
...✪✪✪...
Agung dan Haris sudah selesai menggali. Sebuah lubang di tanah dengan kedalaman yang cukup. Berbentuk persegi panjang persis seperti kuburan pada umumnya.
"Bawa tawanannya ke sini! Dia ada di gudang!" titah Yudha sembari menunjuk ke arah dimana lokasi gudang berada.
Agung dan Haris menuruti perintah Yudha. Dalam selang satu menit lebih, Sandi sudah dibawa kepadanya. Dijatuhkan ke tanah dalam keadaan tangan dan kaki yang masih terikat.
"Mmpphhh! Mmmpphh!" Sandi hanya bisa bergumam tidak karuan. Sebab lakban masih menutup rapat mulutnya.
Yudha menyeret Sandi di tanah. Kemudian menjatuhkannya ke dalam lubang. Selanjutnya dia segera menyuruh Agung untuk mengambil minyak tanah.
"Yudha, jangan bilang kau akan..." Elisha tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Satu tangannya membekap mulutnya sendiri. Dia tercengang ke arah Yudha.
"Membakarnya maksudmu?" tebak Yudha. Merespon ucapan Elisha. "Lihat dan perhatikan," lanjutnya sembari menunjukkan senyuman tidak berdosa.
Yudha menyiramkan minyak tanah ke badan Sandi yang sudah tersungkur di dalam lubang. Setelahnya, Yudha mengambil pemantik yang disodorkan oleh Haris.
Yudha memainkan alat pemantiknya sebentar, dan berkata, "Kau memang bisa dibilang tidak bersalah terhadap insiden kebakaran di rumahku. Tetapi, kaulah asal mula insiden pembantaian dan kebakaran itu terjadi. Tetapi tidak apa-apa, karena sekarang aku akan memaafkanmu. Sebab hari ini, kau akan membayar kesalahanmu, Sandi..."
"Mmpphh! Mmmphh! Mmmpph!" Sandi menggelepar di dalam lubang. Di berusaha keras melepaskan ikatan yang menjeratnya. Namun usahanya sia-sia. Yudha sudah mengikat mati tali yang menjeratnya.
Sebelum menjatuhkan pemantik yang menyala, Yudha menoleh ke arah Elisha sejenak. Dia melihat gadis itu masih berdiri memperhatikannya dari jauh.
Yudha menyunggingkan mulut ke kanan, kemudian menjatuhkan alat pemantik yang menyala ke dalam lubang. Tepat dimana Sandi berada.
Wush!
Api seketika berkobar melahap Sandi. Apa lagi dengan adanya minyak tanah yang membasahi sekujur badannya. Jago merah seakan bersemangat karena cairan berbau menyengat tersebut.
Sandi hanya bisa mengerang dengan keadaan mulut yang masih ditutup. Dia merasakan rasa panas yang tidak tertahankan. Api dengan mudahnya membuat lapisan-lapisan kulitnya melepuh, bahkan hingga ke bagian paling dalam.
"Kubur dia, jika sudah mati!" Perintah Yudha, kepada Agung dan Haris. Dua bawahannya itu langsung mengangguk secara bersamaan.
Yudha berbalik dan berjalan memasuki villa. Dia hendak menghampiri Elisha yang terlihat sudah masuk ke dalam. Gadis tersebut berdiri di depan jendela, sambil menatap ke arah luar. Tatapannya tampak kosong, seolah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yudha. Dia tiba-tiba mendekat dan berbisik ke telinga. Elisha sontak terkejut dengan kedatangannya. Gadis itu terlihat gelagapan.
"Apakah yang aku lakukan barusan mengganggumu?" timpal Yudha. Memperhatikan mimik wajah yang ditampakkan oleh Elisha.
"Sedikit..." lirih Elisha.
"El, aku ingin menegaskan beginilah jati diriku. Jika kau tidak bisa menerima, aku bersedia melepaskanmu sekarang. Karena kau sudah banyak membantuku, maka aku tidak akan menyakiti dirimu sedikit pun. Pergilah, jika kau mau!" tutur Yudha panjang lebar. Keningnya sedikit mengukir garis-garis.
Elisha masih membisu seperti biasa. Dia memang tidak pernah melenceng dari reputasinya sebagai gadis yang pendiam.
"Tetapi jika kau memilih pergi, maka lebih baik kita tidak usah saling mengenal dan berhubungan lagi!" tambah Yudha. Menyebabkan Elisha reflek menatapnya.
"Sekarang?" Yudha memastikan. Dia paham dengan sikap yang ditampakkan Elisha. Meskipun gadis itu tidak menjawab semua pertanyaannya, tetapi dari gelagatnya, Yudha bisa tahu kalau Elisha memilih untuk tetap disisinya.
