
...✪✪✪...
Yudha dan Roy telah tiba di apartemen. Di sana Roy langsung bergumul dengan laptop Yudha. Kemudian menjelajahi dark web. Lelaki yang usianya satu tahu lebih tua dari Yudha itu, tidak butuh waktu yang lama untuk melakukannya, karena dia memang sudah ahli dengan perangkat lunak komputer. Ini bukan pertama kalinya Roy masuk ke laman dark web.
"Bagaimana?" tanya Yudha, yang sedari tadi mengamati kegiatan Roy. Atensi mereka sama-sama tertuju ke layar laptop. Keduanya semakin terfokus ketika sebuah halaman web dengan background gelap muncul. Di sana juga terdapat beberapa video yang bisa dibuka.
"Elang Satan?" pupil mata Yudha membesar saat membaca tulisan yang ada di bagian atas laman web. Jelas nama itu merupakan nama organisasi mafia milik ayah dan ibunya dulu. Mata Yudha terpaku. Enggan mengedip walau hanya satu kali.
"Tunggu, tunggu. Aku sepertinya tidak asing dengan channel web ini," ungkap Roy sembari memegangi dagu. Dahinya mengerut penuh tanya.
"Benarkah?" respon Yudha. Dia menoleh ke arah Roy.
"Bolehkah aku tahu alasan, kenapa kau ingin membuka laman web ini?" tanya Roy.
"Entahlah, aku masih belum mempercayaimu. Jadi, aku tidak bisa memberitahumu dengan mudahnya," jawab Yudha seraya menyunggingkan mulutnya ke kanan. "Bisakah kau membuka salah satu video itu, aku ingin melihatnya," lanjutnya. Sengaja mengubah topik pembicaraan.
Roy balas berseringai. Dia lantas menuruti perintah Yudha. Terputarlah sebuah video. Dalam video itu ada sosok misterius berjubah hitam dan memakai penutup wajah berbentuk kepala elang. Sosok tersebut memperlihatkan puluhan toples kaca yang ada di atas meja. Di sana terdapat beragam organ dalam manusia. Dari jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya.
"Dia salah satu orang yang dikenal menjual organ-organ manusia. Bahkan aku pernah melihat di beberapa komentarnya, kalau dia juga menjual daging manusia," ujar Roy memberitahu. Dia mengamati raut wajah yang ditampakkan Yudha. Terkesan biasa saja. Menyebabkan Roy otomatis mengembangkan senyuman tipis.
"Sepertinya kau juga menyukai hal begini kan? Itulah alasanku sejak awal tidak bertanya kepadamu, apakah kau takut atau tidak. Aku bisa melihat dari gelagatmu yang cenderung merasa penasaran dibanding rasa takut," imbuh Roy lagi.
"Biar aku bertanya." Yudha yang sempat mengarahkan penglihatannya ke layar laptop, kini beralih kepada Roy. "Apa kau pernah membunuh seseorang? Jika pernah, mungkin kita bisa berteman," lanjutnya.
Roy memecahkan tawa. Menampakkan deretan gigi gerahamnya yang masih bagus. Kepalanya mendongak ke atas. Seolah apa yang dikatakan Yudha kepadanya sangatlah lucu.
Yudha hanya membisu. Dia tidak heran dengan sikap yang ditunjukkan Roy. Malah Yudha merasa menemukan seseorang yang mirip dengannya.
"Berteman kau bilang?" tawa Roy perlahan terhenti. Kepalanya menggeleng beberapa kali. "Aku tidak pernah punya teman seumur hidupku. Jika ada, dia pasti adalah seorang pengkhianat!" ucapnya melanjutkan.
"Apa kau membunuh pengkhianat itu?" tukas Yudha, yang seketika berhasil membuat mata Roy terbelalak. Seakan dirinya merasa tertangkap basah.
Roy yang tadinya biasa saja, sekarang terlihat gelagapan. Matanya meliar akibat gugup. Dia sebisa mungkin berusaha menutupi kepanikannya dari Yudha.
"Sudahlah, tidak perlu dijawab pun aku tahu. Katakan saja kepadaku, aku tidak akan memberitahukannya kepada siapapun." Yudha memegang pelan pundak Roy.
"Hentikan, Kau tidak akan mengerti! Sekarang lebih baik kau berikan saja upahku!" Roy melepas paksa tangan Yudha dari pundaknya. Dia bangkit dari tempat duduk dan meraih tas ranselnya.
"Kau tidak perlu panik, Roy. Aku juga seorang pembunuh sepertimu." Meski Roy tidak menceritakan apapun. Yudha dapat menyimpulkan lebih dahulu. Sebab dirinya bisa melihat jelas kegugupan yang ditunjukkan dari gelagat Roy.
