
...✪✪✪...
Yudha sudah tiba di tempat tujuan. Sebuah gedung terbengkalai yang ada di pinggiran kota Bima Jaya. Dia menyeret Elisha untuk ikut bersamanya.
Dari kejauhan Deny berjalan kian mendekat. Dia segera membantu Yudha, untuk membawa Elisha ke ruangan dimana seorang polisi juga ditawan.
"Yud, gadis ini sepertinya tidak ada terlibat apapun dengan insiden kebakaran rumahmu. Dia hanya kebetulan pergi sebelum tragedinya terjadi," ujar Deny memberitahu. Namun dia tetap mengunci tangan Elisha.
Yudha hanya diam, dan terus melangkah mengiringi Deny. Hingga tibalah mereka di sebuah pintu. Satu-satunya pintu dengan lampu yang menyala di depannya. Terpencil dan tersembunyi. Kemungkinannya kecil diketahui orang.
Deny membuka pintu tersebut. Kelima orang bawahannya langsung menyambut kedatangan Yudha. Senyuman lantas mengembang diwajah Yudha, sambil berlalu tangannya menepuk pelan pundak Norman.
Beberapa saat kemudian sampailah Yudha di ruangan gelap yang hanya bersinarkan lampu pijar. Di sana tampak seorang lelaki sudah di ikat dengan tali. Mulutnya tertutup rapat oleh lakban. Polisi yang bernama Arman itu melotot tajam ke arah Yudha. Terlihat tidak takut sama sekali.
Yudha memaksa Elisha untuk duduk, lalu membuka lakban yang menutup mulut Arman. Dia perlahan membungkukkan badan dan bertanya, "Sekarang beritahu aku mengenai keterlibanmu terhadap insiden kebakaran besar tiga bulan yang lalu, dan apakah gadis ini juga terlibat?"
Arman langsung menoleh ke arah Elisha. Dahinya mengukir kerutan heran. Sebab dia sama sekali tidak mengenali Elisha. "Siapa dia?" ujarnya, kemudian terkekeh geli. "Dasar bodoh!" Dia lanjut mengejek. Membuat Yudha seketika geram.
Yudha mengambil pisau lipat yang tak pernah absen disimpan disaku celana. Tanpa aba-aba, dia langsung menggoreskan pisaunya ke lengan Arman. Darah segar langsung merembes. Menodai baju Arman yang sudah robek.
"Aaaarkkhhh!!!" Arman berteriak kesakitan. Kaget sekaligus takut terhadap apa yang dilakukan Yudha.
"Kalau kau terus bermain-main, maka aku tidak akan segan-segan mencongkel matamu!" ancam Yudha dengan mata yang menyalang. Dia kini mengarahkan pisau ke mata Arman. Membuat Arman otomatis reflek memundurkan kepala.
"A-a-aku ti-ti-tidak tahu apapun..." ucap Arman gemetaran.
"Tadi kau bermain-main, sekarang kau mencoba membohongiku. Kau mau aku langsung saja membunuhmu?" balas Yudha bersikeras.
"Aku be-benar tidak tahu. Pak Dani atasanku yang tahu semuanya. Aku dan yang lain hanya menurut!" ungkap Arman yang gemetar ketakutan. Menahan sakit yang ada dilengannya.
"Yudha cukup!" Elisha tiba-tiba angkat bicara. Dia tidak tahan lagi melihat tingkah Yudha.
Yudha menoleh ke arah Elisha. Mengembangkan senyuman, yang entah memiliki makna apa. Dia berjalan mendekat, dan memojokkan Elisha ke dinding.
"Aku tadi sempat ingin melepaskanmu. Karena kau sepertinya memang tidak terlibat. Tetapi sikapmu sekarang berlebihan!" kata Yudha dengan nada pelan. Mengeratkan rahangnya.
"Norman!" Yudha memanggil salah satu anak buahnya. Norman segera masuk ke dalam ruangan.
"Kurung dia di ruangan lain!" Yudha mendorong Elisha ke arah Norman. Dia menyadari keberadaan Elisha hanya akan membuatnya kesulitan. "Dan jangan coba-coba menyentuhnya! dia milikku!" tambah Yudha lagi, menegaskan.
Sekarang hanya Yudha dan Arman yang ada di dalam ruangan. Yudha tidak akan segan-segan menyakiti, jika Arman belum bisa mengatakan segalanya. Alhasil Arman terpaksa memberitahukan apa yang dia tahu, dan bagaimana keterlibatannya.
"Aku hanya disuruh membuang semua bukti yang sebenarnya. Itu saja, urusan yang lain berada ditangan Pak Dani..." ungkap Arman dengan bibir yang gemetaran. Peluhnya mengucur deras disekitaran jidat dan pelipis.
"Jadi kau tidak tahu siapa Mr. A?!" tanya Yudha. Dia mengamati raut wajah yang ditunjukkan oleh Arman. Yudha bisa mengetahui kalau Arman memang berkata jujur. Sebab tawanannya tersebut berani membalas tatapannya.
