Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 98. Tempat Seharusnya


Posisi Yasa yang berada di bawah kungkungan O'Connell sungguh tidak menguntungkan baginya. Ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ditambah tenaga nya sudah terkuras habis.


" Uncle Ar dan Bibi Silvya sepertinya sengaja membiarkan begini. Huuft, dasar dua orang tua itu. Masih suka bermain-main meskipun dalam keadaan genting seperti sekarang."


Bukannya khawatir dengan nasibnya, Yasa malah menggerutu mengenai kedua orang itu yang sampai sekarang tak kunjung juga keluar.


O' Connell tersenyum sinis saat melihat Yasa yang sudah begitu pasrah sekarang. " Ternyata hanya segitu kemampuanmu," ucap O'Connel congkak.


Dor


Klontang


Ketika O'Connel hendak menghujamkan belatinya tepat di wajah Yasa, sebuah tembakan dilepaskan dan berhasil mengenai tangan kanan pria itu. " Arghhhh!!!" O'Connell berteriak kesakitan dan Belati itu berhasil jatuh.


Yasa menyingkirkan tubuh O'Connell dari atas tubuhnya. Sebuah senyum dari uncle dan bibi nya membuat Yasa membuang nafasnya kasar.


" Kenapa nggak dari tadi sih," gerutu Yasa.


" Sengaja biar kamu oleh raga Yas. Badan mulai gemukkan tuh. Tuh lihat perut mulai membuncit."


Yasa hanya memutar bola matanya jengah mendapat jawaban dari Arduino. Ia sudah tahu uncle nya akan memberikan ucapan yang absurd.


O' Connell yang kesakitan karena tangannya tertembak terlihat begitu marah dan kesal. Ia gagal melukai Yasa. Tapi ada hal lain sekarang yang harus ia pikirkan, kemunculan dua orang tua itu membuat O'Connell bertanya siapa mereka.


" Aah cari tahu nanti. Aku harus menggerebek. Orang-orang ini. Hallo, copy, masuk ... hallo kalian cepat masuk!!"


Tidak ada jawaban. O'Connell berkali-kali menghubungi anak buahnya yang masih di luar vila tapi sama sekali tidak ada yang menyahut. Plak ... O'Connel melemparkan earphone miliknya.


" Kenapa? Kesel ya nggak ada yang bantuin. Kasihannya, anak buahmu sudah berada di tempat yang tepat sekarang. Kini pilihan berada di tanganmu. Mau tetap berada di sini, atau ku kirim kembali ke negaramu?"


Pria bule itu menelan saliva nya dengan susah payah saat mata tajam dengan aura mendominasi itu lekat melihat wajahnya. Wanita yang usianya sudah tak lagi mudah itu benar-benar membuatnya tidak berkutik


" Si-siapa kau? Siapa kalian semua!"


Wajah putih O'Connell semakin pucat saat kedua orang itu mendekat ke arahnya. Tatapan mata mereka sungguh kejam. Untuk ukuran orang yang sudah tua, mereka benar-benar begitu bertenaga.


" Kami? Kau bertanya siapa kami? Kami hanya dua orang tua yang sedang menyalurkan hobi," ucap Arduino diikuti kekehan tawa Silvya.


Jelas saja O'Connell tidak percaya omongan dua orang itu. Dilihat dari sikap dan kemampuan menggunakan senjata jelas mereka orang terlatih dan profesional.


Silvya tengah memeriksa keadaan Yasa, memastikan bahwa keponakannya itu baik-baik saja. Sedangkan Ar mencoba memeriksa para lawan, dan memang Yasa memiliki kemampuan yang mumpuni, terbukti mereka mendapatkan banyak luka.


Hal tersebut digunakan oleh O'Connell untuk kembali meraih pistol miliknya. Ia yang tadi sejenak terpaku oleh Ar dan Silvya kembali menyadarkan diri untuk bisa kembali melukai Yasa.


" Persetan dengan semua keahlianmu. Saat ini aku lebih ingin menghabisi mu," ucap O'Connell sengit. Sepertinya tujuan pria bule itu berubah sekarang.


Dor


Bruk


Tembakan yang dilepaskan O'Connel mengenai langit langit dan lampu gantung. Tubuh O'Connell jatuh karena berhasil di tendang oleh Ar.


