Multiworld Merchant

Multiworld Merchant
Membeli Mobil


Tiba-tiba memiliki uang dengan nominal yang tidak sedikit terkadang bisa membuat orang kehilangan arah. Begitu pula yang Adam rasakan. Semalam laki-laki itu tidak bisa tidur. Uang yang ia mikiki tidaklah sedikit. Bukan beberapa puluh juta atau pun ratusan juta. Ini sudah mencapai miliaran.


Laki-laki itu membanyangkan membeli banyak hal dengan uang miliknya itu. Membeli rumah baru, mobil baru, hingga membeli beberapa barang mewah lainnya. Adam bahkan sempat berpikir untuk memulai balas dendamnya sekarang juga.


Namun, subuh tadi ketika Airani menelponnya, laki-laki itu mulai tersadarkan dari fantasi liarnya. Memang sekarang ia memiliki uang yang cukup banyak. Dari yang awalnya tidak memiliki apa-apa, sekarang memiliki uang miliaran di rekening. Sudah pasti Adam ingin menikmati apa yang selama ini tidak bisa ia dapatkan.


Akan tetapi, sembilan miliar bukanlah nominal yang sangat besar. Dibandingkan kekayaan paman, bibi, dan sepupunya jika disatukan, Adam masih jauh untuk bisa mengungguli mereka. Dengan uangnya yang sekarang, laki-laki itu belum bisa memberikan pukulan berat untuk mereka.


"Aku hampir aja ngikutin emosiku dan ngabisin semua uang ini gitu aja. Beli mobil dan rumah emang penting. Tapi itu bukan hal yang menjadi prioritasku sekarang. Daripada membeli mobil, lebih baik aku ngerenovasi rumah ini," gumam Adam.


Sekarang ini, Adam sudah memiliki cincin ruang. Dengan benda itu, Adam bisa begerak secara bebas, membawa cukup banyak barang, tanpa ada yang mencurigai.


"Lebih baik, aku mandi dan tidur sekarang. Mungkin dengan begitu aku bisa berpikir lebih jernih setelah tidur nanti," gumam Adam.


Tiga jam kemudian, Adam sudah terbangun dengan keadaan yang lebih segar. Laki-laki itu langsung duduk di depan laptop miliknya, memulai membuat rencana yang harus ia lakukan ke depannya.


Adam berpikir, ia perlu membuat alokasi penggunaan dana. Jika memang dirinya nanti kembali terbawa emosi dan ingin berbelanja banyak hal, setidaknya ia akan tahu batasan. Dari sembilan miliar itu, laki-laki itu berencana menyisihkan enam miliar sebagai modal usahanya.


Harga jam tangan yang ia beli tidaklah murah. Tidak hanya itu, Adam perlu berpikir untuk melakukan modifikasi dengan menempelkan lambang keluarga dari para bangsawan itu. Sekarang, memang jumlah pesanannya tidak terlalu banyak.


Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah pesanannya akan meningkat. Tentunya Adam tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Ia perlu pekerja untuk membantunya.


Tidak hanya jam tangan, kosmetik, baju, dan beberapa hal lain juga perlu Adam kerjakan. Laki-laki itu berpikir untuk memiliki perusahaannya sendiri. Memang dia tidak akan memproduksi semua dari awal. Tetapi, beberapa hal lebih baik ia kerjakan sendiri. Atau mungkin, Adam bisa mengambil alih perusahaan yang sudah berjalan.


Semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Uang enam miliar adalah modal awal yang Adam siapkan.


Lalu, Adam akan menyisihkan uang satu miliar untuk merenovasi rumah ini. Rumah ini tidak terllau buruk untuk ditinggali. Satu miliar lagi untuk ditabung, dan sisanya, Adam berpikir itu bisa ia pakai untuk membeli beberapa keperluannya.


"Hem, rencana ini nggak terlalu buruk. Dengan dua miliar yang sudah aku alokasikan, aku bisa membeli beberapa keperluanku. Mungkin, aku akan membelikan rumah di kota untuk Airani, rumah yang cukup dekat dengan rumah orang tuanya. Aku juga bisa membeli mobil baru yang tidak terlalu mencolok dengan uang ini," gumam Adam setelah melihat rencana yang ia susun.


Laki-laki itu lalu bergegas menuju ke toko mobil yang ada di kota sebelah. Meski sekarang ia memiliki uang yang tidak sedikit, Adam belum sepenuhnya siap menghadapi paman dan bibinya. Jika ia membeli mobil di kota tempat tinggalnya, kemungkinan besar mereka akan mendengar berita ini.


...


"Aku masih ingin melihat-lihat. Aku belum tahu mobil apa yang aku inginkan," jawab Adam.


"Kalau begitu, apakah Anda punya preferensi tertentu, Kak. Mungkin mobil berukuran besar, SUV, atau mobil jenis lain?" tanya perempuan tersebut.


"Aku rasa aku hanya butuh mobil dengan empat tempat duduk. Tidak perlu yang terlalu mewah," pinta Adam.


"Mobil seperti itu rupanya. Baiklah, ikuti saya, Kak. Saya akan tunjukkan beberapa mobil milik Kami yang mungkin sesuai dengan apa yang Anda cari."


Pelayan tersebut mulai mengajak Adam menuju ke deretan mobil yang tidak terlalu besar. Sebelum pelayan tersebut mulai memperkenalkan semua mobil yang ada di sana, Adam sudah terlebih dahulu jatuh cinta dengan salah satu mobil yang ada di sana.


"Aku pilih mobil ini," ucap Adam sebari menunjuk ke arah mobil pilihannya.


"Apakah kalian punya mobil dengan warna biru?"


"Eh, Anda nggak ingin melihat yang lain?" tanya perempuan tersebut.


"Nggak perlu. Berapa harga mobil ini?"


"Delapan ratus juta, Kak. Apa Kakak mau ngambil secara kredit? Kami bisa bantu Kakak buat oengajuan kreditnya," tawar perempuan tersebut.


"Nggak perlu. Aku akan membelinya tunai."


Mendengar jawaban Adam, mata perempuan itu terlihat berbinar. Dia yang awalnya bersikap sopan dan cukup menjaga jarak, sekarang mempersempit jarak di antara mereka. Sekarang, jarak di antara mereka hanya satu langkah saja.


"Jika Kakak membeli secara tunai, Kakak bisa mendapatkan gratis biaya kepengurusan surat menyuratnya. Aku akan membantu Anda mengurus semua itu," ucap perempuan itu tepat di telinga Adam. Hembusan napasnya saja terasa di telinganya.


Adam langsung mundur beberapa langkah, membuat jarak di antara mereka berdua.


"Jaga jarakmu, jangan berbuat seperti itu. Apa pelayanan di sini emang nggak sesopan ini? Aku udah punya tunangan. Jadi, singkirkan pemikiran kotormu itu," ucap Adam tegas.


Perempuan ini pasti berpikir untuk mendekati Adam ketika mendengar bahwa Adam mampu membeli mobil secara tunai. Tidak hanya itu, Adam sama sekali menawar setelah perempuan ini menyebutkan harga dari mobil ini.