Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 24 - Keberuntungan Tak Terduga


...✪✪✪...


Bukannya marah, Yudha malah menatap kagum Elisha. Kedua tangannya menangkup wajah gadis itu. Perlakuan Yudha sontak membuat Elisha terpaku. Apalagi kala jari-jemari Yudha mengusap lembut air matanya yang bercucuran.


"Siapa bilang aku membencimu. Kau harus tahu satu hal, Elisha. Kalau aku juga pernah membunuh. Kau belum sepenuhnya mengenalku..." ungkap Yudha.


"Be-benarkah itu?" tanya Elisha memastikan. Dia terdiam sejenak, lalu kembali meneruskan, "Yudha kau juga perlu--"


Elisha tidak bisa melanjutkan ucapannya saat ibu jari milik Yudha menyentuh pelan bibir bawahnya. Perlakuan tersebut membuat Elisha membeku.


"Kita bicara nanti saja," ujar Yudha. Bibirnya segera dipadukan dengan mulut Elisha. Nampaknya Yudha hendak meneruskan keinginannya yang tadi tidak sempat dilakukan. Meskipun dengan gadis berbeda, dia tak peduli. Malah jujur saja, Yudha lebih bersemangat jika bersama Elisha. Mereka melakukannya untuk yang kedua kali. Di ruangan sebelah, dimana di sana juga terdapat hospital bed tak terpakai.



Yudha menghela nafasnya. Dia telah memuaskan hasrat seksualnya pada Elisha. Baru saja mengenakan pakaiannya kembali. Sementara Elisha masih terbaring lemah di atas kasur. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut tipis yang sudah tersedia.


"Sekarang, kau tidak akan mengikat tangan dan kakiku ke kursi lagi kan?..." tanya Elisha dengan nada pelan. Matanya terlihat mengerjap lemah. Menatap Yudha yang kembali memposisikan dirinya telentang. Lelaki itu kemudian memutar badannya menghadap Elisha. Menjadikan salah satu tangan yang melipat sebagai bantalan.


"El, kenapa kau tidak ceritakan semuanya dari awal? Dengan begitu, aku tidak perlu menculikmu. Dasar bodoh!" Yudha menekan-nekan jidat Elisha dengan jari telunjuknya.


"Tentu saja aku tidak mengatakannya. Karena aku tahu pembunuhan adalah hal terlarang di dunia ini." Elisha membalas dengan dahi yang sedikit berkerut.


"Tetapi tidak untukku, El. Itu hal biasa bagiku," sahut Yudha.


"Apa kau bilang--" ucapan Elisha harus terpotong. Karena Yudha kian mendekatkan wajahnya. Hidungnya dan Elisha otomatis saling bersentuhan.


"Yudha, aku sepertinya mengetahui sesuatu tentang insiden kebakaran yang terjadi di rumahmu," ungkap Elisha yang tentu saja langsung menarik perhatian Yudha. Dia mengabaikan pengakuan Yudha beberapa detik lalu, dan mengubah topik pembicaraan. Elisha merasa dirinya harus mengatakan sesuatu yang telah lama disembunyikannya.


"Apa yang kau tahu?" tanya Yudha. Dia tidak sabar mendengar cerita Elisha.


Elisha lantas mulai menceritakan apa yang diketahuinya. Dia mengatakan kalau dirinya sempat melihat Sandi berbicara dengan sosok misterius, tepat sebelum insiden kebakaran terjadi. Sandi sendiri adalah salah satu teman dekat Yudha saat SMA. Kala itu Elisha kebetulan melihatnya saat sedang sibuk membopong Anton. Dia pergi tergesak-gesak, sehingga tidak bisa memperhatikan gelagat Sandi dengan jelas.


"Maksudmu Sandi terlibat?" Yudha menyimpulkan.


"Mungkin saja. Aku hanya memberitahumu tentang apa yang kulihat malam itu." Elisha ikut merubah posisi menjadi duduk, ketika menyaksikan Yudha lebih dahulu melakukannya. Gadis itu mengenakan pakaiannya kembali.


"Berarti kemungkinan besar, Sandi masih hidup. Tetapi bukankah tidak ada satu pun orang yang selamat dari insiden kebakaran?" Yudha masih berusaha mencerna informasi yang diberikan Elisha.


"Entahlah..." Elisha menggeleng pelan.


Yudha membisu untuk sesaat. Dia terpikir ingin mencari tahu keterlibatan Sandi. Dan kali ini dirinya benar-benar bertekad. Jika memang Sandi terlibat, maka otomatis Yudha juga dapat dengan mudah menemukan Mr. A.


