Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 25 - Reuni Palsu


...✪✪✪...


Sandi hanya menganggukkan kepala canggung. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Terutama bersikap kepada orang yang selama ini dianggapnya mati. Sandi hanya menggerakkan kakinya mengikuti langkah Yudha. Tepatnya masuk ke dalam mobil.


"Eh Yud, kamu mau ngajakin aku pergi sekarang? Tapi, aku hari ini--"


"Gitu ya kamu sekarang? Kamu nggak senang bisa ketemu aku lagi?" Yudha sengaja memotong perkataan Sandi.


"Bukannya gitu..." Sandi nampak kebingungan. Dia mengusap tengkuk tanpa alasan.


"Tega ya kamu sama teman lama." Yudha berusaha keras mempengaruhi. Dia berhasil membuat Sandi menutup mulutnya. Alhasil kini dia tidak punya pilihan selain masuk ke mobil Yudha. Saat itulah keberadaan Elisha juga menarik perhatiannya.


"Elisha?" tanya Sandi, memastikan. Dia yang duduk dikursi belakang bergegas mencondongkan kepala. Memperhatikan gadis yang duduk di sebelah Yudha.


"Hai San..." sapa Elisha dengan senyuman enggan.


Sandi yang melihat tersenyum lebar. "Gila! Kalian pacaran?" tanya-nya sembari menatap Yudha dan Elisha secara bergantian.


Elisha hanya terdiam mendengar pertanyaan Sandi. Dia hanya mengarahkan bola matanya ke arah Yudha. Gadis itu ingin Yudha yang menjawab.


"Iya, kami sebentar lagi akan bertunangan," jawab Yudha, yang sontak membuat mata Elisha membulat. Jantungnya langsung berdegub kencang. Wajahnya mendadak tersipu malu. Elisha tentu merasa senang mendengar dirinya diakui. Meskipun sebenarnya, hubungannya dan Yudha masihlah ambigu.


"Benarkah?" respon Sandi masih dengan senyuman lebarnya. Seakan merasa bahagia mendengar kabar baik dari Yudha.


"Itulah alasan aku sekarang menemuimu. Benarkan, El?" Yudha menoleh ke arah Elisha selintas. Kemudian kembali fokus mengemudikan mobil.


"Ah..." Elisha sempat bingung harus menjawab apa. Raut wajahnya yang merona harus berubah menjadi tegang. Namun setelah Yudha menoleh ke arahnya untuk yang kedua kali, baru gadis itu bergegas mengiyakan.


"Wah, selamat ya untuk kalian. Aku tidak menyangka, hubungan kalian akan terus berlanjut sampai sekarang," ujar Sandi. Dia memperhatikan Elisha melalui kaca spion yang ada di dekat jendela mobil depan.


Yudha mengarahkan mobilnya masuk ke jalanan sepi. Dia sebenarnya berniat membawa Elisha dan Sandi ke villanya yang ada di Alas Sari. Lokasi dimana pohon cemara dan suasana sejuk pegunungan mendominasi.


Villa yang akan didatangi Yudha sendiri adalah milik mendiang ayahnya. Dia juga sering pergi ke sana untuk sekedar berlibur dan berlatih menembak.


"Yud, kita kemana? Kok lewat jalan hutanan begini?" tanya Sandi, penasaran.


"Tenang aja, San. Jangan bilang kamu takut? Kau pikir aku akan membawamu ke hutan dan membunuhmu, begitu?" balas Yudha sinis. Dia menggeleng sambil terkekeh geli. Berlakon agar rencananya dapat berjalan lancar.


Mendengar respon Yudha, Sandi otomatis ikut tergelak. "Bukannya gitu, aku cuman penasaran aja," ucapnya berkilah. Jujur saja, hati Sandi dirundung perasaan tidak karuan. Tetapi dia berusaha berpikir positif sebisa mungkin.


Sementara Elisha hanya membisu. Dia sebenarnya juga penasaran dengan tempat yang dituju Yudha. Namun gadis tersebut memilih diam, karena berniat untuk terus berada dipihak Yudha. Dirinya membiarkan lelaki itu mengurus urusannya terhadap Sandi.


Beberapa saat kemudian, sampailah Yudha dan yang lain ke villa. Mereka segera keluar dari mobil dan melangkah menuju villa.


Yudha tentu saja yang berjalan memimpin lebih dahulu. Dia memberi alasan kepada Sandi, kalau malam ini ada acara penting di villa.


"Aku baru mengetahui kalau kau juga selamat dari insiden kebakaran, makanya aku bergegas mencarimu. Kau tidak tahu betapa senangnya aku melihatmu!" ungkap Yudha. Berbicara seraya memegangi salah satu pundak Sandi.


"Aku juga senang bisa melihatmu lagi, Yud!" balas Sandi. Curahan hati palsu di antara mereka berakhir ketika Elisha berdehem. Yudha yang mengerti lantas membuka pintu villa. Kebetulan dia selalu membawa kunci bangunan warisan ayahnya kemana-mana. Semuanya selalu tersimpan di laci dashboard mobil miliknya. Salah satunya adalah kunci villa di Alas Sari.


