
"Sudahhh .... bu cukupp."teriak ku pada ibu.
"Kurang asem kamu ya."timpal ibu yang tidak terima dengan ucapanku sambil dia menamparku lagi.
"Plak"
"Ahkk ... bu sakit."lirih ku yang memegang pipiku.
" rasain kamu memangnya ibu nggak punya kuping apa kalau kamu teriak-teriak seperti ini ke ibu dasar ga tau diri."Cerca sih ibu yang berteriak.
sampai-sampai para tetangga melihat nya aksi ibu memarahiku di depan umum di situ aku sangat malu jika diperlakukan seperti ini tega sekali ibu disitulah para tetangga mulai menggosipin yang tidak-tidak tentang ibu bawah Ibu mempunyai kelainan jiwa.
di situlah Ibu emosi lalu kearah mereka kemudian ia mulai melemparkan sendal ke arah mereka semua (Para tetangga) hingga pada akhirnya para tetangga pun takut lalu pergi dan ada yang mengelos begitu saja tanpa permisi.
" Lihatt .... Bu selalu saja berteriak kayak nggak punya moral ibu apa enak diliat tetangga seperti itu ha."timpal ku yang mulai berteriaki ibu.
"Diammmm kamu."bentaknya dia.
"Seharusnya ibu malu sama Mas Ari selalu saja Maki-maki Mas Ari, apalagi ibu tidak bilang terima kasih sama dia saat aku di- diolok-olok sama warga Kampung."
"Saya bilang diam Kamu .... baik aja ga cukup sekarang perlu duit duit Duittttttt gak perlu cowok baik yang penting duit." timpalnya yang apa ini menggesek jari jempol dan telunjuknya seperti ini sampai-sampai ludah ibu muncrat mengenai bibirku.
"dan bisa makan emangnya ... kamu ngasilin Ibu apa sampai bawa cowo kumel kesini mau jadi wanita ga bener kamu ."ujar ibu yang mencercaku.
" enggak Bu." jawabku sambil menangis
"dasar belanu kamu ya." teriak Ibu sambil menarik rambutku hingga aku menjerit kesakitan.
" udah nggak ngasilin duit terus nyusahin orang tua ngapain sih kamu lahir seharusnya tuh kamu mati dibunuh biar gak nyusahiinnn orang tua." cercar ibu yang memaki-makiku.
"Deg."
disitulah aku mulai menangis sampai kapan hidupku gini ya Allah Aku sudah capek perlakukan dan didiskriminasi oleh ibu dan juga yuli setiap hari apalagi diledekin tetangga tadi pagi Suka Julitin aku yang ikut campur dalam permasalahan hidupku.
Astagfirullah Itu Menyakitkan untukku selalu mau aku yang di ngertiin perasaannya sedangkan dia tidak sampai-sampai aku sudah berusaha melakukan yang terbaik dalam mencari pekerjaan di luar daerah namun beliau tidak setuju saat dulu aku kerja ditawarin koperasi beliau nggak setuju katanya gajinya kecil.
kemudian dulu aku pernah daftar CPNS selalu gagal dan gagal begini dan pada akhirnya gaya hidupku seperti ini buat apa aku hidup Ya Tuhan buat apa sampai pada akhirnya seperti ini kemudian aku berdoa semoga aku cepet mati dipanggil Tuhan.
Dan sering aku berpikir buruk-buruk dalan kamar sendiri setelah aku menyelesakan pekerjaan rumah mending aku jadi pelakor saja biar Ibu puas selalu menyiksa batinku sampai larut malam ku menangis cuman Segara ku tipis pikiran negatif karena aku sudah S1 fakultas ternama di bagian pemerintahan dan masa ia aku ingin menjadi pelakor yang bener saja dan tiba-tiba azan magrib berkumandang dan akhirnya aku melaksanakan salat magrib seperti biasa salatku sering kali disilang-sering.
Antara Aku salat zuhur bolong kadang aku salat ashar kadang juga suka bolong-bolong karena aku males beribadah karena depresi dengan kejadian inu yang menimpa diriku setelah itu aku selesai salat magrib Aku pun langsung saja memasak makanan malam buat mereka semua akhirnya Bapak tersenyum kepadaku.
