Multiworld Merchant

Multiworld Merchant
Marco


"Aku tidak habis pikir dengan penjaga Kota Vredeburg ini. Jelas-jelas kita ini adalah korban perampokan. Bisa-bisanya mereka hampir mengurung kita dengan tuduhan penyerangan kepada mereka. Kota Vredeburg ini benar-benar kota bermasalah," ucap Adam mengungkapkan rasa kesalnya.


Tidak lama setelah ia berhasil meringkus ketiga perampok itu, beberapa penjaga tiba-tiba muncul dan mengelilingi dirinya dan Jason. Adam sendiri cukup kaget dengan kedatangan mereka.


Adam tidak tahu apakah mereka datang karena patroli mereka melewati jalan tempat pertarungan terjadi, atau kah mereka datang karena mendengar keributan yang muncul dari pertarungan mereka. Yang jelas, Adam cukup senang dengan kedatangan mereka.


Namun, para penjaga kota itu justru menuduh Adam dan Jason sebagai pelaku penyerangan Thomas dan yang lainnya. Jelas, ini mamatik kemarahan Adam.


"Terima kasih, Tuan Muda Marco. Berkat pengakuanmu, aku bisa terbebas dari tuduhan yang diberikan oleh orang-orang itu," ucap Adam kepada laki-laki muda yang ada di sampingnya.


Marco adalah orang yang menolong Adam sehingga dia terbebas dari tuduhan penyerangan. Sebelumnya, Marco berada tidak jauh dari lokasi pertarungan. Ia menyaksikan langsung apa yang sebenarnya terjadi dari awal hingga akhir.


Jason mengatakan jika identitas Marco hanyalah rakyat sipil biasa, maka mereka akan kesulitan terbebas dari tuduhan ini. Untung saja, Marco adalah murid dari Akademi Sihir Vredeburg. Selain itu, ayah dari Marco adalah seorang Viscount. Jadi, kesaksian Marco bisa dipercaya oleh para penjaga Kota Vredeburg.


"Tidak perlu berterima kasih seperti itu, Tuan. Sudah seharusnya aku menolong sesama. Aku juga tidak bisa membiarkan Kau mendapatkan ketidak adilan seperti tadi. Sebagai murid dari salah satu akademi sihir terbaik di Benua Guerio, aku harus bergerak membantu mereka yang membutuhkan. Lagi pula, aku mampu melakukan hal ini," jelas Marco.


"Jadi, apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu ini, Tuan Muda?" tanya Adam.


Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Adam sangat memahami prinsip itu. Sebagai seorang bangsawan, Marco sama sekali tidak memiliki kewajiban membantunya. Apalagi, mereka belum saling mengenal sebelum ini.


Memang Marco sudah menjelaskan alasanya membantu Adam. Namun, siapa yang bisa mempercayai seratus persen ucapan orang asing? Meski yang Marco katakan itu memang benar, Adam merasa ia perlu membalas kebaikan laki-laki ini. Ia tidak mau berhutang budi pada siapa pun.


"Aku menolongmu dengan tulus. Aku sama sekali tidak memiliki niatan untuk mengambil keuntungan darimu. Jangan berbicara seperti itu, Tuan," ucap Marco menolak tawaran Adam.


Adam tahu laki-laki muda di depannya ini tengah berbohong. Mulutnya bisa berkata tidak, tetapi matanya tidak bisa membohongi Adam. Ketika Adam menawarkan diri untuk melakukan sesuatu sebagai bentuk balas budi, mata Marco berbinar senang. Adam bisa menangkap ekspresi tersebut meski hanya sebentar.


"Tidak perlu menolak seperti itu, Tuan Muda. Jika aku bilang aku ingin membalas budi, aku bersungguh-sungguh akan melakukan hal itu. Jadi, katakan padaku apa yang Kamu inginkan, Tuan Muda. Selama aku sanggup melakukannya, maka aku akan mengabulkan permintaanmu itu," jelas Adam.


"Ah, baiklah jika Kau memaksaku seperti itu, Tuan. Bukan aku yang meminta hal ini, Kau perlu ingat itu. Kau sendiri yang memaksaku untuk meminta sesuatu, Tuan. Jadi, jangan salahkan aku nanti," ucap Marco.


"Jadi, apa yang Kamu minta, Tuan Muda?"


Seperti dugaan Adam, ada maksud tersembunyi mengapa Marco mau membantunya. Tidak banyak orang yang secar tulus mau menolong orang yang tengah kesusahan tanpa ada alasan jelas.


"Mari ikut aku," ucap Marco yang tidak mau secara langsung mengungkapkan apa yang dia inginkan.


Setelah keluar dari markas milik penjaga Kota Vredeburg, Marco mengajak Adam dan Jason menyusuri jalanan Kota Vredeburg. Jalan yang Marco pilih adalah gang-gang kecil dan sepi. Tidak banyak orang yang melewati jalanan ini.


