
Saat ini, Adam berada di kampung pengerajin emas. Ia berniat kembali menjual emas yang ada padanya. Dengan cincin ruang yang ia miliki sekarang, tentu saja Adam bisa membeli lebih banyak barang untuk dijual di Benua Guerio.
Maka dari itu, Adam berniat menjual sebanyak mungkin emas yang ia miliki. Laki-laki itu juga berencana menjual ke kota-kota lain agar tidak terlalu mengganggu jumlah emas yang beredar di pasaran.
"Jadi, berapa banyak emas yang akan Kamu jual?" tanya Pakde Gani kepada Adam.
"Apakah berapa banyak yang bisa Kamu beli?"
Laki-laki tua di depan Adam tidak langsung menjawab. Padahal, sebelum-sebelumnya dia selalu menjawab langsung jika Adam bertanya demikian. Pakde Gani hanya memandangnya dengan tatapaj tajam sejam.
"Apa Kamu pernah ke sini sebelumnya? Kenapa pertanyaanmu itu sepertinya nggak asing untukku?" tanya Pakde Gani.
Memang ini bukan kali pertama Adam menjual emasnya di tempat ini. Setiap kali datang, Adam selalu mengubah penampilannya. Laki-laki itu juga mengubah cara berbicaranya agar tidak terlalu mudah dikenali. Mulai dari intonasi, logat, serta cara bersikapnya, sebisa mungkin Adam buat berbeda.
Namun, sekeras apa pun Adam mencoba membuat identitas baru dengan melakukan semua itu, masih ada kebiasaannya yang tidak bisa laki-laki itu hilangkan. Seperti sekarang ini, Adam tidak bisa menghilangkan kebiasaannya untuk menanyakan berapa banyak emas yang Pakde Gani sanggup beli.
Alarm tanda bahaya mulik Adam langsung berbunyi setelah mendengar ucapan Pakde Gani ini. Laki-laki itu tahu Pakde Gani sudah mencurigainya. Ini membuat Adam perlu lebih waspada lagi setelah ini.
"Aku tidak pernah ke sini sebelumnya. Hanya saja, aku mendengar dari temanku bahwa tempatmu ini adalah pengerajin emas yang mau membeli cukup banyak emas dalam satu waktu. Jadi, aku ingin tahu berapa emas yang bisa Kamu beli," jawab Adam.
"Ah seperti itu rupanya. Akhir-akhir ini memang ada beberapa anak muda yang menjual emasnya di sini. Jumlahnya pun cukup banyak. Oleh karena itulah, aku tidak sanggup membeli emas lebih banyak lagi sekarang," jelas Pakde Gani yang terlihat tidak berdaya dengan banyaknya emas yang ia terima.
"Jika Kamu ingin menjual emasmu, Kamu bisa menjualnya ke Gino. Dia adalah adikku. Dia juga mampu membeli emas dalam jumlah cukup banyak. Tempatnya hanya satu kilometer dari sini, tidak terlalu jauh," jelas Pakde Gani.
"Ya. Emas yang aku miliki sekarang, sudah lebih dari cukup untuk memenuhi pesanan perhiasan yang masuk kepadaku. Datang saja ke Dino," jawab Pakde Gani yang sekali lagi mempromosikan tempat adiknya.
"Baiklah. Aku akan melakukan hal itu," jawab Adam.
Setelah mendapatkah arahan jalan untuk bisa sampai di rumah Gino, Adam langsung keluar dari tempat Pakde Gani. Letak rumah Gino yang tidak terlalu jauh membuat Adam memutuskan untuk jalan kaki ke sana. Apalagi, Adam tidak membawa kendaraan apa pun selama menjual emas miliknya di kota sebelah.
Baru beberapa meter Adam meninggalkan tempat Pakde Gani, ia merasakan adanya beberapa orang yang mengikutinya. Mereka memang terlihat seperti seseorang yang kebetulan berjalan ke arah yang sama. Namun, Adam tidak mempercayai hal itu.
Adam merasa Pakde Gani telah merencanakan sesuatu kepadanya. Dengan laki-laki itu menolak membeli emas milik Adam dan justru merekomendasikannya kepada adiknya, sudah membuat Adam curiga. Apalagi Pakde Gani terlihat sangat antusias ketika merekomendasikan adiknya.
Ketika sampai di sebuah perempatan, Adam memilih berbelol ke kiri, arah yang sangat berlawanan dengan arah rumah Gino. Ini adalah jalan pulang. Jika orang-orang yang sekarang mengikutinya ini adalah orang suruhan Pakde Gani, maka mereka akan mengikutinya setelah ini. Jika tidak, kemungkinan besar mereka akan mengambil arah yang berbeda.
Namun, orang-orang ini tetap mengikuti Adam. Langkah kaki mereka juga terdengar di percepat. Mungkin mereka ingin segera menyusul Adam. Jalanan ini akan sangat sepi setelah ini. Jika memang mereka berniat jahat, Adam pikir setelah ini adalah saat yang tepat untuk menyerang. Tidak akan ada yang mengetahui apa yang mereka lakukan di sini.
"Sepertinya, Pakde Gani tidak sepenuhnya baik. Aku kira ketika dia mengusir Mamat, calo penjual emas yang mencoba mencurangiku, Pakde Gani adalah orang baik. Namun, semua orang sama aja. Nggak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini," gumam Adam dalam hati.
Semua kejadian ini membuat Adam cukup sulit untuk mempercayai orang lain hanya dengan penampilan mereka, atau perbuatan kecil mereka. Penampilan bisa menipu, perbuatan bisa di sandiwarakan. Tidak ada yang benar-benar jujur di dunia ini. Adam sendiri saja pernah bohong dan menutupi kebenadan.
"Hey, anak muda. Berhenti!" teriak sebuah suara dari arah belakang Adam.
"Heh, rupanya mereka sudah nggak sabar dan akan bergerak sekarang," ucap Adam dalam hati.