" eh marini .... anak bapak yang paling cantik, rajin sekali kamu sy." ujar si bapak yang memujiku.
" Eh iya pak siapa dulu dong marini hehehe." jawabku yang cengesan meskipun hati ini sakit dengan masalah yang menimpa tadi pagi.
" aku panggil mereka ya pak."ujarku kepada bapak.
"Ya sih."ujar bapak yang mulai duduk.
kemudian aku memanggil mereka pada akhirnya mereka semua pun mulai datang, Lalu membawa makanan kemeja masing-masing untuk makan sendiri tanpa adanya aku siapa lagi kalau bukan ibu dan Yuli selalu saja begini mulai mencibir Aku anak durhaka lah buat hatiku menjadi sakit lah sampai Yuli pun menghina bahwa aku adalah kakak yang tak berguna namun Bapak pun marah dan mulai memaki mereka untuk jaga bicara mereka.
atau uang jajan yuli dan Uang belanja ibu tidak akan dikasih pada akhirnya mereka pun merasa malu karena Sudahi perdebatan ini ya takut kalau seandainya perdebatannya masih berlanjut mungkin ibu akan diceraikan lagi atau Yuli tidak akan dibayar uang semester kuliahnya karena dulu uang Bapak sangat banyak.
hingga akhirnya kita makan sama-sama untuk menghargaiku kemudian aku mulai cuci piring setelah salat isya dengan terburu-buru Karena hati ini was-was dan tiba-tiba saja ibu dan Yuli serius sekali ngobrol didepan teras lalu aku kesana untuk merumpi.
" Bu Bu ... sebenarnya Yuli malu Bu punya kakak pengangguran kayak dia, selalu teman-temanku nanya kamu kerja apa Yul." ujar Yuli yang terus terang membenciku.
" Ya ...memang dia anak yang ga bisa diatur Yul, ga pernah dengerin Nasehat Bu Kan dia punya pabrik roti yang terthe best di desa kita." timpalnya Ibu yang menjawab pertanyaan si Yuli.
" Oh iya ya Bu Padahal marini kan cantik apakah dia kagak mau nikah sama si jortomo apalagi dia kaya rayakan lumayan bu kecipratan kaya kita." jawab si Yuli yang menanggapi gosip ibu.
"Ya ... tau lah itu anak pala batu susah dibilangin sama orang tua padahal ibu mau punya mantu kaya dia."jawab ibu sambil makan teras di luar rumah.
" Oh ini alasannya kenapa ibu getol nyuruh aku nikah sama jortomo oh karena hartanya toh uhh,jahat dan serakah sekali sih mereka berdua ya." gumamku dalam hati.
Kemudian aku mulai meninggalkan tempat seperti biasa dan ada rasanya lelah untuk menjadi anak dari keluarga ini apalagi ibu menuntuku ini dan itu dan aku nurut-nurut saja namun hasilnya ga ada perubahan dan harus ada pertimbangan buat masa depanku apalagi nikah sama jortomo ogah banget udah tahu jortomo Playboy suka godain janda sebelah kadang juga godain gadis muda hampir sepantaran dengan Yuli.
Saat itulah aku melihat mereka sedang Kasmaran dulu di puncak didesa kita ini kemudian jortomo terus mencium bibir via dengan kecupan mesra padahal jortomo baru saja bertemu 2 kali dengan gadis muda ini siapa lagi kalo bukan via tetangga sebelah yang saat itu masih pengangguran.
mau-mau saja anak itu diperlakukan tidak senonoh seperti itu kalau bukan hartanya mana dia apalagi mau diajak plus-plus begituan sama jortomo meskipun mukanya sih dia (jortomo) pas-pasan dan juga gendut sampai diriku jijik melihat nya.
