apa-apa, Joyce. Biarkan Elisha bersama Roy, dan kita berdua bersama Yudha. Hanya untuk malam ini," usul Alice antusias. Jari telunjuknya mengacung ke atas. Seakan ide yang dikatakannya adalah sesuatu yang brilian. Dia menggerakkan bola mata ke arah Elisha, "Bagaimana, El, Roy? Kalian setuju?" tawarnya.


"Aku--"


"Setuju! Ayo kita ke lantai dansa bersama." Roy menyetujui. Memotong perkataan yang hendak diucapkan Elisha.


"Usulan yang bagus, Roy!" Joyce bangkit dari tempat duduk. Lalu menarik tangan Yudha untuk ikut bersamanya.


Yudha terpaksa mengikuti. Dia sebenarnya tidak rela meninggalkan Elisha bersama Roy.


"Ayo, El. Sebaiknya kita juga bergabung." Roy mengulurkan tangan kepada Elisha. Gadis tersebut tidak punya pilihan selain meraih uluran tangan Roy. Keduanya segera bergabung memasuki lantai dansa. Dimana kerumunan orang akan menari menikmati musik yang disuguhkan DJ.


Joyce mendorong Alice menjauh. Dia memposisikan diri menari di hadapan Yudha. Sengaja bergerak lincah, demi memamerkan lekuk tubuhnya.


Yudha sebenarnya sama sekali tidak tertarik, matanya sedari tadi sibuk mengamati Elisha. Namun dia berusaha fokus, dan mencoba berbaur dengan baik. Agar Joyce dan Alice bisa sama-sama masuk ke dalam jebakan.


Yudha dengan sigap menarik Joyce dan Alice secara bersamaan. Dia merangkul keduanya sekaligus. "Bagaimana kalau setelah puas bersenang-senang di sini, kalian berkunjung ke rumahku," ujarnya. Menatap Joyce dan Alice secara bergantian.


"Aku sebenarnya tidak bisa. Ibuku akan pulang saat tengah malam. Jika dia tahu aku tidak ada, matilah aku!" Joyce menampakkan raut wajah masam. Seakan dirinya sedih karena tidak bisa bergabung.


"Ayolah, Joyce. Hanya malam ini saja, aku yakin ibumu akan paham. Bukankah dia dulu juga pernah muda?" Yudha mendekatkan wajahnya ke arah Joyce. Memohon sembari memasang mimik wajah memelas.


"Yudha, benar. Tidak ada salahnya sekali-kali kau pergi semalaman dari rumah." Alice ikut membujuk Joyce.


Joyce harus membisu sejenak. Dia mencoba menimbang keputusan yang tepat.


Sementara itu Elisha, hanya membeku di tempat. Meski dia berada di lantai dansa. Gadis tersebut sama sekali tidak berminat menari.


"Kau sangat membosankan, El!" komentar Roy.


"Ya, memang benar. Aku tidak akan membantah!" sahut Elisha. Memaksakan dirinya tersenyum. Dia sesekali melirik ke arah Yudha. Parasnya langsung merengut ketika melihat Yudha merangkul Joyce dan Alice secara bersamaan.


"Jika membencinya, lebih baik jangan dilihat," saran Roy seraya menggerakkan badan mengikuti irama musik.


Tidak lama kemudian, Yudha, Joyce dan Alice, ikut bergabung bersama Elisha dan Roy. Yudha segera memberitahukan mengenai kegiatan yang akan dilakukannya setelah puas bersenang-senang. Elisha dan Roy yang sudah mengetahui rencananya, tentu setuju. Alhasil mereka segera pergi ke rumah Yudha.


Setibanya di rumah, Yudha menyuguhkan minuman dan makanan. Dibantu oleh Elisha tentu saja. Keduanya kini sedang berada di dapur. Yudha sibuk membuat minuman, sedangkan Elisha bertugas menyajikan makanan. Kebetulan mereka memesan pizza. Tetapi karena harus mengikuti rencana yang telah disusun, pizza itu harus ditaburi dengan obat bius terlebih dahulu.


"Kau sepertinya sudah akrab dengan Roy," celetuk Yudha. Dia baru saja menuang jus jeruk ke dalam gelas. Menatap Elisha dengan sudut matanya.


"Memangnya kenapa? Kau cemburu?" balas Elisha. Tanpa menoleh ke lawan bicara.


Yudha segera menunjukkan raut wajah serius dan berkata, "Tentu saja aku cemburu. Kenapa kau masih bertanya?"


Elisha mendengus kasar. Sepertinya dia telah muak mendengar gombalan Yudha. "Lama-kelamaan rasa percaya dirimu itu menjadi berlebihan, Yud. Jangan melakukannya lagi saat di depanku," ketusnya. Lalu mencoba melangkah pergi. Akan tetapi, Yudha mendadak menghalangi jalannya. Menyebabkan kaki Elisha otomatis berhenti bergerak.


"Apa kau marah kepadaku?" Yudha menyelidik. Mendekatkan wajahnya ke wajah Elisha. Hidung keduanya lantas saling bersentuhan.


"Yud, ayo kita lanjutkan rencananya." Elisha berusaha tenang. Padahal jantungnya hampir meledak akibat ulah Yudha.


"Hanya satu ciuman, El." Mata Yudha menyorot bibir Elisha yang dipoles dengan lipblam berwarna merah muda. Tangannya memegang pinggul Elisha, kemudian mendorongnya agar bisa lebih dekat.


"Hentikan!" tegas Elisha. Dia mendorong Yudha sekuat tenaga. Kali ini Yudha mengalah. Dirinya hanya mengeratkan rahang kesal dan membuang muka. Berusaha tidak marah kepada Elisha.


"Kita harus fokus pada rencana!" imbuh Elisha. Lalu melajukan langkahnya. Meninggalkan Yudha sendirian di dapur.