
Pov Yuli
Aku sangat bingung bagaimana kelanjutan tanpa kehidupan Aku jalani Aku merapat membebankan semua orang aku takut jika diri meninggalkanku sama seperti Mba Marini yang dulu ditinggalkan oleh mas aryo Dia menderita Aku menyesal telah melakukan dosa yang tak seharusnya aku lakukan sebelum menikah dan kini Deni mulai menegurku.
"kamu yang sabar ya yul... Emang gak mudah untuk menikah tanpa persetujuan bapak dan ibu ku."timpalnya yang menyuruh ku untuk sabar.
"ya cuman Sampai kapan mas ...sampai kapan."timpal ku yang mengedah kedua tangan nya lantaran aku sedang frustasi saat ini.
" aku bosan menunggu ini mas dan lihat perut ini sudah makin membesar."rengek ku tuk meminta deni untuk menikahi ku segera.
"tahu tapi kamu jangan marah-marah seperti itu Dan jangan memojokkan ku terus."cerca deny yan memaki ku sehingga aku sangatlah sensitiv kemudian menangis.
"Hikss ... Hikss hikss."
"Hikss ... hikss !!!."imbuhku yang menangis lagi.
"sabar Yul sabar menikah itu tidak mudah kalo kita masih kuliah aku yakin suatu saat kita akan menikah segera setelah lulus kuliah ya."timpal denni yg menenangkan diri ku kemudian deni pun memeluk deni agar perasaan ku menjadi lebih menjadi lebih tenang.
"Ehmm .. Tapi Kamu nggak bohong kan Mas."ujar sih ku yang memeluk nya lagi.
"Ya yul."jawab denni yang membalas pelukan ku.
"tapi kamu ... Nda boong lagi kan mas."timpal sih ku yang bertanya-tanya lagi karena aku masih sangatlah juriga kepadanya.
"Ndah .... Lah yul aku masih mencintaimu."ujar sih denny yg merangkulku.
"Ehmmm ... Mass."jawab ku yang merangkul perut sampingnya.
"Ayo aku antarkan kamu ke rumah orang tua mu."ajaknya yg secera tiba-tiba menyuruhku pulang kan aku tak mau dan masih malu bertemu dengan bapak dan ibu.
"nggak Mas aku nggak bisa aku nggak mau."ucapku yang tak mau pulang karena malu juga dengan kelakuan ku sendiri.
"Iya tahu takutnya orang tuamu khawatir Yul kan Aku ada di sini."ucap denny yang berjanji padaku untuk menyelesaikan masalahku ini dengan baik.
dengan terpaksa aku menuruti keinginannya karena aku kasian sama bapak dan ibu yang berusaha mencari ku kemana-mana tambah lagi Aku diminta saran oleh ibu biar nanti ku tidak dikeluarkan oleh di pihak kampus nanti malukan aku menjadi sesuatu ladang malah bunting di tengah jalan.
lalu denni mengantari ku dengan menggunakan motor bebeknya, sampai di perjalanan masih bisa kita terdiam karena aku masih saja takut dengan insiden saat aku pernah kabur di rumah 1,5 bulan yang lalu.
kini kita sudah sampai di rumahku, bisa sampai di rumah, Ibu menangis jadi-jadinya dan Melihat badannya kurus akhir-akhir ini lalu ia melihatku dengan wajah sumringah lalu ia meneriaki Namaku berkalikali.
"Ya Allah Nak kamu dari mana aja nak Siapa yang nganterin kamu."tanya ibu yang penasaran kepada ku.
"anu .... Denny yang nganterin yuli ke sini Bu."jelasku pada ibu yang masih saja aku malu.
"Ya Allah makasih ya nak Udah nganterin anak Ibu kalau nggak ada kamu pasti ibu dan bapak melaporkan yuli hilang ke kantor polisi."ucap ibu yang berterima kasih kepada pacarku.
"Hehehe Iya Bu Maaaf ... Bu makanya saya nganterin sampai kesini."ucap Deni tersenyum kepada ibu.
"Ehmm ...baik. Banget kamu nak den." Timpal ibu yang berlebihan kepada Deni.
"Udah ... Bu gak usah repot-repot Bu sekalian denni mau buru-buru pulang sekaligus mau ngerjain skripsi."ucapnya yang ingin pergi sambil ia tersenyum dan berterima kasih lagi kepada ibu.
