
...✪✪✪...
Sementara Yudha di penjara, Elisha dibawa pulang oleh Yanto. Gadis itu akhirnya dapat bertemu dengan Mirna. Namun sayangnya, Elisha sama sekali tidak bahagia.
Elisha beberapa kali mencoba melarikan diri. Dia bahkan tega memukul kepala Mirna dengan sebuah vas bunga. Saat itulah Yanto turun tangan dan terpaksa mengurung Elisha di dalam kamar.
"El, aku berjanji akan menyembuhkanmu. Kau akan menjadi normal seperti dulu," ujar Yanto sembari menempelkan telinga ke pintu.
"Aku tidak mau menjadi seperti dulu! Aku ingin menemui Yudha!" pekik Elisha. Dia memukuli pintu dengan keras.
Yanto geleng-geleng kepala. Dia menatap nanar pintu kamar Elisha. Sedangkan Mirna yang berdiri di sebelahnya, hanya bisa menangis sesegukan. Mereka tentu merasa miris dengan apa yang sudah menimpa Elisha.
"Yudha benar-benar mempengaruhi Elisha..." gumam Yanto.
"Kita harus minta bantuan seorang psikiater. Mungkin Elisha bisa sembuh kembali. Aku tidak bisa terus-terusan melihatnya begini..." lirih Mirna yang masih menangis. Yanto lantas hanya bisa mengelus pundak Mirna dengan lembut.
Di sisi lain, Yudha mulai terbiasa hidup di penjara. Dua teman lapasnya yang bernama Rori dan Aden sudah tidak mengganggu lagi.
Kini Yudha sedang menikmati makanan di kantin khusus untuk semua lapas. Dia banyak melihat orang-orang baru di sana. Ada banyak sekali wajah-wajah sangar yang mengancam. Akan tetapi Yudha sama sekali tidak takut.
"Yudha Antariksa!" seorang polisi mendadak memanggil. Yudha sontak bangkit dari tempat duduk.
"Ikut aku!" titah sang polisi. Dia segera menuntun jalan untuk Yudha.
"Pengacaramu sudah menunggu. Masuklah!" polisi yang mengantarkan Yudha membukakan pintu.
Yudha lantas melangkah masuk ke dalam ruangan. Di sana dia bertemu seorang lelaki bersetelan jas rapi. Namanya adalah Randi. Pengacara yang akan membantu Yudha dipersidangan.
Yudha mengamati ekspresi Randi lamat-lamat. Menurutnya Randi terlihat serius dan sama sekali tidak memberikan sambutan dengan ramah.
"Polisi menemukan banyak sekali bukti di rumahmu. Kau tidak hanya membunuh satu orang. Tetapi lebih dari itu. Benar bukan?" tanya Randi memastikan.
"Mereka menemukan apa? Beritahu aku." Yudha menjawab dengan tenang.
"Mereka banyak menemukan darah dengan DNA yang berbeda-beda. Terutama dari senjata belatimu." Randi memberitahu sambil menunjukkan foto pisau belati dengan ponselnya.
"Ah, benar. Forensik... aku melupakan keahlian polisi di bidang itu." Yudha mendengus kasar. Dia benar-benar kalah telak dari polisi.
"Aku sangat kagum kepadamu. Kau langsung mengakui kesalahanmu saat di interogasi. Jadi aku tidak perlu repot-repot melakukan pembelaan," ungkap Randi. Dia meletakkan dua tangan ke atas meja.
"Dengar Yudha. Masalahnya adalah... namamu sedang menjadi perbincangan publik sekarang. Mereka mengajukan petisi hukuman mati untukmu," tambah Randi.
"Banyak. Bahkan jika kau mengelak, kau tidak akan bisa." Randi terlihat kukuh. Bukannya berusaha membantu Yudha, dia justru memojokkan. Sepertinya Randi juga sependapat dengan orang-orang.
"Kau pengacara tidak berguna. Aku ingin pengacara yang lain. Jangan pernah temui aku!" pungkas Yudha sambil mengeratkan rahang. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Randi.
Sebelum Yudha sempat membuka pintu, Randi terdengar berseru, "Percayalah... siapapun pengacaranya, mereka pasti melakukan hal yang sama sepertiku. Jujur saja, orang sepertimu memang pantas di hukum mati!"
Yudha berbalik badan. Berseringai dalam keadaan mata yang mendelik tajam. "Itu menurutmu, sialan!" Yudha merutuk. Lalu benar-benar pergi ke luar ruangan.
"Izinkan aku menggunakan telepon. Aku akan memilih pengacaraku sendiri!" pinta Yudha. Polisi yang bersamanya pun mengizinkan.
Yudha segera di bawa ke ruangan khusus untuk menelepon. Di sana dia menghubungi Roy.
"Roy? Ini aku Yudha," ujar Yudha pelan.
"Sial! Apa itu benar-benar kau? Apa yang terjadi kepadamu? Aku melihat wajahmu di berita. Kau dan Elisha baik-baik saja bukan?" tanya Roy dari seberang telepon.
Yudha menceritakan segalanya secara ringkas. Dia menginginkan bantuan Roy untuk mencarikan pengacara. Sebagai orang yang bergelut di dunia hacker, Roy tentu sudah sangat ahli dalam hal menipu. Yudha yakin bisa mempercayainya. Selain itu, dengan kehadiran Roy, Yudha merasa memiliki peluang untuk melarikan diri dari penjara.
"Baiklah, aku akan bersiap pergi menemuimu. Berhati-hatilah. Kita akan segera menjemput Elisha secepatnya!" seru Roy. Sesi pembicaraannya dengan Yudha segera berakhir.
Yudha menghabiskan waktu menelepon sekitar sepuluh menit. Dia langsung dibawa kembali bergabung bersama tahanan lain.
Kebetulan semua tahanan sedang menjalani kegiatan kerja bakti di luar ruangan. Mereka disuruh menghabiskan waktu untuk berolahraga dan bersih-bersih.
Yudha memilih duduk menyendiri di sebuah bangku panjang. Jujur saja, dia sekarang tengah menjadi pusat perhatian untuk semua orang. Bahkan para polisi yang berjaga juga membicarakannya. Berita tentang Yudha sudah menyebar luas begitu cepat. Tidak ada lagi reputasi baik untuknya.
"Hai, kawan! Boleh aku bergabung denganmu?" tegur seorang lelaki berperawakan kurus. Kulitnya hitam lutung dan berwajah cukup sangar.
Yudha yang tidak masalah, sedikit bergeser. Dia membiarkan lelaki kurus itu duduk di sebelahnya.
"Kenalkan namaku Rian." Si lelaki kurus memperkenalkan diri.
"Aku yakin kau pasti sudah tahu namaku," sahut Yudha yakin. Rian tentu langsung mengangguk.
"Namamu sangat populer sekarang. Mungkin kau harus bersiap untuk mendapatkan tawaran film dokumenter," tanggap Rian. Ia terdiam sejenak. Lalu melanjutkan, "mungkin semua orang mengejekmu sekarang. Tapi aku tidak! Aku justru kagum kepadamu. Akhirnya aku menemukan orang yang sepemikiran denganku."
Yudha menoleh ke arah Rian. Dia ingin mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Perlahan Rian mendekatkan mulut ke telinga Yudha dan berbisik, "Aku adalah pembunuh berantai..."