Saat O' Connell membidik Yasa. Hal tersebut diketahui oleh Ar. Ar pun menggunakan kakinya untuk menjegal kaki O'Connell sehingga pria bule itu jatuh dan tembakannya meleset.


Lampu gantung jatuh dan pecah tepat mengenai kaki O'Connel. Pria itu berteriak kesakitan. " Arghhhh, sialan. brengsek kalian semua!"


" Yaah, ku rasa dia akan berakhir di tempat biasa," ucap Silvya dan Arduino saling melempar senyum. Mereka sama sekali tak berbelas kasih. Yasa saja ngeri melihat darah yang keluar dari kaki O'Connell tapi Silvya dan Arduino tidak. Mereka mengangkat lampu gantung dari tubuh O'Connell lalu menarik tubuh O'Connell.


Luka yang mengeluarkan darah tersebut tidak dihentikan sama sekali oleh Silvya Dia membiarkannya terus mengalir hingga tubuh O'Connell dibawa ke dalam mobil, sehingga bekas di lantai pun terlihat jelas merah.


" Mau dibawa kemana dia uncle?"


" Ke tempat yang seharusnya dia berada. Tidak usah khawatirkan soal pria ini. Pulanglah, jemput putramu. Pasti dia begitu khawatir sudah menunggu lama."


Yasa tentu tidak tahu kemana uncle dan bibi nya membawa pria bule itu. Tapi ucapan Uncle Ar membuatnya mengingat Tara. Ia pun segera mengambil mobil nya dan bergegas pulang. Ucapan terimakasih ia sampaikan kepada Ar dan Silvya untuk semua bantuan kedua nya.


" Semoga setelah ini kalian bisa menjalani hari dengan tenang tanpa ada gangguan lagi. Jangan sungkan untuk berbicara kepada kami kalau terjadi apa-apa."


" Aamiin Ya Rabb, baik uncle, bibi. Terimakasih banyak."


Yasa mengaminkan doa Silvya. Ia kemudian melajukan mobilnya untuk menjemput Tara di kediaman paman Dika.


Sementara itu rombongan Ar dan Silvya langsung menuju ke tempat Jason. Ar sudah menghubungi temannya itu, dan seperti yang sudah mereka duga Jason sangat bahagia menerima kedatangan orang-orang itu. Sudah lama tidak mendapat tangkapan besar, tentu ia akan menerima dengan tangan terbuka.


Iring-iringan mobil milik Ar dan Silvya pun sampai di rumah sakit milik Jason. Dengan senyum lebar, dokter itu menyambut rekan lamanya. Ya seperti yang diketahui orang mahal senyum itu hanya akan tersenyum dan tertawa sebanyak mungkin saat bersama rekan-rekan nya.


" Wohooo, tangkapan besar!"


" Kesukaanmu Jas."


Jason kemudian memerintahkan karyawannya untuk membawa orang-orang itu ke tempat yang semestinya. Tempat khusu yang biasa Jason gunakan untuk menguji semua obat-obatnya.


" Urus semua Jas. Itu ku serahkan padamu."


" Thanks Ar, Si."


Arduino dan Silvya tidak berada lama di sana mereka segera kembali. Semua sudah beres sekarang mereka berharap ini akan jadi bermain yang terakhir. Mengapa demikian? jika ini adalah bermain mereka yang terakhir maka berarti tidak ada lagi hal yang mengganggu keluarga mereka.


" Sepertinya waktunya kita untuk benar-benar pensiun Si." Arduino tiba-tiba berucap seperti itu di sela-sela mengemudikan mobilnya. Mereka saat ini tengah dalam perjalan kembali ke kota J.


" Ku rasa juga begitu Ar. Waktunya menikmati masa tua bersama anak dan cucu kita," jawab Silvya sambil menoleh kepada saudara kembarnya itu.


" Ya aku setuju."


Dari obrolan kedua saudara kembar itu sepertinya mereka benar-benar merasa di titik untuk beristirahat. Tapi apakah yakin bisa? Entahlah. Tapi keinginan keduanya saat ini adalah menghabiskan banyak waktu bersama keluarga masing-masing.


TBC