
...✪✪✪...
Yudha kembali pulang dengan aman. Tidak ada satu orang pun yang mencurigainya. Sebab semua orang mengira, Yudha ada di rumah sakit ketika insiden jurit malam terjadi. Persaksian Zain sebagai dokter yang menjaga, juga menjadi bukti kuat ketidakterlibatan Yudha.
"Bisakah kau mencari pembuat topeng ini? Aku yakin dia pasti juga menerima pesanan dari Mr. A!" ucap Yudha sembari menyodorkan topeng curiannya kepada Deny.
"Dari mana kau mendapatkannya?" balas Deny.
"Tidak penting dimana aku mendapatkannya. Yang terpenting sekarang adalah menemukan siapa dan dimana Mr. A." Yudha terdiam sejenak, telintas nama Anton dalam kepalanya. "Oh ketahui satu lagi. Temukan Anton, aku penasaran dengan apa yang terjadi kepadanya," sambungnya. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Deny segera melaksanakan tugas yang diberikan Yudha.
Dua minggu berlalu. Yudha menjalani kuliahnya dengan baik. Sementara Reyhan dikabarkan masuk penjara. Semua bukti hanya tertuju kepadanya. Dari CCTV, saksi, bahkan senjata. Berita hebohnya mengenai insiden jurit malam sudah semakin mereda.
Yudha sekarang ada di kampus, menikmati makan siang bersama Okan dan Beni. Ada beberapa teman baru juga ikut bergabung. Seperti saat SMA, lagi-lagi Yudha menjadi salah satu orang yang populer.
Dari kejauhan, terlihat Fevita tengah melambaikan tangannya. Dia tersenyum lebar. Kabar kedekatan Yudha dan gadis itu sudah menyebar. Terutama ke telinga Elisha.
Elisha sedang duduk makan sendirian. Sejak masuk kuliah, dia masih belum juga memiliki teman. Atensinya hanya tertarik untuk memperhatikan Yudha. Dia sangat kesal dengan keberadaan Fevita yang kabarnya telah menjadi pacar Yudha. Kini Elisha tengah mengamati Fevita. Tatapannya berubah menjadi sebal, saat menyaksikan Fevita duduk di sebelah Yudha. Kemudian menyuapkan sesendok makanan ke mulut Yudha.
"Elisha kan?" suara bariton seorang pria menyadarkan Elisha dari keterpakuan.
"Eh, iya." Elisha bangkit dari tempat duduk. Kemudian sedikit membungkukkan badan. Dia melihat ada Pak Arsyad sudah berdiri di hadapannya.
"Elisha, ada yang harus aku beritahukan kepadamu. Ini mengenai nilai akademikmu," tutur Pak Arsyad. Dia merupakan dosen pembimbing akademik Elisha.
"Ada apa, Pak?" tanya Elisha. Matanya mengerjap pelan. Sebab dirinya merasa sedikit ciut. Elisha sadar, nilai-nilai yang dimilikinya tidak begitu memuaskan untuk bisa menempuh Pendidikan Kedokteran. Jujur saja, ayah dan ibu tirinya mengeluarkan banyak uang, agar Elisha bisa berkuliah di Pendidikan Kedokteran.
"Elisha, aku ingin kau belajar lebih giat. Sering-seringlah baca buku, atau kursus privat. Jika kemampuanmu terus begini, aku tidak yakin kau bisa menjalani Pendidikan di bidang kedokteran dengan lancar." Pak Arsyad memberkan saran.
"Baik, Pak. Saya akan berusaha lebih baik lagi." Elisha bicara sambil menundukkan kepala.
"Aku mengatakan hal ini, karena aku tidak mau kau putus asa dengan mimpimu. Menjadi dokter itu adalah tugas yang mulia," ujar Pak Arsyad sembari menepuk pelan lengan Elisha. Lalu beranjak pergi.
Mimik wajah Elisha semakin masam ketika banyak pasang mata yang menatapnya sinis. Seolah ketidakmampuan akademik yang dimilikinya adalah kesalahan besar. Gadis tersebut lagi-lagi hanya bisa menundukkan kepala.
Yudha tidak ingin peduli lagi dengan Elisha. Dia tidak akan mengusik gadis itu lagi. Sedangkan hubungannya dengan Fevita, hanyalah dianggapnya permainan. Yudha hanya memanfaatkan gadis tersebut sebagai pemuas kebutuhan seksualnya.
Waktu menunjukkan jam 13.35, Yudha dan Elisha menjalani kuliah gabungan. Tempatnya sendiri dilaksanakan di aula rumah sakit Bima Jaya. Kebetulan Jurusan Ilmu Bedah digabung bersama Jurusan Kedokteran Gigi. Jadi, Fevita juga berada di sana.
