Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 42 - Membentuk Tim


...✪✪✪...


Elisha dikurung dalam sebuah gudang. Joyce dan Alice sengaja menguncinya sendirian di sana. Entah sampai kapan, yang jelas dua gadis perundung tersebut meninggalkan Elisha cukup lama.


Bau pesing dan udara yang berdebu harus dirasakan Elisha. Untung saja dia menyelipkan ponsel di saku celana jeansnya. Elisha sudah lelah merengek. Dia sekarang tidak mau lagi bersikap menjadi normal. Seberapa keras dirinya berbuat baik, tetap saja ada yang menjahatinya. Setidaknya itulah yang ada dalam pikirannya. Tawaran Yudha seketika terlintas dalam benaknya. Elisha segera menghubungi Yudha. Entah kenapa gadis itu tidak terpikir orang lain selain Yudha.


Hanya menunggu sekitar sepuluh menit lebih, Yudha sudah datang untuk membantu. Ketika pintu terbuka, Elisha dapat melihat ekspresi cemberut lelaki tersebut.


"Katakan siapa orang yang telah mengurungmu di sini!" ujar Yudha, mendesak.


"Kita pikirkan itu nanti. Aku hanya ingin pulang sekarang," sahut Elisha. Dia berjalan lebih dahulu melewati pintu. Dirinya dan Yudha langsung pergi dari area kampus.


Kini Yudha dan Elisha tengah berada di sebuah cafe. Yudha kebetulan mengajak gadis itu untuk singgah sejenak. Dirinya berusaha menghibur Elisha. Namun Elisha tetap saja terlihat murung.


"El, kau harus melakukan sesuatu. Aku tahu kau sedang bosan," celetuk Yudha. Menyebabkan pandangan Elisha yang tadinya tertuju ke jendela, perlahan teralih kepada Yudha.


"Katakan apa usulanmu." Elisha berucap, lalu menyesap cokelat hangatnya.


"Bukankah harusnya kau sudah tahu?... Ngomong-ngomong aku punya ide yang bagus." Yudha tersenyum licik sembari memikirkan ide gila dalam kepalanya.


Elisha sangat paham maksud Yudha. Meskipun lelaki itu tidak menjelaskan secara detail melalui mulutnya. Elisha tahu, Yudha berniat membunuh orang yang telah mengurungnya di gudang. Siapa lagi kalau bukan Joyce dan Alice.


"Apa kita akan melibatkan Roy juga?" tanya Elisha.


"Tentu saja. Tidak menyenangkan jika hanya kita berdua." Yudha menyilangkan tangan di depan dada.



Roy baru saja tiba. Dia segera bergabung duduk di sofa bersama Yudha dan Elisha. Mereka mendiskusikan pembunuhan berencana.


"Pasti menyenangkan. Aku sudah tidak sabar," ungkap Roy sambil menatap Yudha dan Elisha secara bergantian.


"Joyce dan Alice hampir setiap malam menghabiskan waktu di klub malam," kata Elisha. Dia akhirnya merekahkan senyuman. Meski durasinya begitu singkat.


"Pas sekali. Aku juga perlu bersenang-senang di klub malam sejenak. Tetapi sebelum itu, kita harus mempersiapkan segalanya terlebih dahulu. Aku punya rumah tidak jauh dari sini. Kita bisa menggunakannya untuk menjalankan rencana." Yudha bangkit dari tempat duduk. Dia mengambil laptopnya yang ada di atas nakas.


Yudha membuka sebuah laman dark web tertentu. Kemudian memperlihatkannya kepada Elisha. Dia juga memiliki rencana lain yang berkaitan dengan balas dendamnya.


"Aku menemukan laman dark web mafia mata ular. Setelah aku memeriksa semua videonya baik-baik, aku yakin itu adalah kelompok mafia yang telah menghancurkan hidupku." Yudha menerangkan.


"Mafia mata ular? Apa mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab dengan insiden kebakaran rumahmu dulu?" tanya Elisha memastikan. Kedua alisnya otomatis terangkat.


Yudha mengangguk. "Coba lihat di iklan yang ada di samping kanan. Di sana tertulis, kalau mereka sedang mencari seorang dokter bedah. Aku pikir, aku harus mengajukan diri ke sana," katanya seraya menunjuk ke iklan yang dimaksud.


"Kau yakin? Bukankah mereka adalah orang-orang yang berbahaya? Bagaimana jika mengetahui siapa jati dirimu," tukas Elisha yang sontak merasa khawatir.