Roy yang tadinya hendak pergi, menghentikan pergerakannya. Dia mengarahkan bola matanya ke arah Yudha. Memastikan keseriusan yang diucapkan oleh lelaki yang baru dikenalnya tersebut.
"Sudah berapa kali kau melakukan pembunuhan?" tanya Roy. Rasa paniknya langsung hilang, karena dirinya dapat menyaksikan ekspresi Yudha yang tampak meyakinkan.
"Yang jelas lebih dari lima orang. Aku tidak menghitungnya." Yudha menggedikkan bahunya dengan santai. Seolah apa yang dikatakannya hanya hal biasa.
"Aku melakukannya karena memiliki alasan," kata Yudha. Dia kembali memperhatikan layar laptop. Memeriksa satu per satu video yang ada.
Sementara Roy, masih membisu. Dia menatap selidik ke arah Yudha. Jujur saja, ada banyak hal yang ingin ditanyakannya. Apalagi setelah mendengar segala ungkapan Yudha terhadapnya.
"Bisakah kau membuktikannya? Kau tidak membohongiku kan? Bisa saja kau seorang detektif yang menyamar," celetuk Roy dengan tatapan tajamnya.
Yudha tergelak kecil dan menyahut, "Katakan kepadaku, apakah ada seseorang yang ingin kau bunuh?"
"Untuk sekarang tidak ada." Roy menggelengkan kepala. "Tetapi aku punya seekor anjing yang menyebalkan."
"Astaga, aku tidak mau membunuh seekor binatang. Sama sekali bukan gayaku," balas Yudha. Dia masih menyibukkan diri menjelajahi dark web.
"Jangan berlagak," komentar Roy. Lama-kelamaan dia menikmati pembicaraannya dengan Yudha.
"Aku tidak berlagak. Coba pikirkan, akhir-akhir ini banyak manusia bersikap lebih buruk dari binatang," jelas Yudha, yang seketika berhasil membuat Roy mengukir senyuman. Dia tidak bisa membantah pernyataan Yudha.
Ding!
Dong!
Bel mendadak berbunyi. Pertanda ada seseorang yang hendak bertamu. Yudha bergegas memeriksa kamera pengawasnya terlebih dahulu. Dia ingin melihat siapa orang yang memencet bel dipintunya.
Senyuman mengembang diwajah Yudha, ketika menyaksikan Elisha-lah yang berdiri di depan pintunya. Gadis itu tampak memegang kotak makanan ditangannya.
Bukannya membukakan pintu, Yudha malah menghampiri Roy. "Bisakah kau membantuku?" ujarnya. Menyebabkan kening Roy sontak mengernyit penuh tanya.
"Baiklah, tetapi kau harus menaikkan bayaranku," jawab Roy yang masih duduk tenang disofa.
"Itu hal mudah. Cepat bukakan pintu, dan sambutlah makanan yang diberikan gadis itu, oke?... Bersikaplah seperti orang pemilik apartemen ini," suruh Yudha.
Roy mengangguk, lalu segera berderap untuk membuka pintu. Muncullah sosok Elisha yang masih setia menunggu.
Melihat penampilan Roy yang agak berandal, Elisha merasa enggan untuk bicara. Meskipun begitu, dia tidak bisa lari, karena Roy sudah terlanjut membukakan pintu.
Padahal awalnya Elisha sangat bersemangat menemui tetangga barunya. Sebab pemilik gedung apartemen memberitahukannya, kalau tetangga barunya adalah orang yang berasal dari negara Indonesia sepertinya.
"Aku dengar kau baru saja menempati apartemen ini. Aku hanya berusaha bersikap baik kepada tetangga baruku." Elisha menyodorkan kotak makanan yang dibawanya. Rekahan senyumnya terlihat kecut. "Aku kebetulan membuat cokelat chips hari ini," tuturnya mencoba bersikap ramah.
"Terima kasih, Babe. Kau manis sekali." Roy mengambil kotak berisi kue pemberian Elisha. Godaannya membuat Elisha merasa risih, kemudian lekas-lekas ingin beranjak pamit.
"Kau langsung pergi? Apa tidak mau mampir dulu. Mungkin saja kita bisa memakan kuemu bersama-sama. Aku akan memberikan komentar seperti juri yang ada dalam kompetisi memasak." Roy kembali mencoba menggoda Elisha.
Yudha yang mendengar sontak memutar bola mata sebal. Dia bersembunyi dari balik dinding. Menurutnya Roy benar-benar bersikap berlebihan.