Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 56 - Season 2 [Bertemu Orang Tua Elisha]


...✪✪✪...


Zidan sudah sepenuhnya tak bernafas. Yudha lantas mengambil pisau lipat. Kemudian melukai kedua kaki Zidan. Dia melakukannya agar Zidan tidak akan mampu menyelamatkan diri di dalam air.


Akibat larangan Elisha, Yudha menghanyutkan begitu saja tubuh Zidan di sungai. Sedangkan dirinya segera beranjak untuk pulang.


Sebelum kembali ke rumah, Yudha terlebih dahulu ke super market. Di sana dia banyak membeli keperluan makanan. Terutama makanan ringan kesukaan Elisha.


Ketika berada di sekitaran rak buah, Yudha tidak sengaja melihat Mirna. Alias ibu tirinya Elisha. Yudha sontak semakin menutupi wajah dengan topi. Sebelum Mirna berhasil memergoki keberadaan dirinya.


Yudha bergegas mendorong keranjang trolly. Bukannya lepas dari Mirna, dia justru melihat Yanto berjalan mendekat dari arah depan. Alhasil Yudha berbalik dan mengubah arah haluan. Ia berupaya menghindar dari ayah tirinya Elisha tersebut.


Yanto menghentikan derap langkahnya. Dia yang sempat disibukkan dengan panggilan telepon, memusatkan atensinya kepada seorang pemuda. Dia tidak lain adalah Yudha. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia kepolisian, Yanto memiliki insting kuat. Dirinya yakin pemuda yang dia lihat adalah Yudha. Satu-satunya lelaki yang pernah dikenalkan Elisha kepadanya.


Tanpa pikir panjang, Yanto langsung melakukan pengejaran. Dia melewati banyak orang yang memenuhi super market. Mata Yanto tidak teralihkan dari Yudha yang tampak pergi dengan tergesak-gesak.


Yudha tiba di kasir. Ia terlihat melakukan transaksi pembayaran. Namun ponselnya tiba-tiba berdering. Panggilan dari Elisha terjadi bersamaan dengan sapaan Yanto.


"Yudha? Kamu Yudha bukan?" tanya Yanto. Ia sudah berdiri tepat di samping Yudha. Mengarahkan jari telunjuknya ke arah sosok yang dia kira Yudha.


Yudha hanya membisu. Lalu mengambil barang pembelian yang telah dibungkus oleh kasir. Yudha beranjak sambil mematikan panggilan dari Elisha.


Karena terlalu tergesak-gesak, Yudha akhirnya tidak sengaja menabrak seseorang. Hingga salah satu barang bawaannya terjatuh. Beberapa barang otomatis berhamburan di lantai.


Mata Yudha membulat. Dia memutuskan tetap tenang. Setelah dipikir-pikir, Yanto tidak mengetahui apa-apa perihal Elisha. Malah Yanto sendiri yang pernah membohongi Yudha tentang kepergian Elisha.


'Sial? Kenapa aku ketakutan? Jika aku lari, maka ayahnya Elisha akan curiga!' batin Yudha seraya memungut barangnya yang jatuh. Saat itulah Yanto mengambil kesempatan untuk mendekat.


"Biar aku bantu." Yanto berjongkok untuk membantu Yudha.


"Terima kasih..." ucap Yudha. Dia bersikap seakan baru saja memperhatikan Yanto. Perlahan Yudha melepas topinya.


"Paman?" ujar Yudha. Dia mengaktifkan mode akting kelas piala oscar-nya. Jujur saja, sudah lama Yudha tidak melakukannya.


"Sudah kuduga kau Yudha. Aku sangat mengenal perawakanmu. Aku tadi menyapamu, tetapi sepertinya kau tidak mendengar." Yanto membalas sambil menyerahkan barang milik Yudha yang telah rampung.