Yudha tiba-tiba muncul dari sebuah ruangan. Dia bergegas menyeret Fevita untuk ikut bersamanya. Gadis itu sontak memisah dari gerombolan. Tanpa sepengetahuan siapapun. Kecuali Elisha, dia kebetulan melihat adegan tersebut dari kejauhan.
"Yud, kau membawaku kemana?" tanya Fevita dengan wajah cengengesan. Dia semakin kegirangan ketika Yudha membawanya ke tempat sepi. Di sebuah ruangan kosong, yang dipenuhi ranjang beroda tak terpakai.
Yudha memojokkan Fevita ke dinding. Tanpa sepatah kata pun, dia langsung mencium bibir gadis itu. Dengan penuh gairah dan semangat. Tangan nakalnya mengedar ke setiap jengkal tubuh Fevita. Membuat darah di sekujur badan Fevita otomatis berdesir hebat. Satu lenguhan pelan langsung keluar dari mulutnya. Fevita memejamkan mata seakan begitu menikmati sentuhan Yudha.
Dari balik pintu, ada sepasang mata yang mengamati aktifitas Yudha dan Fevita. Satu-satunya orang yang berhasil menyaksikan mereka pergi memisah dari gerombolan. Siapa lagi kalau bukan Elisha.
Tangan Elisha mengepalkan tinju. Saking kesalnya, tubuhnya bahkan bergetar. Dia merasa sangat cemburu. Dalam pikirannya, Yudha hanyalah miliknya. Lelaki itu sama sekali tidak tahu seberapa besar rasa suka Elisha. Dari mulai melindunginya dari polisi, menyerahkan keperawanannya dan masih ada lagi yang tidak diketahui oleh Yudha.
Karena ingin menghentikan kegiatan Yudha dan Fevita, Elisha mengambil sebuah batu. Kemudian melemparkannya ke kaca jendela dimana Yudha dan Fevita berada. Ulahnya tersebut tentu berhasil menghentikan aktifitas intim Yudha.
"Apa itu?! Apa ada orang sakit jiwa yang marah?!" tanya Fevita yang merasa terkejut. Sedangkan Yudha hanya diam. Dia melangkah keluar dan memeriksa keadaan. Dirinya awalnya mengedar pandangan ke segala arah. Akan tetapi, Pupil matanya langsung membesar, saat menyaksikan Elisha muncul dari balik dinding.
Yudha berseringai. Lalu segera menoleh ke arah Fevita. "Kita lebih baik kembali bergabung dengan teman-teman. Kau duluan saja, biar aku mengurus kekacauan ini!" titahnya. Fevita pun langsung melakukan perintahnya. Lagi pula gadis itu tampak sangat ketakutan. Kelihatan dari kelajuan larinya, yang seolah ingin lekas-lekas pergi keluar dari ruangan.
Yudha menghampiri Elisha ketika Fevita telah menghilang dari penglihatannya.
"Kau kenapa?!" timpal Yudha seraya mengangkat dagunya sekali.
"Kau yang kenapa, dasar brengsek!" Elisha mendorong Yudha dengan kasar. Entah kenapa kali ini kekuatan gadis itu berhasil membuat Yudha sedikit terhuyung. Sepertinya kemarahan yang dirasakannya sangatlah membara.
Elisha menggertakkan gigi sambil melinangkan cairan bening dari sudut matanya. Wajahnya memerah padam karena pitam yang memuncak. Sementara Yudha terperangah akan sikap Elisha yang dia rasa berlebihan.
"Apa kau tahu?! Demi dirimu aku membunuh Anton!" Elisha mencengkeram kerah baju Yudha. Dia berbicara dengan penuh penekanan, namun terdengar pelan.
Mata Yudha terbelalak saat mendengar pengakuan Elisha. Dia tidak menyangka, gadis yang selama ini dianggapnya pendiam dan polos, ternyata berani membunuh seseorang.
"Apa kau bilang?!" Yudha memastikan. Dia menatap serius.
"Aku sudah membunuh seseorang... Aku terpaksa melakukannya, karena dia bersikeras ingin melaporkanmu ke kantor polisi..." lirih Elisha, disela-sela isak tangisnya.
"Bagaimana cara kau membunuhnya?" Yudha perlahan memegangi dagu Elisha. Mendongakkan kepala gadis tersebut. Hingga dapat saling bertatapan dengannya.
Bukannya menjawab, Elisha malah menggeleng dan berucap, "Kau tidak akan membenciku karena ini kan..." Dia menatap penuh harap kepada Yudha. Sebab Elisha sadar apa yang sudah dilakukannya adalah hal tidak wajar.