
"Tapi, Tuan Pedagang. Kenapa Kau datang hanya membawa sedikit barang? Kau hanya membawa kotak kecil seperti ini. Bukankah akan jauh lebih mudah jika Kau memakai cincin ruang?" tanya Lady Vrite.
Adam sedikit kaget mendengar bahwa di sini ada cincin ruang. Seperti namanya, Adam bisa menebak bahwa cincin itu memiliki ruangan dimensi di dalamnya yang bisa membawa cukup banyak barang.
"Aku tidak punya cukup uang untuk membelinya," ucap Adam yang sekarang menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
Meski tidak tahu berapa harga dari cincin ruang, Adam tahu itu tidaklah murah. Bisa jadi harganya puluhan ribu emas Kyra. Atau mungkin, ratusan ribu emas Kyra.
Adam tidak punya banyak uang sekarang ini. Sebagian besar emas Kyra yang ia miliki, sudah habis untuk membeli cincin tunangan untuk Airani. Sebagaian lagi ia belikan buku sihir. Sisanya, sudah habis ia jual untuk modal membeli barang yang ia bawa sekarang.
Meski menjual barang ke Benua Guerio bisa membantunya mendapatkan keuntungan besar, tetapi modal yang Adam keluarkan juga cukup besar. Untuk membeli cukup bayak pewarna bibir ini saja Adam menghabiskan lebih dari lima puluh juta. Belum lagi jam tangan yang satu buahnya memiliki harga di atas satu juta lima ratus.
Dengan barang yang memiliki harga cukup tinggi seperti itu, uang yang Adam miliki tidaklah terlalu banyak. Ia berharap jam tangan yang ia bawa sekarang, bisa membantunya mendapatkan lebih banyak modal. Namun, perdebatan di antara para perempuan ini, benar-benar mengganggu rencana yang ia susun.
"Harga dari cincin ruang tidaklah semahal itu. Hanya seratus ribu emas Kyra untuk setengah meter kubik ruang. Aku yakin, pedagang dari negeri jauh sepertimu mampu membelinya," ucap Lady Vrite dengan santainya.
"Seratus ribu emas Kyra Kamu bilang hanya? Hanya?"
Ingin sekali Adam meneriakkan hal itu kepada Lady Vrite. Laki-laki itu tidak menyangka uang sebanyak itu dianggap tidak seberapa oleh Lady Vrite. Mungkin dia yang anak seorang Duke sudah terbiasa dengan uang sebanyak itu dan menganggapnya biasa.
"Lady Vrite, tidak semua orang sekaya Duke George. Uang sebanyak itu masihlah sangat banyak untuk seorang pedagang. Apalagi, Tuan Adam bukanlah seorang Mage. Barang yang dia jual pun bukan barang sihir. Jadi, membeli cincin ruang masih terlalu berat untuknya," jelas Lady Mary, yang melihat ekspresi aneh di wajah Adam setelah mendengar nominal uang yang Lady Vrite sebutkan.
"Ah, aku melupakan hal itu. Kalau begitu, aku bisa meminjamkan cincin ruang milikku yang sudah tidak terpakai padamu. Apakah Kau bersedia, Pedagang Adam?" tanya Lady Vrite.
Adam tahu tidak ada yang gratis di dunia ini. Apalagi jika ada orang yang memberikan bantuan begitu saja. Laki-laki itu sudah memiliki pengalaman sebelumnya. Parsley Wood berhasil menipunya karena Adam menganggap semua orang akan tetap bersikap baik.
"Ruapanya Kau bisa menebak bahwa aku tidak akan memberikanmu cincin ruang itu secara gratis. Aku tentu akan memberikan syarat untukmu. Kamu harus mencicin cincin ruang itu kepadaku."
"Tidak banyak, sebulan dua puluh ribu emas Kyra. Aku yakin Kamu sanggup membayar sebanyak itu bukan? Lalu, Kamu juga harus memberiku potongan harga sebesar lima persen untuk barang yang aku beli," tawar Lady Vrite.
"Mohon maaf, aku akan menolak tawaranmu ini, Lady Vrite. Aku tidak ingin memberimu potongan harga sebanyak itu jika Kamu memberkan cincin ruang itu. Aku hanya mampu membayar dua puluh ribu koin emas dan bunga lima persen dari total utang milikku," jelas Adam.
Yang benar saja potongan harga lima persen untuk setiap pembelian. Itu adalah perampokan menurut Adam. Jika ia menyetujui, maka bunga dari utangnya akan bernilai sangat besar. Adam tidak bisa menjamin nominal barang yang Lady Vrite beli.
Jika hanya lima persen dari utang, maka bunga yang harus Adam bayarkan hanya lima ribu emas Kyra. Coba bayangkan jika dalam sebulan Lady Vrite bisa menghabiskan uang puluhan ribu emas Kyra, maka bunga yang Adam bayarkan jelas lebih banyak lagi.
"Eh, aku tidak menyangka Kamu menolak tawaranku dan memberi tawaran baru. Itu tidak buruk juga. Namun, aku ingin menjadi prioritasmu ketika menjual barang baru. Apakah Kamu bisa memenuhi ini?" tanya Lady Vrite.
"Itu tidak masalah untukku," jawab Adam.
"Hey, Tuan Adam. Aku bisa memberikan penawaran yang sama. Aku akan memberimu cincin ruang dan Kau bisa mencicilnya. Apakah Kamu bisa menerima tawaranku," ucap Lady Gaby.
Perempuan itu tidak mau kalah dengan Lady Vrite. Ia seharusnya menawarkan hal ini terlebih daulu daripada Lady Vrite. Menjadi yang pertama memiliki barang yang Adam jual, adalah pilihan yang tidak buruk. Lady Gaby tidak mau melewatkan kesempatan ini.
"Maaf, Lady Gaby. Tetapi aku sudah menerima tawaran Lady Vrite. Aku harus menolak tawaranmu ini. Mungkin di lain kesempatan."