Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 66 - Season 2 [Selamat Dari Maut]


...✪✪✪...


Yudha membuka lebar matanya. Suara detak alat EKG menyambut pendengaran. Cahaya yang masuk dari jendela menyambut. Yudha memindai sekitar dengan manik hitamnya.


Satu hal yang pasti. Yudha dapat menyimpulkan kalau dirinya sedang berada di sebuah kamar mewah.


Ceklek...


Pintu perlahan terbuka. Sosok Zain muncul dari balik pintu. Dia merupakan dokter yang selalu membantu Yudha dalam kesulitan. Entah bagaimana caranya, Zain berhasil menyelamatkan Yudha dari polisi serta maut.


"Yudha? Kau sudah sadar?" Zain bergegas menghampiri.


"Bukankah sudah jelas? Aku ada dimana?" sahut Yudha, yang di akhiri dengan bertanya. Mencoba mengulik segala hal yang telah menimpanya.


Zain lantas memberitahu apa yang sudah terjadi. Ternyata Yudha sudah koma selama tujuh bulan lamanya. Zain juga mengatakan bahwa dirinya telah berhasil menyelamatkan Yudha dari polisi.


"Karena koma, polisi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itulah aku dapat dengan mudah menyelamatkanmu!" ungkap Zain sembari memegangi pundak Yudha.


"Tujuh bulan kau bilang?" Yudha dibuat kaget. Dia sontak mengingat pertemuan yang harus dirinya lakukan dengan Elisha. Jelas Yudha sudah sangat terlambat.


"Iya. Memangnya kenapa?" Zain mengernyitkan kening.


"Aku harus menemui seseorang! Apakah kau bertemu dengan seorang perempuan dan lelaki yang mencariku?" Yudha memastikan. Mungkin saja Zain sempat bertemu Elisha dan Roy. Akan tetapi Zain langsung menjawab dengan gelengan kepala.


Lidah Yudha berdecak kesal. Dia beringsut ke ujung kasur. Mencoba menggerakkan kaki. Namun baru kakinya memijak lantai, tubuh Yudha justru dibuat sempoyongan.


"Berhati-hatilah! Kau baru sembuh dari koma. Tubuhmu masih belum sepenuhnya pulih." Zain sigap memegangi badan Yudha. Membawa pemuda itu duduk kembali ke kasur.


"Tenanglah dahulu. Kau butuh waktu agar bisa terbiasa lagi. Katakan kepadaku, apa ada sesuatu yang ingin kau makan?" Zain berusaha menghibur.


Yudha sama sekali tidak berminat memakan sesuatu. Dia hanya ingin menemui Elisha secepatnya. Alhasil Yudha mencoba meminta bantuan Zain untuk mencari Elisha.


"Baiklah. Aku akan mencarikan gadis itu untukmu. Tetapi berjanjilah, kau harus tetap di sini sampai tubuhmu benar-benar pulih. Mengerti?" ujar Zain.


Zain senang Yudha bisa cepat mengerti. Selepas membawakan makanan untuk Yudha, dia segera pergi mencari Elisha. Dengan hanya bermodalkan internet serta kenalannya.


Sementara menunggu, Yudha memanfaatkan waktunya dengan berkeliling rumah Zain. Dia juga melakukan gerakan olahraga kecil agar tubuhnya tidak kaku.


Tiga hari terlewat. Barulah Zain sukses menemukan dimana keberadaan Elisha. Jujur saja, dia agak ragu memberitahukan fakta yang ditemukannya kepada Yudha.


Kini Zain duduk ke kursi yang ada di sebelah Yudha. Mereka kebetulan ada di teras belakang.


Yudha yang sedari tadi sibuk membaca, perlahan menurunkan bukunya. Bola matanya melirik ke arah Zain.


"Apa sudah ada kabar tentang Elisha?" tanya Yudha.


"Sebelum aku memberitahu, bolehkah aku bertanya seberapa penting gadis itu untukmu?" tanggap Zain.


"Sangat penting! Lebih penting dari nyawaku!" Yudha menegaskan.


Raut wajah Zain seketika berubah menjadi masam. Ia semakin ragu untuk mengatakan.


"Kenapa wajahmu begitu? Kau sudah tahu dimana Elisha berada? Cepat katakan kepadaku!" desak Yudha.


"Oke, oke. Aku akan katakan. Gadis yang kau cari ada di rumah sakit jiwa. Menurut kabar yang aku dapat dari kenalanku, Elisha dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh kedua orang tuanya sendiri. Satu hal lagi yang mengejutkan, Elisha sedang hamil tua..." jelas Zain. Menyebabkan mata Yudha membulat sempurna.


"Cepat bawa aku ke sana!" Yudha langsung berdiri dari tempat duduk.


"Apa kau gila?! Itu rumah sakit jiwa, Yud! Penjagaan disana sama ketatnya seperti di penjara!" Zain mencegat.


"Baguslah kalau begitu, aku pasti bisa menerobos tempat itu. Persis seperti saat aku melarikan diri dari penjara." Yudha bertekad.


"Maksudmu, kau rela koma lagi demi mengulangi kesalahan sebelumnya?" Zain menimpali. Dia hanya tidak mau apa yang dilakukan Yudha terlalu tereskpos.


"Aku akan lakukan apapun demi kekasihku." Yudha menghempaskan tangan Zain darinya. Lalu langsung beranjak pergi.