
...✪✪✪...
Yudha membawa Fevita masuk ke dalam apartemennya. Dia yang tadinya memimpin jalan lebih dahulu, mendadak berbalik badan. Kemudian menghampiri Fevita. Yudha memojokkan gadis itu ke dinding.
"Yudha, apa yang kau lakukan?!" timpal Fevita. Dia agak terkejut dengan perlakuan Yudha.
"Aku tahu sejak awal kau menginginkan ini bukan?" kata Yudha seraya mengukir seringai.
"Bu-bukan begitu... aku hanya..." Fevita kebingungan harus berkata apa. Dia menenggak salivanya sendiri karena merasa mulai gugup. Yudha sangat dekat dengannya. Membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Yudha mencoba mendekatkan mulutnya ke bibir Fevita. Namun gadis itu menghentikan pergerakan Yudha. "Aku bersedia melakukannya jika kau mau menjadi pacarku!" ucapnya menegaskan. Ekspersi wajah Fevita seketika berubah menjadi serius. Seolah dirinya mampu membuang kegugupannya dengan mudah.
"Pffft! hahahaa!" Yudha tegelak mendengar perkataan Fevita. Menyebabkan dahi Fevita sontak mengerut bingung.
"Kau kenapa tertawa? aku serius!" imbuh Fevita sambil menghentakkan salah satu kakinya.
"Lucu bagiku Fev. Syaratmu itu..." Yudha sengaja tidak melanjutkan kalimat akhirnya. Dia meneruskan ucapannya dari dalam hati, 'Sangat murahan.'
"Kenapa dengan syaratku?" timpal Fevita sembari menyilangkan tangan di depan dada.
"Tidak apa-apa." Yudha menggedikkan bahunya. "Baiklah, mulai sekarang kita berpacaran. Oke?" sambungnya. Menyebabkan Fevita segera merekahkan senyuman diparasnya. Dia langsung menyumpal mulut Yudha dengan bibirnya. Keduanya saling bergulat dalam sesaat. Hingga Yudha mulai mengangkat Fevita. Kedua kaki gadis itu otomatis mengunci dipinggul Yudha. Mereka masih belum melepaskan tautan bibirnya.
Yudha menghempaskan Fevita ke sofa. Keduanya berbuat lebih jauh di sana. Melepaskan seluruh pakaian dan saling menyatukan badan.
Fevita melenguh dengan leluasa, saat Yudha bergerak maju mundur lebih cepat. Lama-kelamaan mereka mulai bermandikan keringat akibat aktifitas tersebut.
Dari kejauhan, Yudha dapat mendengar pintu apartemennya terbuka. Dia segera mengakhiri kegiatan panasnya bersama Fevita. Yudha yakin orang yang datang pasti Deny. Sebab hanya Deny satu-satunya orang, yang bisa masuk dan keluar dari kediamannya dengan bebas.
"Berhenti di sana!" Yudha mencegah langkah Deny. Dia mengangkat tangannya dan menampakkan diri dari balik sandaran sofa. Untung saja posisi sofa membelakangi pintu masuk, jadi Deny belum menyaksikan semuanya.
"Keluarlah dari sini sebentar!" titah Yudha, yang tentu saja langsung dilakukan oleh Deny.
Deny gelagapan. Dari jauh dia dapat menyaksikan kaki mulus wanita yang kebetulan nampak. Dia lekas-lekas keluar dari apartemen Yudha. Deny tentu tidak mau mengganggu aktifitas pribadi tuan mudanya.
"Siapa? apa dia orang tuamu?" tanya Fevita yang kalang kabut memakai kembali pakaiannya.
"Iya, dia ayahku," jawab Yudha santai. Dia juga tengah menyibukkan diri mengenakan kembali pakaiannya.
"Sial!" rutuk Fevita. Wajahnya memerah padam akibat merasakan malu setengah mati.
Yudha terkekeh geli menyaksikan sikap Fevita. "Tenang saja. Ayahku bukan orang tua yang pemarah. Dia berjiwa bebas..." jelasnya asal.
"Begitukah?" Fevita menoleh dan memastikan.
"Ya, buktinya dia tidak jadi masuk saat kusuruh begitu," balas Yudha santai. Dia mengambil sebuah rokok elektrik dari meja. Menyesapnya lalu mengeluarkan kepulan asap dengan aroma cappucino yang menyerbak.
Fevita telah selesai mengenakan pakaian. Dia menoleh ke arah Yudha dan menggeser posisinya untuk lebih dekat. Fevita meletakkan kepalanya dengan berani ke dada Yudha. Sedangkan tangannya sibuk melingkar dipinggang lelaki itu. Fevita benar-benar gadis genit dan manja.
