
"Ini mobil barumu, Pak Adam?" tanya Firza ketika menyambut kedatangan Adam.
"Ya. Aku baru membelinya kemarin," jawab Adam
Pada akhrinya, Adam membeli mobil di toko milik Agnez. Meski laki-laki itu masih marah karena pelayanan di sana yang sangat buruk, akan tetapi potongan harga yang Agnez berikan padanya cukup menggiurkan. Oleh karena itu, dia memilih mengambil mobil di toko Agnez.
Firza hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Ia hanya ingin berbasa basi dengan Adam ketika menyambut kedatangannya.
"Mari kita masuk. Kita bisa bicarakan semuanya di dalam," ajak Firza.
Adam kira, hanya akan ada dirinya dan Firza saja yang akan membicarakan kerja sama mereka. Namun, di ruangan yang menjadi tempat diskusi mereka, sudah ada orang lain yang menunggu di sana. Ternyata, orang yang ada di sana adalah orang yang ia temui belum lama ini.
"Bu Agnez!" sapa Adam.
"Eh, Pak Adam. Aku nggak nyangka orang yang berniat membeli jam tangan dalam jumlah banyak adalah dirimu, Pak Adam," jawab Agnez.
"Apakah perusahaan jam tangan ini juga milikmu?" tanya Adam.
Tidak mungkin Agnez adalah karyawan di sini. Perempuan itu sudah memiliki toko mobil yang keuntungannya jelas tidak sedikit. Jadi, untuk apa dia harus bekerja di perusahaan lain. Kecuali, dia juga pemilik perusahaan tersebut.
"Ini milik suamiku. Aku menggantikannya untuk bertemu dengan calon mitra kerja perusahaannya. Aku tidak menyangka aja itu dirimu."
"Aku juga nggak menyangka Bu Agnez dan Pak Adam juga saling mengenal. Jadi, apakah kita langsung membahas kerja sama ini?" tanya Firza.
"Ya, aku ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. Masih banyak yang perlu aku selesaikan," jawab Adam.
"Jadi, Pak Adam berapa banyak jam tangan yang ingin Anda pesan? Apakah Anda jadi pesan seratus jam tangan untuk setiap model yang kami punya?" tanya Agnez serius.
"Ini adalah transaksi yang cukup besar. Ehm, kalau boleh tahu, gambar apa yang akan Anda tempatkan di jam tangan itu? Apakah Anda akan menjual kembali jam tangan ini dengan merek milik Anda?" tanya Agnez.
Hal seperti ini cukup umum dilakukan. Beberapa perusahaan memilih memesan mesin jam tangan dari perusahaan lain. Lalu, mereka hanya perlu membuat desain jam dan merakit semuanya. Ini sudah dilakukan oleh beberapa perusahaan produsen jam tangan.
Yang menjadi permasalahan adalah, Adam memesan dalam jumlah banyak dan berniat memodifikasi jam tangan tersebut. Jika Adam memakai model milik mereka, dan mengganti merek jam tangan tersebut, maka ini akan sangat merugikan mereka.
Bisa jadi, jam tangan yang Adam jual akan lebih laku dari pada jam tangan milik mereka. Lalu, bagaimana jika para pelanggan lebih mengenal merek milik Adam ketika melihat desain jam tangan itu daripada merek asli yang membuat desain jam tangan itu. Ini sangat merugikan bukan?
"Aku emang akan menjual kembali jam tangan ini. Namun, aku sama sekali nggak akan ngerubah mereknya. Jika Kamu takut aku merubau merek milikmu, kita bisa menandatangi perjanjian bukan? Jika aku terbukti menjual jam tangan darimu dan menggantinya dengan merek milikku, maka aku akan mengganti lima kali lipat kerugian yang kalian derita," ucap Adam.
"Lima kali lipat? Apa Kamu sangat yakin dengan ucapanmu ini, Pak Adam?" tanya Agnez.
"Tentu saja. Aku sangat yakin. Kamu juga bisa menambahkan klausul lain dalam perjanjian suapaya Kamu bisa lebih tenang. Aku tidak masalah dengan syarat apa pun yang kalian ajukan. Asalkan harga jam tangannya wajar dan kalian bisa menyelesaikan pesananku dengan cepat, aku akan mengikuti syarat kalian."
"Ah, satu lagi. Karena aku ingin sedikit menambahkan gambar, bisakah kalian juga memberikan sedikit pelatihan kepada orang-orangku, aku ingin melakukan semua itu sendiri. Akan cukup repot jika aku merusak jam tangan itu untuk memasang gambar miliku bukan?" tanya Adam.
"Melatih orang-orangmu? Kami nggak bisa melakukan itu. Meski Kamu membayarnya sekali pun," tolak Agnez.
Agnez tidak sepenuhnya mempercayai ucapan Adam. Jika Adam hanya berniat membeli, maka Agnez akan menjual barangnya dengan senang hati. Namun, diminta untuk melatih cara memodifikasi jam tangan, tentu saja Agnez tidak bisa melakukannya.
"Bagaimana jika aku juga menjadi pemegang saham di perusahaanmu ini, Bu Agnez. Apakah permintaanku tadi bisa dipenuhi?" tanya Adam.
Adam sering mendengar bahwa pemilik saham memiliki wewenang untuk memberikan saran atau meminta sesuatu dilaksanakan di perusahaannya. Adam pikir menjadi pemilik saham di perusahaan jam tangan ini tidak terlalu buruk.
Lagi pula, ia juga berencana memiliki perushaannya sendiri bukan? Daripada memulai semuanya dari nol, bukankah lebih baik bergabung dengan perusahaan yang sudah berjalan. Adam tidak perlu lagi pusing memikirkan mencari karyawan handal yang bisa membantu mengurus perusahaannya. Ia hanya tinggal meminta bawahannya untuk membuat jam tangan seperti permintaannya. Bahkan, Adam bisa meminta desain baru yang belum ada di pasaran. Ini jauh lebih murah daripada memulai semuanya dari nol.