"El, maukah kau membantuku?" Yudha menatap penuh harap.


"Aku akan membantumu, tetapi jika kau putus dengan Fevita!" Elisha menegaskan.


"Apa tidak apa-apa kita pergi? Nanti kita dianggap membolos," ujar Elisha. Mengingatkan lelaki yang duduk di sampingnya.


"Kau tidak perlu mencemaskan itu. Aku yakin, setelah kegiatan observasi, semua mahasiswa pasti disuruh pulang!" jawab Yudha yakin. Dia segera menginjak pedal gas, dan melajukan mobil.


Sekian menit berlalu, Yudha menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah. Dia sangat ingat kalau rumah tersebut adalah kediaman Sandi. Yudha pernah berkunjung ke sana, karena kegiatan kerja kelompok sekolah dulu.


"Apa ini rumah Sandi?" tanya Elisha sembari memperhatikan rumah yang ada di samping kanan.


"Iya, aku pernah ke sini saat masih sekolah. Bukan hal mustahil kan dia masih tinggal di sini?" Yudha terus menatap ke arah pintu depan. Berharap dirinya dapat menyaksikan sosok Sandi keluar dari sana. Jadi, Yudha tidak perlu repot-repot mengetuk pintu.


Pupil mata Yudha membesar, tatkala melihat harapannya terwujud. Sepertinya dewa keberuntungan mengamini niat balas dendamnya. Sosok Sandi benar-benar terlihat keluar dari rumah. Benar dugaannya, Sandi masih hidup! Entah bagaimana caranya. Lelaki itu melangkah dengan tenang sambil menyandang tas ranselnya. Nampaknya dia hendak pergi kuliah.


Mulut Yudha mengukir seringai. Dia bergegas mengambil topi yang tersimpan di laci dashboard mobil. Kemudian melepaskan sabuk pengaman.


"Apa yang akan kau lakukan? Jangan bilang kau akan menculiknya, seperti yang pernah kau lakukan terhadapku dan Anton!" tebak Elisha.


"Ayolah El, jika kau mau terus berada disisiku, maka kau harus mendukung segala hal yang kulakukan!" ujar Yudha. Lalu langsung membuka pintu mobil. Keluar dan melangkah menghampiri Sandi.


Sementara Elisha, terpaksa berdiam di dalam mobil. Berusaha melihat dari jauh apa yang dilakukan Yudha dan Sandi.


Sandi yang tadinya hampir masuk ke dalam mobil, segera mengurungkan niatnya. Karena mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Yudha.


"Sandi..." panggil Yudha sambil menundukkan kepala. Dia sengaja menyembunyikan wajahnya dengan topi yang dipakainya.


"Iya? Siapa ya?" Sandi berupaya melihat wajah Yudha. Keningnya mengernyit heran.


Bukannya menjawab Yudha malah tersenyum. Kemudian melambaikan tangannya beberapa kali. Sebab dia mencoba menuntun Sandi menjauh dari area rumahnya. Tepatnya dari cakupan kamera pengawas.


Sandi awalnya kebingungan. Akan tetapi dia juga merasa penasaran. Akhirnya dia memilih untuk mengikut Yudha. Sebelum melangkah, Sandi terlebih dahulu mengambil sebuah gunting yang kebetulan tergeletak di meja kecil depan teras. Dia melakukannya, karena merasa sosok yang dilihatnya sangatlah mencurigakan.


"Siapa sih! Jangan iseng ya. Aku lagi nggak mood ladenin hal yang tidak penting!" tegur Sandi. Namun kakinya tetap bergerak mengikuti Yudha.


Akibat merasa penasaran, Sandi lantas melajukan langkahnya. Berusaha melihat wajah sosok misterius di depannya.


Yudha berhenti tepat di bawah pohon nan rindang. Di sana suasana agak sepi. Lokasinya pun lumayan dekat dengan posisi mobil Yudha berada.


Sandi menarik pundak dan membuka topi Yudha. Wajah Yudha kini terpampang nyata. Berhasil membuat mata Sandi membuncah hebat. Bagaimana tidak? Selama ini dia telah menganggap Yudha sudah mati. Seperti berita yang diketahui orang-orang lainnya.


"Yud-yudha..." Sandi tergagap karena merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ka-kau Yudha bukan? Bagaimana..." Sandi sempat tidak bisa berkata-kata.


Yudha memutar bola mata malas. Dia segera membawa Sandi masuk ke dalam rangkulannya. Mulutnya perlahan bergerak mendekati telinga Sandi dan berbisik, "Ayo kita reuni, dan ceritakan semuanya baik-baik."