Elisha menarik laptop Yudha lebih dekat ke hadapannya. Dia mencoba membaca iklan yang tadi ditunjuk oleh Yudha. Gadis tersebut memastikan benar atau tidaknya ucapan Yudha. Mimik wajah Elisha nampak cemas.


"Kau manis sekali. Aku tahu kau mengkhawatirkanku," imbuh Yudha, yang seketika membuat Elisha harus merubah ekspresinya menjadi datar.


"Kalian membicarakan apa? Bisakah beri penjelasan dahulu kepadaku?" Roy yang sedari tadi terdiam, akhirnya bersuara. Dia mengulurkan kedua tangan ke depan.


Yudha menghela nafasnya. Lalu menjelaskan segalanya kepada Roy. Yudha sepenuhnya bisa mempercayai Roy. Dia sebenarnya membutuhkan Roy untuk menjalankan rencana balas dendamnya.


Keesokan harinya, ketika Elisha sedang berada di kampus. Dia menyaksikan Joyce dan Alice dari kejauhan. Yudha menyarankannya untuk bicara kepada dua gadis perundung tersebut. Agar rencana yang telah disusun dapat berjalan mulus.


Elisha melangkahkan kakinya. Kemudian mengajak Joyce dan Alice bicara.


"Joyce, bolehkan aku bergabung denganmu dan Alice?" tanya Elisha sembari menampakkan raut wajah polosnya.


"Apa aku tidak salah dengar? Memangnya kau tidak marah dengan kami?" balas Joyce tak percaya.


Elisha menggeleng sambil tersenyum tipis. "Apa kalian akan ke klub malam ini?" tanya-nya. Merubah topik pembicaraan. Elisha tidak mau berbasa-basi terlalu lama.


Joyce dan Alice saling bertukar pandang. Seakan berbicara melalui telepati. Jelas mereka berniat mengerjai Elisha lagi. Mereka memang gemar menindas orang yang tampak lemah seperti Elisha.


"Tentu saja, El. Jangan bilang kau mau bergabung bersama kami? Ini sungguh mengejutkan. Karena biasanya kau selalu menolak berada di keramaian," ujar Alice.


"Aku ingin berubah..." lirih Elisha dengan senyuman yang dipaksakan. Joyce dan Alice lantas mengangguk-anggukkan kepala untuk merespon.


"Baiklah, kau bisa datang jam setengah delapan malam. Kita akan bertemu di sana, oke?" Joyce meminjam ponsel Elisha sebentar, lalu menuliskan alamat klub yang biasa didatanginya.


"Thanks." Elisha kembali memalsukan senyuman.


"El, jangan lupa untuk mengajak pacarmu, oke?" saran Alice dengan tatapan penuh harap. Elisha lagi-lagi hanya bisa tersenyum sekaligus mengiyakan.


Tepat pada jam 07.20 malam. Yudha, Elisha dan Roy bersiap pergi ke klub malam. Tempat hiburan yang sering dikunjungi oleh Joyce dan Alice.


Yudha mengenakan kemeja garis-garis vertikal berwarna hitam putih. Dia menyisir rapi rambutnya. Seperti biasa, Yudha selalu memakai cologne khasnya. Lelaki itu baru saja masuk ke dalam mobil. Memilih duduk di depan setir.


Elisha dan Roy yang lebih dahulu ada di dalam mobil, segera menilik penampilan Yudha. Keduanya sama-sama terpaku untuk sesaat. Sebab penampilan Yudha tampak luar biasa rupawan.


"Kau seperti seorang pebisnis kaya raya." Kalimat pujian secara langsung keluar dari mulut Roy. Sementara Elisha memilih membungkam mulutnya, kemudian lekas mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia tidak mau jantungnya berdebar semakin parah.


"Aku memang kaya," respon Yudha. Dia tersenyum ke arah Roy yang kebetulan duduk dikursi belakang. Perlahan perhatiannya teralih kepada Elisha. Gadis itu juga berpenampilan tidak biasa. Dengan gaun selutut berwarna biru tua, disertai make up tipis diwajahnya.


"Mau pakai baju apapun, kau selalu cantik, El." Yudha menatap Elisha melalui sudut matanya.


Roy yang menyaksikan, hanya memutar bola mata. Kemudian menyandarkan badan sambil menutup matanya rapat-rapat. Saat itulah Yudha menjalankan mobil menuju ke klub malam.