Elisha menganggukkan kepala. Dia dan Yudha langsung beranjak pergi dari villa. Membiarkan Agung dan Haris yang mengurus urusan kematian Sandi.
Yudha menghentikan mobil dengan pelan. Dia berhenti tepat di depan sebuah komplek perumahan terbengkalai. Di sana sangat sepi. Rumah-rumah yang ada bahkan terlihat sudah dipenuhi dengan tanaman merambat.
"El, apa kau hantu yang sengaja membawaku ke tempat angker ini?" tanya Yudha. Bermaksud bercanda. Elisha lantas merespon dengan tawa kecilnya. Dia bergegas keluar dari mobil, untuk menunjukkan jalan ke tempat rahasia.
Yudha mengekori Elisha dari belakang. Dia berjalan dengan santainya. Melewati jalanan setapak, yang entah dibuat oleh siapa.
Suasana terasa sangat mencekam. Suara jangkrik pun sama sekali tidak terdengar untuk menghiasi malam. Yudha dan Elisha hanya berbekal cahaya dari ponsel. Keduanya tampak santai saja.
Beberapa saat kemudian, Elisha menghentikan langkahnya. Dia menatap sebuah rumah yang menyendiri. Tepat berada di dekat pohon besar.
"Ayo!" ajak Elisha. Masuk lebih dahulu ke rumah yang disebutnya sebagai tempat rahasia. Elisha berjalan menuruni anak tangga. Di ikuti Yudha dari belakang.
"Aku awalnya berlari ke tempat ini karena ingin menyendiri. Tetapi tanpa sengaja aku menemukan basement rahasia di sini," ungkap Elisha. Dia sudah tiba di basement. Gadis tersebut segera menyalakan lampu yang ada di sana. Kemudian membuka pintu yang kebetulan ada di paling ujung.
Yudha melangkah memasuki ruangan dengan pintu bercat hitam itu. Pupil matanya seketika membesar, saat menyaksikan keadaan di ruangan tersebut. Bagaimana tidak? dinding ruangan itu dipenuhi dengan fotonya sendiri.
"Sial, dari mana kau mendapatkan foto-fotoku? Padahal aku sendiri pun sangat jarang berfoto!" ujar Yudha merasa tak percaya.
"Maaf Yud. Aku mengambil gambarmu secara diam-diam. Tetapi sekarang aku pastikan sudah berhenti melakukannya! Karena kau telah disisku..." Nada bicara Elisha memelan ketika mengucap kalimat terakhir. Dia terlihat menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. Sekan merasa bersalah. Suasana menghening untuk sejenak. Tidak ada yang saling bicara.
Tanpa diduga, Yudha tiba-tiba tertawa geli. Dia bahkan sampai menyentuh area perutnya.
"Kau kenapa malah tertawa?" timpal Elisha dengan dahi yang berkerut. Dia tentu merasa tersinggung. Menurutnya Yudha terkesan seperti mengejeknya.
"Yudha, hentikan!" geram Elisha. Raut wajahnya semakin masam.
Menyaksikan Elisha semakin marah, Yudha akhirnya menghentikan tawanya. Kedua tangannya langsung menangkup wajah gadis itu.
"Jadi, kau selama ini seorang penguntit?" Yudha mendekatkan wajahnya kepada Elisha.
"Itu membuktikan seberapa besar rasa sukaku kan?!" balas Elisha seraya menjauhkan tangan Yudha dari pipinya.
"Benar..." Yudha memanggut-manggutkan kepala. Sedangkan satu tangannya sibuk mengelus-elus dagunya sendiri. "Ternyata, kau gadis gila juga, El!" Komentarnya, yang seketika berhasil membuat ekspresi Elisha cemberut.
Yudha perlahan menatap dalam Elisha. Merubah mimik wajahnya menjadi serius. "Sepertinya kita senasib, dan memang ditakdirkan bersama. Karena obsesimu, aku yakin kau akan selalu berhasil menemukanku," ungkapnya penuh penghayatan.
"Tetapi aku tidak bisa menemukanmu, ketika kau selamat dari kebakaran!" imbuh Elisha. "Saat itu... aku merasa sangat terpukul. Tetapi, kedatangan sepasang suami istri yang mengapdosiku, setidaknya bisa membuatku tersenyum. Meskipun begitu, bukan berarti aku melupakanmu," sambungnya sambil berderap beberapa langkah mendekati Yudha. Kemudian memegangi pundak lelaki tersebut dengan kedua tangannya.
"Aku tahu..." Yudha menjawab lirih.