"Benarkah? Ah... maafkan aku. Akhir-akhir ini aku memang banyak pikiran. Mungkin saat Paman memanggil tadi, aku sedang tenggelam dalam pikiran," ujar Yudha, berkilah.


"Apa kau punya waktu untuk mengobrol. Ayo kita bicara di kedai yang ada di depan. Lagi pula aku harus menunggu Mirna belanja. Dia sering menghabiskan banyak waktu untuk belanja." Yanto memasukkan dua tangan ke saku jaketnya.


Saat itu ponsel Yudha kembali berdering. Dia yakin Elisha pasti kembali menelepon. Akan tetapi Yudha memilih untuk mengabaikan. Dirinya terus melangkah berbarengan bersama Yanto.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Yanto.


Yudha tersenyum dan meminta izin untuk mengangkat telepon. Kemudian berjalan menjauh dari Yanto. Dia segera mengangkat panggilan dari Elisha.


"El, jangan meneleponku sekarang. Ini bukan waktu yang tepat!" kata Yudha.


"Memangnya ada apa? Kau baik-baik saja bukan?" tanya Elisha dari seberang telepon.


"Ya, tentu saja. Aku akan ceritakan nanti. Tunggulah, sebentar lagi aku akan pulang." Yudha mengakhiri panggilan lebih dulu. Dia langsung bergabung bersama Yanto yang telah duduk menunggu.


Yanto terlihat memancarkan tatapan sendu. Dia merasa menyesal membohongi Yudha. Yanto mengira, andai dirinya tidak membohongi Yudha, mungkin Elisha tidak pernah hilang sampai sekarang. Menurutnya, Yudha pasti bisa menjaga Elisha saat di Sydney.


"Kenapa Paman menatapku begitu? Apa ada yang salah?" tanya Yudha yang baru saja menyesap kopi.


"Tidak ada. Aku hanya teringat dengan Elisha," sahut Yanto.


Yudha kembali berlagak. Dia memasang raut wajah heran dan menanyakan apa yang terjadi. Seolah tidak tahu tentang kabar menghilangnya Elisha. Yanto lantas memberitahukan bahwa Elisha sudah menghilang selama berbulan-bulan.


"A-apa? Paman bercanda bukan? Memangnya dia menghilang dimana?" Yudha membelalakkan matanya.


"Di Sydney. Hal terakhir yang Elisha berikan hanya secarik kertas. Di kertas itu dia mengatakan kalau dirinya telah memilih jalan hidupnya sendiri." Yanto bercerita.


'Ya, karena dia memilihku...' Yudha menyahut dalam hati. Dia menyembunyikan wajahnya demi mengukir seringai kecil.


"Aku turut sedih. Jika dia mengirim surat kepada Paman, itu berarti Elisha baik-baik saja." Yudha mencoba menenangkan Yanto.


"Maafkan aku, Yudha. Aku sudah membohongimu terakhir kali. Saat itu aku mengatakan kalau Elisha pergi ke Paris, tetapi sebenarnya dia pergi ke Sydney." Yanto menampakkan ekspresi menyesal.


Yudha tersenyum tenang. "Tidak apa-apa. Toh aku tidak senekat itu untuk mencari Elisha ke luar negeri. Aku merelakannya semenjak dia mencampakkanku," tuturnya. Memasang semburat wajah tak berdosa. Penuh akan muslihat.


"Syukurlah kalau begitu..." tanggap Yanto lirih.


'Syukurlah bacotmu! Untung saja pas di bandara aku mendengar istrimu bicara di telepon. Jika tidak, mungkin aku sudah kesasar di kota Paris.' Yudha menggerutu dalam hati. Diam-diam matanya mendelik ke arah Yanto. Selanjutnya, dia segera berpamitan untuk pulang.


"Yudha? Kamu Yudha bukan?" tepat sebelum pergi, Mirna justru datang. Membuat Yudha terpaksa harus kembali meladeni. Berpura-pura memang adalah sesuatu yang sangat menyusahkan.