apalagi saat pertama kali bertemu dengannya dulu saat ibu mengenalkanku kepadanya padaku terus ia mulai salaman begitu lama sambil dia mulai mengedipkan mata kepadaku sungguh menjijikkan liat kelakuan dan rupa saja aku tidak nasfu dan ibu juga tidak tahu kelakuan asli jortomo bahwa selama ini suka bercumbu dengan para janda dan juga mengajak untuk threesome bersama dengan gadis muda itu sungguh tidak patut sekali dijadikan calon hidupku kelak Meskipun aku tidak perawan aku kan juga ingin punya suami yang benar.
pada akhirnya aku tidur lagi untuk menenangkan diri dan seperti biasa hari Guru telah tiba aku mulai mengantarkan Ibu ke tempat kerjanya di sekolah setelah Yuli pergi izin pamit kepada bapak dan ibu karena seperti biasa dia sedang kuliah dan juga ia jadi pengajar anak tk dan ikutan sosial kecil-kecilan.
"Ayoo bu."teriak ku pada ibu.
" Ya sebentar dong sy, lagi mau bawaiin bekas ulangan ini."cerca ibu yang memarahi ku pagi-pagi ini terus tiba-tiba tetangga sebelah yang menyapa kita siapa lagi kalo bukan bu eti yang datang kerumah kami.
"Eh .. Bu Endah mau berangkat bu." sapanya yang ramah kepada ibu.
" Iya Bu."jawab ibu dengan sungrimah dan tersenyum kepada tetanggaku siapa lagi jalo bikan ibu eti sampai-sampai Bu Eti menatapi ku dengan begitu lama.
" eh Bu Endah itu marini toh bu."tanya nya kepada ibu.
"Iyaaa bu"jawabku dengan sumringah sambil menstater motor.
" Sekarang kamu kerja apa ni."tanyanya yang menjebak dan aku bingung harus menjawab apa tiba-tiba saja Ibuku berkata seperti.
" Oh itu si marini kerja freelance Bu makanya dia jarang keluar rumah."
" Oh kirain nganggur bu."timpalnya yg meledek ku sehingga dengan terpaksa aku dan ibu juga tertawa.
" Maafff ... Maaff kalau gitu Saya permisi ya....mari bu endah,marini ." Timpal Bu Eti yang berpamitan untuk pergi agar tidak membuat kericuhan.
"Ya mariii." Timpal kami yang menjawab dengan kompak.
pada akhirnya aku langsung saja menyetir motor pelan-pelan Karena aku tahu ibu tuh orangnya paling cerewet jika misalnya aku orangnya ngendarin motor sampai ketubruk jatuh dia marah-marah terus juga nggak pernah sabar kalau misalnya aku nggak sengaja nabrak kemarin ataupun ngerem mendadak.
"Apa ... kamu nggak malu sama status kamu sekarang, ibu cape sama kamu sampai ditanyaain oleh Bu Eti dengan pertanyaan yang sama kapan nikah kapan nikah padahal ini sudah akhir tahun masih nganggur." gerutu ibunya yang tidak bersyukur apa yang Allah berikan kepada dirinya mempunyai kedua anak yang cerdas, patuh dan hormat kepada ibunya.
" tapi Bu." timpalnya marini yang belum menyelesaikan kata karena pembicaraannya potong oleh ibunya.
" Tapii apa tapi apaa hah ... liat itu adikmu Yuli Sudah semester 5 Ya sudah bisa nyari duit sendiri berkat hasil jualan onlinenya lagi terus jadi guru TK lagi gaji lumayan di Tk bergengsi swasta emang kamu ga bisa ngapa-ngapain." imbuhnya sambil membandingkan dirinya dengan Yuli..
" Astaghfirullahaladzim .... masyallah sabar sih sabar dulu-dulu Aku berjuang keras nyari kerja ke luar kota sampai ibu nggak restuin ku kerja disana sekarang Aku harus kayak apa dan gimana lagi ini ya Allah." gumamnya marini dalam hati.
sampai aku mengendarai motor ini dengan hati yang kusut, ditambah ibu yang hobi sekali membanding-bandingkanku dengan teman-teman nya ataupun dengan Yuli Capek rasanya lalu langsung saja ibu menstop ku saat itu dia mengambil buku-bukunya di bawah jok motorku terus ia pamit kepadaku dan berpesan untuk beres-beres rumah.