
"Hahaha." Tawa keras Brian terdengar disalah satu privat room salah tempat hiburan malam. Di dalam ruangan yang sama, sudah ada Marvin, sepupunya yang lainnya.
"Aku senang sekali mendengar kabar mobil baru milik Adam terbakar habis. Dia pasti tengah menangisi nasib mobilnya itu," ucap Brian.
"Sudah pasti itu, Brian. Aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan uang untuk mendapatkan mobil itu. Entah itu uang tabungannya sendiri, atau itu pemberian Almarhum Kakek yang tidak kita ketahui, yang jelas dia sekarang kehilangan mobil itu. Aku yakin, dia tidak akan memiliki uang lagi untuk membeli mobil baru," ucap Marvin.
"Kau benar, Marv. Kita tidak perlu menyelidiki lebih lanjut sumber uang itu. Jika kita tidak bisa mengambil milik Adam, kita masih bisa menghancurkannya. Dengan begitu, dia tidak akan pernah bisa menikmati uang tersebut."
"Kita tetap harus menyelidikinya, Brian. Kamu bilang dia sekarang terlihat sangat akrab dengan Pak Catur bukan? Ini membuatku memiliki firasat yang buruk. Aku takut mereka melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui. Jika kita bisa tahu apa yang mereka rencanakan, kita bisa menghancurkan rencana tersebut," jelas Marvin.
"Kamu tenang saja, Marvin. Aku sudah mengurus semuanya. Aku sudah menyuruh seseorang mengikuti Adam. Semua pergerakan cecunguk itu bisa kita ketahui. Jadi, kita bisa tahu apa yang sekarang dia rencanakan," jelas Brian.
Brian masih sangat kesal kepada Adam. Meski ia tidak memiliki bukti bahwa Adam adalah pelaku yang membakar mobilnya, Brian sangat yakin dengan firasatnya. Ia sangat yakin yang melakukan hal itu adalah Adam.
Jadi, ia lansgung menyuruh seseorang untuk membakar mobil Adam sebagai balas dendam. Jika memang Adam bukan pelakunya, Brian tetap melakukan hal ini. Sebagai bentuk balas dendamnya karena Adam sudah merebut lahan parkir darinya.
Sebenarnya, Brian ingin sekali membakar rumah yang Adam tempati. Itu bisa membuat laki-laki itu mati di dalam rumahnya yang terbakar. Namun, orang-orang suruhannya mengatakan Adam tidak berada di rumah tersebut.
Lalu, jika ia melakukan hal itu, maka penyelidikan yang lebih mendalam akan dilakukan. Brian takut tidak bisa menghilangkan jejaknya dengan baik. Jika itu terjadi, semua pasti akan tahu bahwa dirinyalah yang menyuruh seseorang untuk membakar rumah Adam.
"Baguslah jika Kau sudah menyuruh seseorang untuk mengikuti Adam. Orang seperti Adam tidak pantas bahagia. Bisa-bisanya dia mengambil hal yang tidak menjadi haknya. Aku tidak akan puas jika belum membuat hidup Adam menderita," ucap Marvin berapi-api.
"Sekarang, apakah kita perlu melaporkan mengenai hubungan antara Adam dan Pak Catur yang sekarang semakin dekat kepada ayah dan ibu kita?" tanya Brian.
"Untuk apa melakukan itu? Aku rasa kita masih bisa mengatasi dia. Orang seperti Adam tidak akan bisa memberikan perlawanan besar kepada kita. Meski Almarhum Kakek meninggalkan cukup banyak uang kepada Adam, aku rasa uang itu tidak lebih banyak dari uang milik kita bukan?"
"Lalu, untuk mobilmu itu, Kamu tidak perlu memusingkannya bukan? Kamu sudah mengasuransikan semuanya. Pihak asuransi juga sudah berjanji akan mengganti mobilmu bukan? Jadi, jangan terlalu bersedih soal mobilmu itu. Kita harus membuat rencana yang lebih besar untuk menghancurkan hidup Adam," ucap Marvin.
"Ya itu benar. Jika saja asuransi tidak mengganti mobilku, aku yakin nyawa Adam sudah hilang sekarang. Beruntung dia bisa lolos dari maut sekarang," ucap Brian.
Brian dan Marvin langsung saling pandang. Kedua laki-laki itu memiliki firasat yang buruk mengenai hal ini. Sangat kebetulan jika ponsel mereka berdering di saat yang bersamaan. Namun, karena keduanya berkerja di perusahaan keluarga, mereka berpikir kemungkinan besar ada masalah di perusahaan keluarga mereka.
"Hallo, Pa? Ada apa?" tanya Brian yang sekarang menegakkan punggungnya. Tidak ada lagi Brian yang duduk dengan tidak bertenaga. Wajahnya juga sudah berubah menjadi lebih serius lagi.
"Di mana Kamu saat ini?" teriak Doni.
"Aku sedang makan siang dengan Marvin, Pa. Memangnya ada apa?" tanya Brian yang kini memandangi sepupunya. Sepertinya Marvin juga mendapatkan telepon dari ayahnya. Ini membuat Brian sangat yakin sesuatu yang buruk sudah terjadi.
"Makan siang! Hentikan makan siangmu itu. Sekarang, cepat kembali ke perusahaan. Kita mendapatkan masalah yang sangat serius sekarang," jelas Doni.
"Baiklah, Pa. Aku akan segera kembali sekarang," jawab Brian.
Tidak lama setelah Brian menutup panggilan teleponnya, Marvin juga selesai dengan panggilan miliknya. Kedua laki-laki itu kembali berpandangan sesaat.
"Apa Kamu tahu apa yang sedang terjadi? Kenapa tiba-tiba ada masalah besar sekarang?" tanya Brian.
"Aku juga nggak tahu, Brian. Perusahaan sedang baik-baik saja. Semua proyek masih berjalan lancar. Kita juga tidak memiliki saingan bisnis yang begitu kuat, yang bisa memberikan masalah besar. Dari nada bicara ayahku, aku bisa mendengar bahwa masalah ini cukup serius," jawab Marvin.
Bisa dibilang perusahaan keluarga Nugraha adalah perusahaan terbesar di kota ini. Mereka seperti menjadi raja bisnis di kota ini. Itu membuat mereka menjadi cukup sombong. Namun, keluarga Nugraha sangat suka menindas mereka yang lemah dan takut dengan mereka yang jauh lebih kuat.
Dengan sikap yang seperti itu, keluarga Nugraha selalu berusaha tidak menyinggung perusahaan lain yang memiliki kedudukan di atas bisnis keluarga merkea. Dari yang ayahnya katakan, masalah yang keluarganya hadapi ini bisa saja melibatkan perusahaan yang lebih besar daripada perusahaan keluarga mereka.
"Sekarang, lebih baik kita kembali secepatnya ke perushaan. Kita perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi. Daripada saling menebak dan nggak tahu kebenarannya kayak gimana, bukannya lebih enak tanya langsung ke orang tua kita?" tanya Marvin.
"Kamu benar, Marv," ucap Brian.