Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 40 - Kantong Mayat


...✪✪✪...


Elisha tersenyum kecut dan menggeleng pelan. Dia lekas-lekas pergi dari pandangan Roy. Selanjutnya Roy segera menutup pintu, lalu duduk ke sofa. Yudha lantas menghampirinya.


"Mengenai dark web, kenapa kau begitu mudah mengaksesnya? Sedangkan aku tidak." Yudha menatap Roy denga sudut matanya.


"Sebelum mengaksesnya, aku harus menginstal aplikasi pengaman terlebih dahulu. Aku yang membuat aplikasi itu sendiri. Sebab aplikasi pengaman yang beredar di internet, tingkat keamanannya masih sangat rendah!" jawab Roy. Yudha yang mendengar hanya mengangguk-anggukkan kepala.


"Ngomong-ngomong mengenai gadis tadi, apa kau menyukainya? Biar aku tebak, apakah alasan kau tinggal di sini karenanya?" tanya Roy, penasaran.


"Aku tidak mau membicarakan masalah pribadiku, kepada orang yang tidak mau berteman denganku," balas Yudha dengan senyuman singkat. Kemudian mengambil ponselnya.


"Aku tahu, tapi bolehkah aku berubah pikiran? Setelah mengobrol banyak hal denganmu, aku menjadi tertarik ingin memiliki teman. Kau berbeda, maksudku... Kau punya ketertarikan yang sama denganku. Sangat jarang aku bisa bertemu dengan seseorang sepertimu." Roy nampak berbicara serius.


"Terserah apa katamu. Bisakah kau pergi sekarang? Aku akan menghubungimu jika aku memang membutuhkan teman," respon Yudha.


Ekspresi wajah Roy seketika cemberut. Dia langsung berdiri sembari meraih tas ransel. Sebelum pergi, lelaki itu tentu mendapatkan transfer uang dari Yudha.


Satu minggu telah berlalu. Yudha sudah terbiasa menjelajahi dark web. Dia tidak dapat mengelak, kalau dirinya sangat menyukai chanel-chanel gila yang ada di sana.


Di suatu malam, ketika Yudha membuka pintu apartemennya, dia kebetulan memergoki Elisha membawa sebuah kantong mayat. Gadis tersebut juga baru saja hendak keluar seperti Yudha. Matanya langsung membelalak saat menyaksikan Yudha.


"Yudha? Sejak kapan kau..." Elisha mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan. Kemudian kembali membawa masuk kantong mayat ke dalam apartemennya.


"Apa itu, El?" Yudha sontak penasaran. Dia ikut masuk ke dalam apartemen Elisha.


Bruk!


Setelah Yudha masuk, Elisha segera menutup pintu rapat-rapat. "Apa kau selama ini tinggal di gedung ini juga? Lantai yang sama denganku?" timpal Elisha terperangah.


"Kenapa kau bertanya. Sudah jelas-jelas aku ada di depan matamu." Yudha mengulurkan kedua tangan ke depan. Atensinya kembali terfokus ke arah kantong mayat yang tadi sempat dibawa Elisha.


"Di dalamnya hanya sampah kan?" tanya Yudha sembari mengarahkan jari telunjuknya ke kantong mayat.


"Be-begitulah..." Elisha menjawab tanpa menatap mata Yudha. Saat itulah Yudha semakin dibuat penasaran. Tanpa pikir panjang, Yudha segera memeriksa isi kantong mayat tersebut.


"Yudha!" Elisha berupaya menghentikan Yudha. Akan tetapi pergerakannya agak lambat. Hingga Yudha pun berhasil melihat apa yang ada di dalam kantong mayat.


Pupil mata Yudha membesar ketika melihat kebenaran. Dia otomatis menoleh ke arah Elisha.


"Bukankah dia gadis berambut pirang yang merundungmu? Ya ampun El, bukankah kau pernah menyebutku tidak normal?! Sekarang lihat dirimu!" tukas Yudha. Mendekat satu langkah ke hadapan Elisha.


"Aku tidak sengaja, oke!" Elisha melakukan pembelaan. Dia terlihat mengacak-acak rambutnya frustasi. Lalu terduduk di lantai. Gadis itu merengek. Menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya.


Yudha yang menyaksikan segera menghampiri. Dia berjongkok menghadap Elisha. Malayangkan tatapan empatinya.


"Maafkan aku..." ungkap Yudha lembut.


"Aku sudah mencoba... tetapi tidak bisa..." lirih Elisha ditengah-tengah isak tangisnya.


"Mencoba apa?" Yudha memegang pelan lutut Elisha yang terlipat. Perlahan gadis tersebut mendongak, dan menampakkan wajahnya yang telah berlinang air mata.


