Multiworld Merchant

Multiworld Merchant
Masalah Baru


"Sekarang, gimana caranya aku bisa ngejual emas yang aku miliki?" tanya Adam pada dirinya sendiri.


Memiliki cukup banyak emas memang bisa membuatnya kaya. Namun, jika ia tidak bisa menjualnya, maka emas tersebut tidak akan terlalu berguna untuk Adam. Bagaimana caranya Adam bisa membeli barang-barang lain tanpa emas?


Semua kejadian yang terjadi memang kesalahan Adam sendiri. Laki-laki itu tidak berganti tempat setelah menjual cukup banyak emas. Ia menganggap semuanya baik-baik saja. Namun, setelah kejadian ini, Adam tidak akan bisa menjual emas di tempat itu lagi.


Sekarang, Adam memang sudah berhasil menjual emasnya di tempat lain. Akan tetapi, laki-laki itu tidak bisa menjamin tempat baru ini bisa menerima emasnya dan tidak memiliki pemikiran buruk layaknya Pakde Gani dan yang lainnya.


"Ternyata, menjadi kaya nggak semudah itu. Aku punya banyak emas yang bisa dijual dan membuatku kaya raya. Tapi, cukup sulit bagiku menjual emas-emas ini dengan mudah," keluh Adam sembari mengusap wajahnya kasar.


Laki-laki itu mengira ia bisa memulai merenovasi rumahnya setelah ini. Dengan begitu, ia bisa menyiapkan tempat tinggal layak untuk Airani, sesegara mungkin. Namun, rencana yang sudah ia susun, nampaknya harus ditunda.


"Tapi, mempelajari sihir banyak membantuku dalam mengatasi preman-preman tadi. Mungkin karena sekarang ada mana yang mengalir dalam tubuhku, tapi sekarang aku bisa mengontrol tubuhku jauh lebih mudah," gumam Adam.


Ini adalah penemuan yang laki-laki itu ketahui setelah mengalahkan para preman itu. Padahal, pembelajarannya mengenai sihir hanya berada di tingkat paling dasar. Hanya merasakan keberadaan mana saja.


Adam belum memiliki kemampuan untuk menangkap mana di sekitarnya dan menyimpannya di dalam tubuh. Hanya residu dari mana saja bisa membantunya jauh lebih kuat seperti sekarang, apalagi jika ia benar-benar bisa mengontrol mana dan melakukan sihir. Sudah pasti kekuatannya akan meningkat berkali-kali lipat.


"Sepertinya aku perlu lebih serius dalam mempelajari sihir dari Benua Guerio. Kejadian kayak gini aku jadiin sebuah peringatan. Di masa mendatang, mungkin aja kejadian yang mirip kayak tadi terulang lagi," gumam Adam.


Kekayaan seseorang bisa mematik rasa iri dari seseorang. Rasa iri itu bisa berubah menjadi sebuah keserakahan untuk merebut harta benda milik orang lain.


Jika bukan karena preman-preman itu serakah ingin merebut emas milik Adam, maka mereka tidak akan berusaha merempoknya. Bahkan mereka sampai berniat membunuhnya.


Meski Adam memiliki niatan menyembunyikan identitasnya agar tidak banyak yang mengetahui, tetapi akan ada beberapa orang yang mengetahui identitasnya. Mungkin mereka nanti bisa memiliki pemikiran buruk untuk mencelakai Adam atau semacamnya. Jadi, Adam perlu menyiapkan cara untuk melindungi dirinya.


...


Adam berharap, dengan uang lebih ia bisa meminta pabrik ini memproduksi jam tangan khusus untuknya. Jika saja pemilik toko yang sebelumnya Adam kunjungi bersama dengan Airani mau memberi tahu tempat produksi mereka, sudah pasti Adam tidak akan berkunjung ke mari.


Demi datang ke sini juga, Adam sengaja menyewa sebuah mobil. Laki-laki itu tidak ingin dipandang sebelah mata karena datang ke pabrik ini dengan menggunakan motor bututnya. Demi citra yang baik di depan calon mitra kerjanya, Adam perlu melakukan hal ini.


Sebenarnya, Adam bisa saja membeli mobil sekarang. Baik baru maupun bekas ia bisa membelinya. Namun, permasalahan mengenai sulitnya menjual emas membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya ini.


Apalagi, akan ada pertanyaan dari Airani mengenai asal usul uang untuk membeli mobil itu. Laki-laki itu bisa saja kembali menipu tunangannya. Namun, ia tidak mau terus menerus melakukan hal itu dan membuatnya jadi terbiasa. Itu tidak bagus untuk hubungan mereka berdua ke depannya.


"Aku yakin Anda ini Pak Adam. Gugun udah ngehubungi aku soal kedatanganmu. Perkenalkan aku Dion," ucap Dion, manager gudang, dari jam tangan yang ingin Adam beli.


"Ya, Pak Dion. Salam kenal, aku Adam."


"Mari ikut ke kantor, Pak. Kita bisa bicara di sana setelah ini," ajak Dion.


Adam kemudian mengikuti Dion ke sebuah bangunan tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Ketika masuk, Dion mengajak Adam ke sebuah sofa. Di sana sudah tersaji makanan ringan serta minuman. Rupanya, Dion sudah mempersiapkan ini semua untuk menyambut kedatangan Adam.


Menurut Adam, ini adalah perlakuan kecil yang cukup berarti untuknya. Ini berarti, Dion menganggapnya serius untuk melakukan kerja sama. Mungkin Dion berharap kerja sama ini bisa berjalan lama.


"Aku dengar dari Gugun kalo Pak Adam berniat membeli mimal sepuluh jam tangan setiap bulannya. Lalu, Pak Adam meminta potongan harga. Apa itu benar?" tanya Dion tanpa berbasa basi lagi.


"Ya. Tapi, itu tidak lagi sepuluh jam tangan. Aku jamin setiap bulannya aku akan membeli dua puluh jam tangan di sini. Jika kalian bisa menerima permintaan kecilku," ucap Adam.


"Permintaan kecilmu? Memangnya Kamu meminta apa?" ucap Dion yang terlihat sedikit mengerutkan dahinya. Namun, laki-laki itu kembali memasang ekspresi biasanya.


Dion tidak menyangka Adam akan meminta sesuatu padahal mereka baru membicarakan kerja sama. Apakah laki-laki ini meminta hadiah tambahan selain potongan harga jam tangan? Serakah sekali dia.