Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 10 - Menculik Elisha


...✪✪✪...


Tanpa pikir panjang, Yudha segera bersiap untuk menemui Elisha. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak hitam. Bercelana jeans hitam serta memakai masker untuk menutupi bagian hidung dan mulut. Pucuk kepalanya sendiri ditutupi dengan sebuah topi.


Yudha tidak ingin ditemani Deny. Dirinya pergi sendiri dengan menggunakan mobil. Tujuan utamanya adalah panti asuhan Pelita. Tempat yang telah menjadi kediaman Elisha selama bertahun-tahun.


Setibanya di panti asuhan Pelita, Yudha segera melepas masker dan menemui pengurus panti, yang bernama Mirna.


"Maaf ya Dik, Elisha sudah di adopsi oleh dua suami istri dua bulan yang lalu. Dia tidak tinggal di sini lagi," ucap Mirna memberitahu dengan lembut.


Yudha menghela nafas kesal. Dia lantas menanyakan alamat Elisha sekarang. Yudha mengatakan kalau dirinya adalah teman dekat Elisha. Meskipun begitu, dia memperkenalkan nama palsu kepada Mirna.


"Terima kasih, Bu..." Yudha sedikit membungkuk hormat.


"Sama-sama Dik," balas Mirna sambil melambaikan salah satu tangannya. Yudha lalu beranjak pergi, langsung menuju ke alamat yang sudah diberitahukan oleh Mirna.


'Harusnya dari awal aku meminta nomor telepon Elisha!' batin Yudha dengan wajah masam. Matanya tertuju ke arah depan. Berusaha fokus mengemudi.


Setelah memakan waktu setengah jam, Yudha akhirnya sampai di kediaman baru Elisha. Sebuah rumah yang lumayan besar dan berada di komplek perumahan orang-orang kaya. Yudha yakin Elisha di adopsi oleh keluarga yang terbilang mampu.


Yudha mengamati rumah Elisha baik-baik. Mencoba mencari celah, kalau-kalau dirinya bisa menyusup. Akan tetapi sepertinya mustahil, karena Yudha menyadari adanya CCTV di setiap sudut rumah. Alhasil lelaki itu tidak punya pilihan selain melakukan strategi yang sama seperti tadi.


Yudha menekan bell pintu rumah Elisha. Dia masih dengan penampilan sama. Tanpa masker, dan hanya mengenakan topi.


Ceklek...


Pintu perlahan terbuka. Sosok wanita paruh baya menyambut kedatangan Yudha. Dia tersenyum canggung. Dahinya sedikit mengernyit. Sebab dirinya sama sekali tidak mengenali Yudha.


"Halo Tante, Elisha-nya ada?" tanya Yudha dengan nada lembut. Badannya membungkuk sopan. Membuat sang wanita paruh baya yang tadinya sempat meragukan sosoknya, langsung tersenyum lebar. Mengenai akting, Yudha memang adalah jagonya. Andai kehidupan palsunya direkam oleh kamera, kemungkinan aktingnya mampu membawanya menjadi kandidat aktor terbaik dalam ajang Oscar.


Wanita paruh baya yang ternyata adalah ibu tiri Elisha itu, segera mempersilahkan Yudha masuk ke rumah. Namanya adalah Gita Safira. Setelah menyuruh Yudha duduk di sofa, Gita lantas memanggilkan Elisha ke kamar.


Yudha mengamati benda-benda yang ada di sekelilingnya. Figura-figura foto yang ada dinding menarik perhatiannya. Selain itu ada juga beberapa sertifikat penghargaan beserta piala di atas lemari kecil. Dari pengamatannya, Yudha mengetahui satu hal, kalau ayah tirinya Elisha adalah seorang detektif. Hal itu membuatnya harus mengatur ulang rencana yang akan dilakukannya.


Tak! Tak! Tak!


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Dia ternyata Elisha, yang tengah menyipitkan mata untuk mengenali sosok lelaki di ruang tamu.


"Siapa ya?..." tanya Elisha enggan. Dia sedikit menundukkan kepala agar mampu melihat dengan jelas wajah tamu-nya. Sebab sedari tadi Yudha hanya menunduk.


Yudha sebenarnya sengaja menyembunyikan wajahnya. Dia berniat akan memperlihatkannya saat Elisha benar-benar sudah dekat.


"Hai, El!" sapa Yudha. Dia kini melepaskan topi dan menampakkan parasnya. Tersenyum lebar, entah hanya sandiwara atau sebagai bentuk ancaman untuk gadis di depannya.