Yudha terdiam untuk sesaat. Dia menatap lekat Elisha. Dirinya bertanya-tanya alasan kenapa keputusan gadis tersebut sering berubah-ubah. Yudha berpikir Elisha menderita gangguan kepribadian. Dia yakin setelah menyaksikan sikap Elisha yang cenderung tidak konsisten. Orang yang berada disisi Elisha adalah kunci penting terhadap perubahan sikap gadis itu.


"Jika tidak bisa, jangan memaksakan dirimu. Bukankah itu menyiksamu?" ujar Yudha seraya mengusap lembut air mata yang ada dipipi Elisha. Dia berniat mengambil alih lagi ketertarikan Elisha.


"Aku berusaha menjadi orang yang baik, tetapi kenapa selalu saja ada orang-orang yang suka merundungku. Kau tahu kan... Semuanya terjadi semenjak aku sekolah, dan..." ucapan Elisha terjeda, saat Yudha mendadak membawanya masuk ke dalam pelukan.


"Aku ada di sini bersamamu. Bukankah aku satu-satunya orang yang tidak pernah risih dengan keberadaanmu?" ucap Yudha. Tangannya membelai lembut kepala Elisha.


"Aku tahu..." lirih Elisha.


Yudha perlahan melepaskan pelukannya, dia tersenyum. Kemudian beranjak menyeret kantong mayat milik Elisha.


"Apa kau akan mengurusnya untukku?" tanya Elisha. Dia sudah berdiri dan mengamati gerak-gerik Yudha.


"Tentu saja. Apa kau punya pisau yang sangat tajam?" Yudha membawa kantong mayat menuju kamar mandi.


"Ada banyak. Aku kuliah di jurusan memasak, tentu harus punya banyak pisau di dapur. Pisau ternyata memiliki jenis-jenis yang berbeda," sahut Elisha. Melangkah untuk mengambilkan pisau.


"Baiklah, serahkan salah satunya kepadaku. Kalau kau berminat, bantulah aku juga," ujar Yudha.


Elisha telah memberikan pisau paling tajam miliknya. Selanjutnya dia memperhatikan apa yang akan dilakukan Yudha.


"Bagaimana kau bisa membunuhnya?" tanya Yudha. Dia menatap ke arah Elisha secara selintas.


"Aku memukul kepalanya dengan benda keras." Elisha berdiri di depan pintu. Dia meringiskan wajah ketika melihat tangan Yudha sibuk memotong-motong tubuh Kate menjadi beberapa bagian.


"Apa ada orang yang insiden pembunuhanmu itu?" Yudha kembali bertanya.


"Tentu tidak. Kate yang datang ke sini lebih dahulu. Yang dia lakukan hanya mencaci makiku dengan kalimat kasarnya," terang Elisha.


"Ah, begitu..." Yudha mencoba memahami.


"Kau akan membuangnya kemana?" Elisha memandang serius ke arah Yudha.


"Kita tidak akan membuangnya." Yudha menjawab dengan senyuman tipis. Dia barus selesai kembali memasukkan potongan tubuh Kate ke dalam kantong mayat. Yudha mencuci tangan terlebih dahulu, lalu menghubungi Roy untuk datang.


"Kau tadi menelepon siapa?" Elisha menimpali, setelah melihat Yudha baru selesai berbicara lewat telepon.


"Teman baruku. Apa kau juga mau ikut menjadi bagian dari tim?" kedua alis Yudha tampak terangkat. Dia menatap penuh harap.


"Yud, aku sangat berterima kasih dengan bantuanmu sekarang. Tetapi, aku..."


"Kau takut dengan kedua orang tuamu bukan?" Yudha sengaja memotong ucapan Elisha. Sebab dia yakin bisa menebak kekhawatiran yang sedang dirasakan gadis tersebut.


Elisha hanya membisu. Dia tidak dapat menampik terkaan Yudha yang memang benar adanya. Dirinya merasa Yanto dan Mirna sangatlah baik. Jadi Elisha tidak tega berbuat semena-mena. Apalagi fasilitas hidup yang kini dinikmatinya adalah milik kedua orang tua tirinya itu.


"Ayolah, El. Mereka tidak akan tahu jika kau bisa menyembunyikannya dengan baik." Yudha mendengus kasar. "Lagi pula, aku yakin kau tidak akan mampu mendapatkan seseorang sepertiku. Aku satu-satunya yang mengerti dirimu." Yudha berupaya keras untuk mempengaruhi. Apalagi setelah dirinya menganalisis kenyataan, bahwa Elisha mengalami gangguan kepribadian. Mempengaruhi seseorang yang menderita penyakit mental itu tentu tidaklah sulit.