"Baiklah kalau begitu. Deny ternyata menangkap orang tidak berguna." Yudha menegakkan badan. Mendenguskan nafas sejenak. Lalu menutup mulut Arman dengan lakban lagi. Dia lantas berkata, "Karena kau sudah melihat wajahku, aku tidak bisa membiarkanmu hidup!" ucapan Yudha sontak membuat mata Arman terbelalak. Namun belum sempat dia merespon, Yudha sudah beraksi lebih dahulu.
Jleb! Jleb! Jleb!
"Mmmmphh! Mmmmpphh!" Arman tak mampu berteriak, dan hanya menggumamkan suara tidak jelas. Dia merasakan sakit bukan kepalang. Akan tetapi Yudha terus saja menghujamkan pisaunya tanpa henti.
Lama-kelamaan Arman kehabisan nafas dan menutup mata. Pertanda nyawanya telah melayang. Yudha segera memanggil semua bawahannya. Dia menyuruh Deny dan yang lain untuk mengurus mayat Arman.
Sementara Yudha bergegas membersihkan diri, sebelum noda darah di sekujur badannya mengering. Selanjutnya dia kembali mengurus Elisha. Gadis itu duduk di lantai dalam sebuah ruangan yang gelap.
"Ayo ikut aku!" ajak Yudha, yang baru saja membuka pintu. Dia mengarahkan senter dari ponselnya ke wajah Elisha.
Mendengar ajakan Yudha, Elisha lekas-lekas berdiri. Namun dia ragu untuk mendekat.
"Yud, apa yang akan kau lakukan denganku? apa yang akan kau lakukan dengan lelaki di ruangan sebelah?" timpal Elisha.
"Aku tidak mau mengatakan apa yang telah kulakukan kepada lelaki itu. Aku hanya mengatakan apa yang akan kulakukan kepadamu. Yaitu melepaskanmu!" terang Yudha, berseringai.
"Benarkah? kau akan melepaskanku? kau tidak takut aku akan melaporkanmu ke pol--"
"Tidak!" Yudha sengaja memotong kalimat Elisha. Dia lalu berjalan lebih dahulu memasuki mobil. Menunggu di sana. Seperti dugaannya, Elisha mengikutinya. Gadis itu kini sudah duduk di sampingnya. Menyebabkan Yudha perlahan merekahkan senyuman.
Sebelum berangkat, Yudha mengambil sebungkus roti yang ada di laci dashboard. Kemudian memberikannya kepada Elisha. Perlakuannya membuat dahi Elisha mengerut bingung. Akan tetapi Yudha tidak hirau, dan hanya sibuk menjalankan mobil.
Setelah memakan waktu sekian menit, tibalah Yudha dan Elisha di tempat tujuan. Yaitu rumah Elisha.
"Kau benar-benar melepaskanku?" tanya Elisha. Masih tidak percaya.
"Kenapa? kau mau terus tinggal bersamaku?" balas Yudha seraya menghadap ke arah Elisha. Dia mencondongkan wajah, dan mengangakan mulut seolah-olah hendak menerkam.
"Yudha!" pekik Elisha, reflek menghindar.
Melihat respon Elisha, Yudha tergelak sejenak. "Awalnya aku sangat marah denganmu. Aku kira kau terlibat dengan insiden kebakaran yang terjadi di rumahku," ucapnya sambil menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
"Sana, pulanglah! urusan kita sudah selesai!" titah Yudha.
Elisha hanya membisu, dan terpaku menatap Yudha. Dia tidak mengerti dengan sikap Yudha yang tak mudah ditebak. Dirinya bingung terhadap perasaannya. Dimata Elisha, sikap Yudha masih ambigu, entah jahat atau kah baik. Meskipun lelaki itu sudah melakukan hal tidak wajar, tetapi setidaknya Yudha tidak ada sedikit pun melukai badannya. Seperti yang dilakukannya kepada Anton misalnya.
"Kenapa masih diam? kau tidak mau berpisah denganku? mau melakukannya lagi?" Yudha bersuara ketika menyadari Elisha belum juga keluar dari mobil.
Mendengar teguran Yudha, Elisha bergegas turun dari mobil. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sesekali dia akan menoleh ke arah mobil Yudha yang telah berjalan.
Di mobil, ponsel Yudha mendadak berbunyi. Dia lantas mengangkat panggilan dari Deny itu.
"Kau melepaskan Elisha? Kenapa?!" timpal Deny. Dia tentu khawatir Elisha akan membeberkan tentang siapa jati diri Yudha, serta kedok jahatnya.
"Tenang saja, Elisha persis seperti dirimu. Bisa dipercaya, dan mau melakukan apapun untuk melindungiku. Jika dugaanku tidak benar, barulah kita habisi dia. Kalau perlu sekalian juga dengan kedua orang tuanya!" sahut Yudha, santai.
Sebenarnya alasan paling utama Yudha melepaskan Elisha adalah, karena gadis tersebut salah satu orang yang disukainya. Suka yang dimaksud Yudha bukanlah cinta, melainkan menyukai sikap yang dimiliki oleh Elisha itu sendiri. Gadis setia dan lemah.