Jika ini sebelum Adam di hadang oleh tiga orang perampok, maka laki-laki itu akan merasa takut dan selalu waspada. Ia takut terjadi sesuatu oada dirinya. Namun, setelah tahu bahwa dirinya memiliki sesuatu untuk melindungi diri, Adam tidak terlalu takut lagi.


Mana miliknya perlahan mulai terkumpul kembali. Dengan mananya yang tidak seberapa ini, laki-laki itu masih sangat yakin bisa melindungi dirinya sendiri jika memang Marco merencanakan sesuatu yang buruk padanya. Oleh karena itu, Adam tetap mewaspadai segala sesuatu yang mungkin saja terjadi.


Sekarang, mereka bertiga sudah berhenti di sebuah bangunan dua lantai. Bangunan ini terlihat tua dan tidak terlalu terawat. Adam bisa melihat adanya lumut di beberapa bagian depan bangunan. Terutama tembok batunya. Tidak hanya itu, beberapa sarang laba-laba juga menjadi penghias bangunan ini.


"Ini adalah loka karya milikku, selamat datang di loka karya Keluarga Smith," ucap Marco.


"Loka karya? Apa Kau seorang pandai besi?" tanya Jason.


Di Benua Guerio, sebuah tempat yang bisa disebut dengan loka karya hanyalah tempat kerja milik seorang pandai besi atau milik seorang Rune Master. Mendengar nama keluarga dari Marco, Jason menebak loka karya ini adalah loka karya milik seorang pandai besi.


Akan tetapi, Jason tidak melihat adanya cerobong asap di loka karya ini. Jadi, loka karya ini sepertinya bukan milik seorang pandai besi.


Marco menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Laki-laki muda itu nampak sedikit malu mendengar pertanyaan dari Jason.


"Dahulu keluargaku memang terkenal sebagai seorang pandai besi ternama. Kami memproduksi senjata sihir yang cukup kuat. Namun, sekarang keluargaku tidak sejaya dulu. Sekarang, kami hanya berfokus dengan memodifikasi senjata untuk menjadi senjata sihir," jelas Marco.


"Ah, jadi Kamu ini seorang Rune Master, rupanya."


Sering kali, seorang keluarga pandai besi, memiliki seorang rune master di keluarga mereka. Akan tetapi, kedudukan seorang Rune Master lebih rendah di keluarga pandai besi. Sekarang, setelah kehilangan penerus pandai besi di keluarga mereka, keluarga Smith hanya bisa berfokus untuk membuat rune. Pendapatan keluarga mereka pun turun drastis.


"Ya, aku ini seorang Rune Master."


Mendengar pengakuan Marco, Adam bisa menebak apa yang laki-laki ini inginkan. Akan tetapi, Marco perlu mengatakan dengan gamblang apa yang dia inginkan.


"Jadi, apa yang Kamu inginkan dariku? Aku yakin Kau tidak membawaku jauh-jauh ke sini hanya untuk memberi tahuku mengenai pekerjaanmu bukan?" tanya Adam tanpa basa basi.


"Ya. Aku mengajakmu ke sini karena aku ingin bekerja sama denganmu. Biarkan loka karya milik keluargaku yang menangani modifikasi produk milikmu. Kami berjanji akan melakukan yang terbaik dalam kerja sama ini," ucap Marco.


"Aku sudah menebak bahwa Kau akan mengatakan hal ini, Tuan Muda. Namun, ada yang perlu tanyakan. Darimana Kamu tahu jika Kami sedang mencari Rune Master?" tanya Adam.


Sangat kebetulan sekali Marco adalah seorang Rune Master. Sangat kebetulan pula jika Marco ada di dekat lokasi pertarungan di antara dirinya dan para perampokan itu. Lalu, keputusan Marco yang mengungkapkan kesaksiannya tentang pertarungan tadi. Adam yakin semua ini berhubungan.


"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja mendnegar percakapanmu dengan pengawalmu tadi. Aku tahu Kau ingin mencari seorang Rune Master. Aku sebenarnya ingin mendatangimu dan menawarkan diri. Namun, ketiga perampok itu datang lebih dahulu. Jadi, aku tidak bisa mendatangimu tadi," jelas Marco.


"Ah seperti itu rupanya," ucap Adam.


Semua terasa lebih jelas sekarang. Mengapa orang seperti Marco tiba-tiba mau menolongnya. Laki-laki ini memang memiliki sebuah tujuan dari awal.


"Jadi, Kau ingin bekerja sama denganku menjadi rune masterku untuk memodifikasi semua barang-barang milikku?" tanya Adam ingin memastikan kembali.


"Ya. Bisakah kita bekerja sama, Tuan?"