Multiworld Merchant

Multiworld Merchant
Mengalahkan Para Preman


Preman-preman itu mulai menyabetkan pisau di tangan mereka secara bersamaan. Ini membuat Adam perlu memperkirakan arah pisau-pisau itu agar bisa menghindarinya. Adam langsung meraih tangan Mamat, karena pisau laki-laki itu cukup dekat dengan tubuhnya.


Dengan satu tarikan kuat, Adam membuat tubuh Mamat maju beberapa langkah, lebih dekat dengan tubuh Adam. Dari arah kanan Mamat, ada pisau lain yang mendekat. Gerakan Adam menarik Mamat yang begitu cepat, tidak memberi kesempatan bagi preman itu untuk menarik pisaunya. Hal itu membuat pisau itu tertancap di lengan kanan Mamat.


"Arrghh," teriak Mamat karena merasakan tangannya sangat sakit setelah tertusuk pisau.


Meski Mamat behasil "melindunginya" dari serangan preman yang lain, itu tidak membuat Adam memiliki niatan untuk melepaskan laki-laki itu begitu saja. Mamat masih bisa menjadi tamengnya untuk menerima serangan preman-preman lainnya.


Dengan satu tarikan, posisi Mamat berubah dari posisi sebelumnya. Tidak hanya itu, Adam juga minggir beberapa senti untuk mengindari pisau yang datang dari arah belakangnya. Dua buah pisau kembali menusuk Mamat. Satu di bagian perut, satu di bagian punggung.


Hal itu membuat teriakan Mamat semakin keras dari sebelumnya. Dengan sebelah tangannya yang tidak memegang pisau, Mamat langsung memegangi perutnya yang terluka. Karena temannya menggunakan kekuatan yang tidak kecil, luka tusukan itu cukuplah tajam.


Jika Mamat tidak segera mendapatkan pertolongan, sudah pasti ia akan mati karena kehabisan darah. Tentu saja Mamat tidak mau itu terjadi pada dirinya.


Namun, serangan para preman itu belum selesai. Mas Aryo langsung menarik pisau miliknya yang masih menancap di punggung Mamat. Itu membuat darah pada luka tusuk tersebut, keluar lebih banyak.


Dengan gerakan cepat, Mas Aryo membuat gerakan menusuk dengan pisau tersebut. Targetnya adalah kepala Adam, yang tidak terlalu jauh dari tubuh Mamat. Namun, Adam bergerak cepat melepaskan Mamat.


Adam kemudian menggunakan tangannya yang sudah bebas, menghadang tangan Mas Aryo tepat waktu. Jika ia telat satu detik saja, maka pisau yang ada di tangan Mas Aryo akan menusuk matanya.


Meski keadaannya terlihat sangat terdesak, tetapi Adam masih terlihat sangat tenang. Ia seolah menganggap keadaan ini bukanlah hal yang membahayakan nyawanya.


Tangan Adam yang menahan tangan Mas Aryo, kini berubah menjadi sebuah cengkeraman. Dengan satu gerakan, laki-laki itu langsung membanting Mas Aryo. Membuat laki-laki itu serakarang tersungkur di dekat Mamat, yang sudah tidak sadarkan diri.


"Sialan. Rupanya lawan kita ini cukup menyulitkan. Joni, kembalilah dan panggil yang lain. Kita harus buat cecunguk ini tinggal di sini. Dia sudah membuat Mamat jadi kayak gitu. Ada harga yang harus dia bayar," ucap Mas Aryo cukup dingin.


Dari postur tubuh, Adam tidak terlihat seperti orang yang bisa berkelahi. Rupanya, Mas Aryo sudah salah karena meremehkan Adam dari penampilannya yang terlihat lemah. Ia perlu meminta bantuan dari yang lain jika ingin mengalahkan Adam.


"Baik, Mas Aryo," jawab Joni yang langsung berlari menuju ke arah kampung pengerajin perhiasan.


