
...✪✪✪...
Setelah puas menghabisi rambut Joyce dan Alice, Yudha langsung melempar gunting ke lantai. Dia sekarang mempersilahkan Roy untuk melakukan gilirannya.
Belum sempat Roy melakukan sesuatu, Elisha justru lebih dahulu menyerang salah satu tawanan. Gadis itu menancapkan pisaunya beberapa kali ke dada Joyce.
Jleb!
Jleb!
Jleb!
"Aaaarkhhh! Aku sudah tidak tahan lagi!" pekik Elisha histeris, sembari terus menghujamkan pisau ke badan Joyce. Cairan merah otomatis bercipratan kemana-mana. Bahkan ke wajahnya sendiri.
Yudha dan Roy mematung kala menyaksikan apa yang dilakukan Elisha. Mereka membiarkan gadis tersebut berbuat sesuka hati.
"Aku tidak menyangka dia akan segila ini," komentar Roy. Terpaku dengan apa yang dilakukan Elisha. Wajahnya dan wajah Yudha harus ikut terkena bulir-bulir darah milik Joyce.
"Biarkan saja. Lagi pula, dua tawanan ini memang sepenuhnya adalah urusannya." Yudha berbicara tanpa menoleh ke arah Roy.
Alice menangis sejadi-jadinya saat melihat temannya dihujam puluhan kali dengan pisau. Badannya gemetaran ketakutan. Jantungnya berdetak tak teratur. Bahkan peluh bercucuran membasahi hampir seluruh pakaiannya.
Elisha berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Dia yang telah melampiaskan amarahnya sedikit merasakan adanya kepuasan. Dirinya membeku untuk sesaat.
Yudha perlahan mendekatkan mulut ke telinga Elisha. Kemudian berbisik, "Kami akan pergi saja. Aku yakin kau bisa melakukannya sendirian."
Elisha tidak menjawab Yudha dengan satu patah kata pun. Dia membiarkan Yudha dan Roy beranjak pergi dari basement. Kini gadis itu menatap lurus ke arah Alice. Tangannya bergegas melepas topeng yang sedang dipakainya. Apa gunanya topeng tersebut dipakai, jika pada akhirnya tawanannya akan mati.
Alice tidak terkejut ketika menyaksikan Elisha. Dia memang sudah bisa menduga, kalau tiga orang yang menyekapnya sekarang, adalah orang terakhir yang ditemuinya.
Elisha tidak mengatakan apapun. Dia tetap pada reputasinya. Yaitu diam dan hanya memasang raut wajah datar yang tak dapat diartikan. Dibilang ancaman pun bukan.
Kain yang membekap mulut Alice dilepaskan Elisha secara perlahan. Bukannya memohon ampun, Alice malah meludahkan air liurnya ke wajah Elisha.
Elisha mengelap pipinya yang terkena serangan saliva dari Alice. Matanya bergetar. Amarahnya otomatis kembali membuncah. Dia mengeratkan rahang kesal. Tanpa ba bi bu, gadis itu langsung menusukkan pisaunya. Dia tidak membidik dada, melainkan mulut Alice. Rupanya perlakuan buruk yang sempat dilakukan Alice tadi, membuat Elisha menyalahkan mulut milik tawanannya itu.
Di sisi lain, tepatnya di ruang tengah. Yudha dan Roy sudah berganti pakaian dan membersihkan diri. Ritual yang disusun Yudha harus gagal dilakukan. Karena Elisha mendadak melakukan hal yang tak terduga. Walaupun begitu, Yudha dan Roy sama sekali tidak marah. Mereka justru heran sekaligus kagum dengan kegilaan Elisha.
"Aku tidak menyangka... aku benar-benar tidak..." entah sudah berapa kali Roy menggeleng tak percaya. "Kau tahu, Elisha benar-benar terlihat seperti gadis polos dan baik," lanjutnya lagi.
"Benar, aku awalnya juga sepertimu. Hampir tidak percaya dengan jati diri Elisha. Menurutku jati diri sebenarnya gadis itu adalah yang barusan kita lihat tadi. Sedangkan sikapnya selain itu, hanyalah keraguannya belaka." Yudha menyimpulkan. Sebab setelah dirinya mengamati gelagat Elisha dari dulu hingga sekarang, sikap menonjol dari gadis tersebut adalah sesuatu yang cenderung berkaitan dengan kekerasan dan obsesi. Tetapi Yudha malah menyukai sisi Elisha yang itu.
"Sepertinya kau tidak salah memilih gadismu," ucap Roy seraya mengambil sebilah rokok. Lalu menyalakannya dengan pemantik. Dia meraih benda favoritnya. Yaitu laptop. Meskipun barang tersebut milik Yudha, dia menggunakannya seperti miliknya sendiri.
Roy memeriksa laman dark web. Dan dia menemukan sesuatu yang mengejutkan di sana. Sebab akun dari laman Snake Eyes, alias Mata Ular, mengirimkan pesan pribadi kepada Yudha.
"Mereka mau bertemu denganmu lusa. Lihat! Mereka bahkan mengirimkan alamat lengkapnya!" Roy memperlihatkan pesan yang dikirim pemilik akun yang bernama Snake Eyes tersebut.
"Lusa?" Yudha sontak terkejut. Dahinya mengerut heran. Dirinya tentu bertanya-tanya kenapa waktunya ditentukan secara tiba-tiba.
Yudha tidak lupa untuk membaca baik-baik alamat yang tertera. Dia hanya bisa mengusap kasar wajahnya, ketika alamat yang tertulis berada di kota Bima Jaya, kampung halaman Yudha sendiri.
"Jika menurutmu mencurigakan, lebih baik jangan pergi." Roy memberikan saran. Dia menatap Yudha dengan sudut matanya.
"Masalahnya waktu yang mereka tetapkan lusa. Aku punya waktu yang sangat sedikit untuk memutuskan!" Yudha memegangi bagian dagunya dengan satu tangan. Mencoba berpikir keras demi bisa mendapat pilihan yang tepat. Saat itulah Elisha muncul dari balik pintu basement. Wajah dan bajunya basah akan darah. Rambutnya pun lepek akibat cairan merah berbau amis itu.
"El!" panggil Yudha sembari berdiri. Kemudian menghampiri Elisha. Dia berniat memberitahukan letak kamar mandi. Selanjutnya Yudha kembali duduk bergabung bersama Roy. Mereka melanjutkan pembicaraan mengenai kepergian Yudha untuk bergabung ke komplotan mafia Mata Ular. Elisha yang dapat mendengar pembicaraan itu dari kamar mandi, bergegas membuka pintu. Padahal darah disekujur badannya belum dibersihkan.
"Kau akan pergi?!" timpal Elisha dengan ekspresi serius.
"Yudha masih--"
"Aku pikir begitu." Yudha sengaja memotong ucapan Roy. Pernyataannya kepada Elisha memanglah keputusan akhirnya. Semuanya tampak tergambar jelas dari raut wajahnya yang seakan penuh tekad.
Elisha membisu, dia memutar tubuhnya. Lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi. Dia sebenarnya berupaya mencari jalan agar dirinya bisa ikut bersama Yudha.