Ceklek...


"Yud, Elisha cantik ya sekarang. Pantas kau mau memacarinya. Aku juga kalau jadi kamu, pasti nggak bakal menyia-nyiakan dia..." bisik Sandi. Kemudian masuk ke dalam villa.


Mendengar pernyataan Sandi, Yudha perlahan menatap ke arah Elisha. Menilik penampilan gadis itu dari ujung kaki hingga kepala.


"Apa?" tanya Elisha dengan dahi yang mengernyit. Dia tentu bingung terhadap gelagat Yudha yang tiba-tiba memperhatikannya. Namun Yudha hanya merespon dengan menggedikkan bahu. Lalu berderap mengiringi Sandi.


"Waaaah... meskipun rumahmu sudah terbakar habis, tetapi hartamu ternyata tidak habis-habis!" imbuh Sandi sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Villa milik Yudha memang mewah. Bahkan bersih dan terawat. Hal itu dikarenakan Deny selalu rutin memeriksa semua properti milik Yudha. Dia biasanya menyuruh salah satu bawahannya untuk melakukan pemeriksaan.


Ketika Sandi sibuk melihat-lihat, Yudha diam-diam mengambil alat pemukul bisbol. Dia masih ingat dimana benda tersebut disimpan olehnya beberapa bulan lalu. Tepat dirinya dan Ferdi seringkali melakukan olahraga bisbol di halaman belakang.


"Eh, Yud. Aku--"


Buk!


Belum sempat bicara, Yudha sudah menghantam kepala Sandi dengan alat pemukul bisbol. Sandi sontak tidak sadarkan diri. Tubuhnya langsung terjatuh ke lantai.


"Yudha!" Elisha reflek memanggil. Dia tentu terkejut dengan tindakan yang baru saja dilakukan Yudha. Gadis itu mematung sambil mengamati apa yang dilakukan Yudha selanjutnya.


"Kau mau apakan dia?" tanya Elisha.


"Duduklah dan nikmati waktumu, El. Biarkan aku mengurus masalahku sendiri," saran Yudha sambil menyeret Sandi di lantai. Dia membawanya ke gudang. Seperti biasa, Yudha akan mengikat tawanannya ke kursi. Tidak lupa untuk menyumpal mulut Sandi dengan lakban serapat mungkin.


Untuk berjaga-jaga, Yudha memastikan tidak ada benda tajam disekitar. Dia juga memeriksa semua kantong yang ada di baju dan celana Sandi. Benar saja, Yudha berhasil menemukan sebuah gunting.


"Ah... sudah kuduga," gumam Yudha. Tersenyum puas. Selanjutnya dia lantas mengurung Sandi di gudang.


Yudha segera menemui Elisha. Gadis itu terlihat duduk di sofa dengan kepala yang menunduk.


"El, apa kau lapar?" tanya Yudha sembari duduk tepat di sebelah Elisha.


Elisha menggeleng pelan. "Yud, apa kau akan menyakiti Sandi, seperti yang kau lakukan kepada Anton?" tanya-nya. Menunjukkan ekspresi wajah serius.


"Kemungkinan besar aku juga akan membunuhnya," sahut Yudha santai. Ucapannya menyebabkan mata Elisha reflek membelalak.


"Ke-kenapa?" Elisha menuntut jawaban.


Yudha mendengus kasar. Lalu mengatakan tentang jati dirinya kepada Elisha. Dia mempercayai gadis tersebut, karena Elisha sudah terbukti banyak berkorban untuk menolongnya. Kini Elisha sudah sepenuhnya tahu, bahwa Yudha terbiasa melakukan aksi pembunuhan. Bukan hanya itu, Yudha juga menceritakan tentang kedua orang tuanya.


Elisha mematung. Dia menatap Yudha dengan getir. Salivanya tanpa sengaja tertelan sendiri. Dirinya merasa sedikit takut.


"Apa kau takut?" tanya Yudha seraya memegang jari-jemari Elisha dengan lembut. Kemudian mengecupnya pelan. Matanya tidak teralihkan untuk menatap. Berharap dirinya tetap mendapatkan hati Elisha.


Elisha mencoba menenangkan diri, dan bertanya, "A-apa kau tidak takut dengan polisi? Atau seseorang mengetahui tindakanmu?"


Yudha tersenyum tipis. "Tidak. Percayalah kepadaku, aku bahkan bisa mengendalikan mereka hanya dengan uang," terangnya pelan.


"El, aku ingin kau terus disisiku. Aku ingin kau menemaniku untuk membalaskan dendam. Kau masih bersedia bukan?" Yudha kembali bertanya. Tangannya masih sibuk membelai lembut jari-jemari Elisha. Seperti biasa, Yudha selalu pandai berakting.