"Jadi, kita sekarang berpacaran kan?" tanya Fevita sambil tersenyum sampai matanya memicing puas.
Yudha sebenarnya ingin menjadikan Elisha bagian dari komplotannya. Dia berpikir gadis tersebut mudah dikendalikan. Namun Elisha terlalu naif. Dan Yudha berniat merubah sisi itu dari seorang Elisha. Dia ingin sekali menyaksikan Elisha marah.
"Aku akan memesankan taksi untukmu. Setelah ini aku harus pergi melakukan bisnis," ungkap Yudha. Tangannya perlahan mendorong Fevita untuk menjauh.
"Kau juga mengurus bisnis? wah... hebat sekali!" respon Fevita. Bertingkah manis di depan Yudha. Dia menangkup wajahnya sendiri. Matanya memancarkan binar kagum untuk Yudha.
"Hehh... itu bukan apa-apa." Yudha menghela nafas panjang. Menghadapi gadis seperti Fevita, sangatlah melelahkan baginya. Selanjutnya dia segera memesankan taksi untuk Fevita, dan mengantarkan gadis tersebut pulang ke depan bangunan apertemennya.
Ketika Yudha kembali masuk ke gedung apartemen, kebetulan sekali dirinya melihat wanita paruh baya yang akhir-akhir ini mengganggunya. Wanita paruh baya itu terlihat berbicara dengan satpam.
"Mbok Lastri! makasih kuenya ya. Entar aku kasih oleh-oleh juga kalau habis pulang dari kampung."
Yudha dapat mendengar Pak Jono selaku satpam apartemen memanggil sang wanita paruh baya. Kini Yudha tahu nama wanita paruh baya tersebut adalah Mbok Lastri.
Dari balik tembok Yudha terus menguping. Hingga dia mulai mendengar Pak Jono sudah saling memisah dengan Mbok Lastri. Dia lantas keluar dari persembunyian dan membuntuti Mbok Lastri diam-diam.
Yudha tadi mendengar dengan jelas, kalau Mbok Lastri akan pergi ke balkon yang ada di atap gedung apartemen. Tempat sepi yang pas untuk menghabisi seseorang.
"Bisakah kau pergi ke ruang CCTV sebentar? matikan CCTV dari sekarang hingga satu jam ke depan!" Yudha memberitahu Deny melalui telepon.
"Untuk apa?" tanya Deny dari seberang telepon.
"Nanti aku akan ceritakan kepadamu. Lakukan saja!" Yudha bersikeras. Alhasil Deny pun tidak punya pilihan selain menuruti perintahnya.
Yudha melangkahkan kakinya memasuki lift. Dia tentu memilih lantai paling atas. Setelah tiba di lantai tujuan, Yudha bergegas keluar dari lift. Dia menaiki tangga yang mengarah ke balkon atap apartemen.
Ceklek...
Yudha membuka pintu dengan pelan. Matanya segera memindai sekeliling tempat. Atensinya langsung tertuju kepada sosok Mbok Lastri yang tengah sibuk mengobrak-abrik barang bekas.
"Ekhem!" Yudha sengaja berdehem. Suaranya sontak menyebabkan Mbok Lasti menyadari kedatangannya.
"Eh kamu toh. Ngapain ke sini?" timpal Mbok Lastri, bertanya dengan nada sinis.
"Mencari udara segar..." sahut Yudha. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Kepalanya mendongak ke atas. Mengukir senyuman tanpa alasan.
"Eh Mas, selagi kita berduaan ya. Biar aku kasih tahu. Kamu itu harusnya jangan main-main perempuan terus. Kasihan loh mbak-mbaknya. Kalau hamil gimana? resikonya kamu sendiri kan yang tanggung. Orang tua mereka pasti menuntut tanggung jawab." Mbok Lastri malah memberi nasehat, yang tentu saja semakin membuat keinginan membunuh Yudha kian membara.
"Itu urusanku, kenapa kau ikut campur?" pungkas Yudha dengan keadaan mata menyalang.
"Eh dibilangin malah nyolot ya kamu. Dasar anak zaman sekarang!" balas Mbok Lastri. Berkacak pinggang dan melotot tajam ke arah Yudha.
Yudha memutar mata sebal. Dia mengambil sebuah botol kaca yang tergeletak tidak jauh darinya. Memecahkannya, hingga botol itu kini menjadi senjata tajam dan runcing.
Mbok Lastri kini merasa terancam. Kakinya perlahan melangkah mundur.