"nggak repot-repot Kok nak den karena kamu nganterin Yuli sampai selamat ibu mau ngasih oleh-oleh buat kamu karena kamu baik nak."
"Hehe ..... bisa aja Saya kan cuma nganterin doang Bu ."jawab sih denny yang masih saja malu-malu.
"ya ndak lah nak makanya ibu bawa oleh-oleh spesial untukmu Tunggu sebentar ya nak."Timpal ibu yang menyuruh Deni untuk menunggunya sebentar sembari Ibu ke belakang sebentar.
"Enjeh bu."jawab denny yang sungkam.
Aku mengajak deni untuk mengajak curhat sebentar mengenai keluhkesah yang aku hadapi batin yang robek karena omomgin para tetangga yang menghina keluarga kita cuman gara-gara hamil di luar nikah hidup kami menderita.
Kemudian denny mensupport padaku bahwa aku tak harus mendengarkan kata-kata orang lain yang terpenting calon Bayiku bisa nyaman dan Deni pun siap bertanggung jawab cuman perlu butuh waktu sampai aku dan Deni bisa lulus kuliah.
Kemudian ibu pun datang dengan wajah tersenyum lalu memberikan oleh-oleh kepada Deni kemudian Deni pun sangat berterima kasih lalu menyalim tangan ibu kemudian ibi tersenyum lalu ia bilang berhati-hati sambil Melambaikan tangan nya.
kemudian denny pun melambaikan lari jarak sebelum pergi kemudian ia 2 melangkah pergi ke arah rumah kami dengan menggunakan motor bebeknya itu.
kemudian ibu menyuruhku masuk sambil ia menenangkanku dengan mengambil air putih agar hati dan pikiran ku tetap jernih kembali kemudian ibu sangat bersyukur kepada Allah telah mendengarkan doa-doanya selama ini setiap salat tahajud.
"Napaa ... Kabur naak hikss hikss .... Bapak sama ibu nyari kamu."tanya ibu sambil menangis.
"maafin Yuli Bu,yuli kaburr tanpa sepengetahuan ibu bu."timpal aku yang menjelaskan nya sambil memeluk ibu.
"Hiks ... Hiks Ya ... Knp kamu nda kesini nak,Apakah kamu ga sayang lagi sama ibu."ucap ibuku memberikan pertanyaan menyayat hatiku sehingga aku menangis kesugukan sambil aku minta maaf kepadanya sambil ku menjawab seperti ini.
"Yaa ... Yuli sayang sama ibu dan bapak."
"soalnya Yuli digosopin yang enggak-enggak sama orang kampung sini Bu,Sakit hati Yuli Bu ."jelasku yang memeluk ibu.
Jelas aku tidak terima jika digosipkan seperti ini memangnya aku wanita apa yang sering dihina oleh mereka padahal hatiku sangat sensitif jika diperolok-olok oleh para tetangga menghardikku apalagi keadaan hamil yang sudah berjalan 6 bulan.
"Ya ... Allah nak Cuman karena perkara omongan mereka kamu sampai minggat Dari rumah Nak kan ada ibu yang selalu nemenin kamu."ucap ibu yang memeluk diriku sambil mengusap air mataku.
"Ya ... makanya Bu Yuli nggak mau seperti ini sakit hati Yuli Bu sakit."timpalku dengan kesal sambil menepuk-nepuk dadaku yang sesak ini.
"Sabar nak sabar Ibu tahu kamu lagi sakitdan ingat nak."ucap ibu yang merasa hatiku untuk sabar.
Kemudian aku tak bisa nerima perkataan Ibu karena masih saja mereka sering merendahkan martabat keluarga inisakit rasanya bila keluarga kami sering di olok-olok itu memperkalah aku hamil diluar nikah saja padahal Marini juga demikian pernah berbuat salah bikin malu saja dia kemudian ibu berkata lagi seperti ini.
"semangat ... perjuangkan cita-citamu Nak,Kalau kamu bisa menjadi lebih baik dari mereka yang sering mengolok-olok kamu."imbuhnya yang memelukku dengan erat.
Aku sayang dengan ibu,karena ibu selalu ada untukku dibanding teman-temanku Ya aku tahu aku telah berbuat dosa semoga ini jadi pelajaran untukku kelak nanti dan akan ku buktikan bahwa aku bisa membesarkan anakku bersama dengan deni akan ku buktikan bahwa kami layak jadi orang sukses dan dihormati oleh warga Kampung sini.
/Next Cerita berikutnya tentang marini/