
Brian dan Marvin di sambut dengan wajah serius dari orang tua, serta paman dan bibi mereka. Beberapa sepupu mereka juga ada di sini, dengan wajah kebingungan. Mereka sepertinya belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.
"Baiklah. Semuanya sudah berkumpul sekarang," ucap Doni, ketika melihat semua saudara, anak, serta keponakannya berkumpul di ruang rapat.
Doni memandang dengan lekat wajah-wajah mereka yang hadir di sini. Terutama wajah dari anak dan keponakannya. Di antara semua yang hadir di sini, kemungkinan besar merekalah yang menjadi penyebab awal terjadinya masalah besar ini.
"Sebenarnya, apa yang terjadi, Om Don? Masalah besar apa yang terjadi sehingga Om Doni ngumpulin kita semua di sini?" tanya Marvin.
"Harga saham perusahan kita di pasar modal mengalami penurunan harga yang sangat derastis. Ada yang mempermainkan harga saham milik kita," jelas Doni.
"Turun? Bukankah itu hal yang cukup wajar, Om? Perusahaan kita cukup sering mengalami penurunan harga saham. Itu nggak akan berlangsung lama. Paling sehari dua hari harganya bisa kembali normal bukan? Jadi, untuk apa meminta kami semua berkumpul?" tanya Steven, salah satu keponakan Doni.
Harga saham yang dijual di pasar modal tidak ada yang terus menerus mengalami peningkatan. Terkadang, harganya akan turun cukup derastis. Bagi Steven, ini adalah hal yang cukup wajar. Seiriny berjalannya waktu, harga saham perusahaan keluarga mereka akan naik dengan sendirinya.
"Ini sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya, Steven. Jika sebelum ini, perusahaan kita mengalami penurunan harga saham karena memang ada sedikit masalah dengan proyek yang kita kerjakan. Setelah proyek tersebut selesai dengan baik, harga saham kita kembali melambung," jelas Doni.
"Akan tetapi, sekarang ini ada yang mempermainkan harga saham perusahaan kita. Dia membeli semua saham yang beredar di pasar modal, dan menjualnya kembali dengan harga yang sangat murah. Itu membuat harga saham kita turun dengan cepat," imbuh Doni.
"Apa? Bagaimana mungkin bisa kayak gitu? Kalo ada orang yang benar-benar ngelakuin itu, bukankah itu ngebuat dia rugi? Beli mahal tapi dijual murah. Mana ada orang yang melakukan hal itu. Apa dia sudah segila itu?" tanya Marvin yang tidak mempercayai ucapan Doni.
Meski saham perusahaan mereka tidak semahal saham perusahaan besar, jumlah uang yang perlu dikeluarkan untuk mempermainkan harga saham cukuplah besar. Marvin tidak bisa memikirkan ada orang yang melakukan hal seperti itu kepada keluarga mereka.
"Orang gila itu benar-benar ada, Marvin. Jika Kamu tidak percaya, coba cek sendiri pergerakan saham perusahaan kita di bursa efek," ucap Doni.
Marvin dan sepupunya yang lain langsung mengeluarkan ponsel milik mereka dan membuka laman web untuk melihat informasi yang Doni minta. Meski Doni sudah mengatakannya, tetapi Marvin masih cukup kaget melihat harga saham milik keluarga mereka.
Sebelum ini, harga saham mereka enpat ratus hingga enam ratus per lembarnya. Namun, sekarang ini harga saham perusahaan mereka sudah berubah menjadi seratus lima puluh per lembarnya. Penurunan harga itu sangatlah besar.
"Aku juga mempertanyakan hal yang sama. Tidak ada yang akan menargetkan keluarga kita sampai seperti ini jika orang itu tidak punya dendam. Orang ini cukuplah kaya dan sangat pendendam."
"Jadi, aku ingin bertanya kepada kalian, siapa yang sudah kalian singgung akhir-akhir ini?" tanya Doni sembari menatap lekat wajah dari anak dan keponakannya. Doni ingin melihat apakah mereka melakukan perubahan ekspresi di wajah mereka atau tidak.
Jika ada yang memasak ekspresi cukup aneh, maka Doni patut mencurigai orang tersebut sebagai penyebab masalah yang terjadi di keluarga mereka ini. Sebagai CEO perusahaan ini, Doni menginginkan yang terbaik untuk perusahaan.
Jika ada yang mengganggu kepentingan perusahaan, maka ia akan menghukum orang tersebut. Tidak peduli dia adalah anak kandungnya atau keponakannya.
"Jadi, Om Doni menuduh kami sebagai penyebab turunnya harga saham perusahaan?" tanya Steven yang tidak terima mendapatkan tuduhan seperti itu.
"Ya. Aku yakin ada di antara kalian yang sudah menyinggung seseorang yang tidak seharusnya kalian singgung. Kalian sudah membuat orang itu marah. Akibatnya, dia membalas dendam dengan membuat saham perushaan kita turun derastis seperti ini," ucap Doni.
"Sekarang, katakan padaku, siapa yang sudah melakukan hal itu? Siapa orang yang kalian singgung? Katakan cepat!" bengak Doni.
Jika ia tahu siapa yang sudah merasa tersinggung dengan tindakan anggota keluarganya, Doni mungkin memiliki kesempatan untuk memperbaiki semua ini. Mungkin dia bisa meminta maaf kepada orang tersebut. Doni harus melakukan sesuatu agar perusahaannya ini bisa terselamatkan.
"Aku tidak melakukan apa pun. Aku sama sekali tidak menemui orang baru akhri-akhir ini. Aku sudah sangat tahu siapa saja yang boleh dan tidak boleh aku singgung. Jadi, bukan aku orangnya," ucap Brian dengan penuh percaya diri.
"Itu juga bukan aku. Aku hanya sibuk mengurusi proyek yang aku kerjakan. Om Doni, mengapa Om malah nuduh kami kayak gitu? Yang menjadi penyebab terjadinya semua ini belum tentu aku atau sepupuku yang lain, Om. Jangan salahkan kami seperti itu," jelas Marvin.
"Ya itu benar, Pa. Apa mungkin Papa atau Om dan Tante yang melakukannya?" tanya Brian.
Meski mereka keluarga, tetapi hubungan mereka tidaklah terlalu harmonis. Mereka hanya berfokus pada keuntungan individu saja. Ketika ada masalah seperti ini, mereka akan saling menyalahkan satu sama lain.