"Yu-yud--" ucapan Elisha terpotong ketika tangan Yudha dengan sigap menutup mulutnya. Yudha melakukannya karena melihat Gita berjalan kian mendekat. Ibu sambung dari Elisha tersebut membawakan nampan berisikan minuman dan kue.


"Nah ini Dek Andre, diminum dan makan ya," ujar Gita ramah. Dia memanggil nama palsu Yudha. Bola matanya perlahan melirik ke arah Elisha. Seakan seperti kode bahwa dirinya menyukai sosok lelaki yang menemui Elisha.


"Ya sudah, kalian bicara saja ya. Tante mau masak dulu," ujar Gita. Kemudian berlalu pergi ke dapur.


Kini hanya tinggal Yudha dan Elisha yang ada di ruang tamu.


"Ada apa?" tanya Elisha menatap lurus ke arah Yudha.


"Ikutlah denganku El. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan..." jawab Yudha memasang raut wajah memohon.


"Tapi kau bisa--"


"Aku tidak bisa membicarakannya di sini." Yudha sengaja memotong ucapan Elisha. Satu tangannya reflek menyentuh jari-jemari gadis tersebut.


"Tidak!" Elisha menggeleng tegas. Dia lekas-lekas menarik tangannya. Menolak tegas sentuhan Yudha. "Bicarakan saja di sini!" lanjutnya. Dahinya mengerut dalam.


"Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Aku akan meminta izin kepada ibumu saja. Dia pasti mengizinkan bukan?" Yudha bergegas bangkit dari tempat duduk. Baru menggerakkan kaki satu langkah, Elisha langsung mencegatnya.


"Baiklah!" Elisha terpaksa setuju. Dia segera meminta izin kepada Gita. Gadis itu berbohong kalau dirinya dan Yudha harus mengurus berkas-berkas kuliah.


Sekarang Elisha berada di mobil bersama Yudha. Dia terlihat memainkan jari-jemarinya tanpa alasan. Menghimpitkan badan ke ujung, seakan merasa takut pada lelaki di sampingnya.


"Kau tampak ketakutan, kenapa?" tanya Yudha. Berseringai sambil menatap Elisha selintas.


"Aku tahu apa yang kau lakukan kepada Anton! kau beruntung aku tidak melaporkanmu ke polisi!" ungkap Elisha, ketus. Namun Yudha malah tertawa terbahak-bahak. Sampai salah satu tangannya memukul-mukul ke bagian setir mobil.


Elisha sontak menatap sinis. Dia tidak percaya Yudha akan merespon seperti itu.


"Kau kenapa tertawa?! ini sama sekali tidak lucu!" Elisha meninggikan nada suaranya. Kalimatnya yang terdengar seperti omelan, membuat Yudha reflek menginjak remnya. Sehinga mobil pun berhenti secara mendadak. Dia tak peduli dengan omelan Elisha. Yudha sebenarnya berhenti di lokasi tujuannya, yaitu apotek. Dia menyuruh Elisha menunggu di mobil.


Di apotek Yudha membeli obat bius dan tisu. Selanjutnya dia bergegas masuk ke dalam toilet. Di sana Yudha mengambil dua helai tisu, kemudian mengolesinya dengan obat bius.


'Ughh... aku benar-benar kelupaan melakukan hal ini tadi. Harusnya aku melakukannya sebelum bertemu dengan Elisha," ucap Yudha dalam hati. Selanjutnya dia segera kembali masuk ke mobil.


Yudha belum beraksi, karena dia dan Elisha masih berada di lingkungan yang cukup ramai. Dia berniat membius Elisha di waktu dan tempat yang tepat.


"El, apa kau masih mencintaiku?" tanya Yudha sembari memfokuskan dirinya untuk menyetir.


Elisha hanya membisu. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Sebab jujur saja, dirinya masih mencintai Yudha. Dari lubuk hatinya, Elisha sebenarnya merasa senang bisa melihat wajah Yudha lagi. Tetapi segala apa yang diberitahukan Anton kepadanya, seketika membuatnya berusaha membuang perasaan cintanya jauh-jauh.


"Kenapa kau diam saja? ragu? pffft... aaaah... kau selalu berhasil membuatku gemas!" Yudha tiba-tiba mencubit pipi Elisha. Terkekeh girang yang terlihat cenderung dipaksakan.


Yudha kini memarkirkan mobil, yang lokasinya kebetulan berada di basement. Sepi dan senyap.


"El, aku mau hadiah lagi..." Yudha mendekatkan dirinya ke arah Elisha. Dia membaui rambut Elisha seolah bernafsu. Tangannya menyingkap dress selutut yang dikenakan gadis itu. Sementara satu tangannya diam-diam sudah memegang tisu yang sudah di olesi obat bius.