Adam tentu saja tidak membiarkan hal ini terjadi. Jika Joni membawa bala bantuan, itu akan membuatnya memiliki lawan yang lebih banyak. Tentunya Adam tidak akan seratus persen yakin dirinya bisa menghadapi preman-preman ini beserta bala bantuan mereka.


Entah karena sekarang Adam lebih kuat dari biasanya, atau karena memiliki mana membuatnya bisa mengontrol kekuatannya dengan baik, batu itu berhasil mengenai bagian belakang kepala Joni, membuat laki-laki itu langsung jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.


Jika ini sebelum Adam bisa merasakan keberadaan mana, maka ia tidak akan pernah bisa melakukan gerakan seperti ini. Adam bersyukur bisa menghentikan Joni. Dengan begini, ia tidak perlu khawatir akan adanya bala bantuan datang.


"Sepertinya, aku harus bertindak lebih serius lagi. Aku tidak bisa melepaskan kalian begitu saja sekarang," ucap Adam.


Adam kembali menendang batu kecil di dekat kakinya. Targetnya sekarang adalah preman lain yang masih berdiri tidak jauh darinya. Preman tersebut mulai ketakutan sekarang. Semua temannya tidak ada yang bisa mengalahkan Adam. Meski mereka bekerja sama sekali pun.


Ketika preman itu akan menghindar, batu yang Adam tendang sudah mengenai kepalanya. Itu membuat darah segar mengucur dari dahinya.


Kini, yang masih sadarkan diri hanyalah Mas Aryo. Laki-laki itu masih tidak mengatakan apa pun, setelah cukup kaget dengan apa yang Adam sanggup lakukan. Ketakutan juga mulai menyerang Mas Aryo.


Laki-laki yang Mas Aryo hadapi bukan hanya pandai berkelahi, tetapi dia bisa melakukan gerakan yang mungkin membunuh seseorang tanpa menyentuhnya. Bayangkan jika benda yang Adam tendang tadi adalah sebuah pisau atau benda lancip lainnya. Sudah pasti akan ada dua mayat di sini.


"Tuan, ampuni aku Tuan. Aku tidak tahu Kamu adalah orang hebat. Aku sudah sangat bersalah karena melawanmu seperti ini," ucap Mas Aryo memohon ampunan. Laki-laki itu berharap dengan begini Adam akan memaafkannya. Ia masih ingin hidup. Adam bisa kapan saja membunuhnya.


"Aku tidak bisa memaafkanmu. Jika saja aku tidak memiliki kemampuan membela diri, maka kalian akan membunuhku bukan? Jadi, aku nggak bisa maafin kalian gitu aja," ucap Adam dingin.


Adam langsung bejalan mendekati Mas Aryo. Ia sama sekali tidak peduli dengan teriakan permohonan ampun dari Mas Aryo. Dengan gerakan cepat, Adam menendang kepala Mas Aryo. Itu membuat laki-laki itu langsung pingsan.


"Sekarang, aku perlu menyingkirkan orang-orang ini dari jalan. Setidaknya, mereka akan sadarkan diri beberapa jam kemudian. Ketika waktu itu tiba, aku udah nggak ada di sini," gumam Adam.


Adam tidak peduli bahwa sekarang Mamat tengah terluka parah dan kehilangan banyak darah. Laki-laki itu juga tidak peduli apakah Mamat bisa selamat atau tidak nantinya. Mereka menginginkan nyawanya. Sudah cukup baik Adam membiarkan mereka hidup dan tidak membunuh mereka.


Sebelum pergi, Adam mengambil semua pisau milik para preman ini. Ia juga menggeledah tubuh mereka, mencari barang berharga, yang mungkin mereka bawa. Dari saku preman ini, Adam menemukan beberapa gram emas.


"Aku akan mengambil emas ini sebagai ganti rugi karena kalian udah ngabisin waktuku. Selamat tinggal."