Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 47. Pertanyaan Tara


Tara berada dis studionya. Bocah itu mengendap keluar dari kamar anak tidak ketahuan sang bunda kalau dia lagi-lagi bergadang untuk menyelesaikan lukisannya. Tara sedikit mengeluh, sesungguhnya lebih enak melukis di kamar karena tidak akan ketahuan jika ia bahkan bergadang hingga pagi pun. Tapi kamarnya sudah tidak bisa menampung semua lukisan yang sedang dikerjakan.


Paling tidak dalam sehari ia bisa mengerjakan 2 sampai 3 lukisan bersamaan. Jika dia sedang tidak mood mengerjakan sebuah lukisan maka dia akan mencoba mengerjakan yang lainnya.


Seperti sekarang ini ia meninggalkan lukisan dengan gaya tempo dulu bangunan batavia itu untuk dan mengerjakan lukisan gunung Bromo permintaan Mr. Sun sebagai bayaran atas apa yang dia inginkan tempo hati.


Namun, lagi-lagi Tara berhenti. Ia menarik kursinya hingga menghadap ke lukisan yang awalnya enggan ia lanjutkan itu.


" Sebenarnya apa yang disembunyikan dalam tempat ini mengapa sungguh misterius sekali. Aku merasa ada sesuatu di sana."


Tara mulai mengambil kuas dan catnya lalu mulai menorehkannya ke dalam kanvas yang masih terlihat kosong dibeberapa bagian. Tara sungguh fokus mengerjakan lukisan bangunan tempo dulu tersebut.


Hampir 2 jam ia berkutat di sana. Perutnya terasa sedikit lapar, Tara kemudian bangun dari duduknya untuk mengambil beberapa camilan. Akan tetapi bocah itu urung saat ia menemukan ada suatu hal yang menarik perhatiannya.


Tara kembali duduk dan melanjutkan lukisannya. Ia yakin akan mendapatkan sesuatu ketika ia menyelesaikan lukisannya tersebut.


Total 5 jam Tara berkutat di depan kanvas. Menorehkan sedikit demi sedikit cat nya hingga sebuah lukisan selesai dan memperlihatkan wujud yang sebenarnya. Bocah itu berdiri lalu berjalan mundur sedikit menjauhi lukisan itu untuk melihatnya lebih jelas.


Mata Tara membulat sempurna saat ia baru menyadari bahwa orang di dalam lukisan tersebut adalah orang yang sangat dia kenal. Ketika ia melukis, ia benar-benar tidka menyadarinya.


" Bukankah itu wajah nenek. Mengapa bisa. Tidak mungkin nenek hidup di masa itu kan? Apa nenek masih keturunan noni belanda. Apa nenek adalah blasteran? Dan apa hubungannya dengan pemesan lukisan ini?"


Berbagai pertanyaan berputar dalam otak Tara. Ia harus memastikan sesuatu dan jalan satu-satunya menanyakan kebenarannya kepada bunda atau neneknya.


Berbeda dengan Tara yang sibuk berpikir sambil menelisik lukisannya yang baru saja jadi, Kaluna saat ini terbangun dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Jam di dinding menunjukkan pukul 02.30, Kaluna akan melaksanakan sholat malamnya. Kebiasaan yang sudah selama 5 tahun ini rutin ia kerjakan. Biasanya Kaluna akan melaksanakannya dengan 4 rakaat dan dua kali salam.


setelah selesai Kaluna akan mengambil kitab sucinya dan sejenak membaca meski hanya satu lembar. Yasa sayup-sayup mendengarkan suara Kaluna yang sedang membaca ayat suci. Pria itu lantas bangun dan duduk bersila sambil terus mendengarkan suara Kaluna yang ternyata sungguh merdu meskipun terdengar sangat lirih.


Sebuah kalimat diucapkan Kaluna sebagai tanda ia menyudahi kegiatannya. Wanita itu terkejut mendapati sang suami yang duduk sambil melihat kearah dirinya.


" Eh mas bangun? apa gara-gara mendengarkan suaraku jadi mas terbangun. Maaf jika begitu."


" Lian kali bangunkan aku juga jika kamu bangun lebih dulu.mari lakukan bersama."


Kaluna tersenyum lalu menangguk. Kali ini giliran Yasa yang bangkit dari tempat tidur dan melaksanakan sholat malam.


suasana kembali canggung saat keduanya sama-sama sudah duduk di atas tempat tidur. Baik Yasa maupun Kaluna bingung mau bicara apa.


" Buset deh, kenapa jadi awkward gini sih suasananya. Kita ini udah nikah tapi macam abg pedekate aja."


Yasa bergumam dalam hati. Ia sendiri juga bingung bagaimana harus memulai pembicaraan sampai ia menemukan ide.


" Oh iya Kal, sepertinya lusa aku harus kembali ke kota. Jatah cutiku sudah habis, aku harus segera ke kampus untuk kembali mengajar."


" Baik mas."


" Kal, terus soal perkebunan bagaimana?"


" Ya kita harus mulai dari awal mas, mulai membetulkan tanahnya kembali agar siap untuk ditanami. Tapi kita akan menyemai benih dulu agar saat tanahnya siap bisa langsung kita pindah tunasnya ke tanah."


Yasa hanya mengangguk. Untuk soal itu tentu ia tidak tahu banyak. Kaluna kembali diam. Tapi tiba-tiba wanita itu menghadap ke arah sang suami.


" Mas, maafkan aku jika aku ... ."


" Aku tahu, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu hingga kamu siap. Tapi apakah boleh nyicil dulu."


Haish, tampaknya Yasa sudah tidak sanggup jika tidak melakukan apa-apa terhadap bibir Kaluna yang selalu menggoda matanya itu. Bukankan mereka sudah halal dan bebas melakukan apapun?


Yasa meraih dagu Kaluna dan mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Ia menatap netra Kaluna dengan seksama. Mata berwana coklat itu sungguh cantik. Sejenak Yasa merasa wajah Kaluna ini tidak sepenuhnya wajah milik orang pribumi.


" Bolehkah?" Yasa kembali meminta izin kepada sang istri.


Dalam harti Kaluna mencoba untuk meyakinkan bahwa ini adalah bagian dari kewajibannya terhadapa Yasa. Cinta kah dia? Jawabannya belum, tapi ia akan berusaha untuk itu. Kaluna pun mengangguk. Mendapat lampu hijau dari sang istri tanpa ragu Yasa mendaratkan bibirnya tepat dibibir kaluna. Ia mulai menyesapp dan melummat bibir Kaluna, menggigit kecil bibir sang istri agar mau membukanya.


Kaluna memejamkan matanya menikmati lidah Yasa yang mulai menerobos rongga mulutnya. Tentu ini adalah pengalaman kedua mereka, tapi ini pengalaman pertama saat mereka dalam kondisi sadar bukan seperti waktu pertama 6 tahun silam.


" Terimakasih, untuk saat ini segini dulu."


Yasa mengurai ciumannya, ia lalu mencium kening Kaluna sejenak dan memeluk sang istri.


" Terimakasih dan maaf. Terimakasih sudah mau menunggu dan maaf aku belum sepenuhnya bisa jadi istri yang baik bagimu. Tapi akau akan berusaha."


Kaluna menemukan kenyamanan dalam pelukan dada bidang Yasa. Ia merasa hatinya sungguh merasa lega, ada sesuatu yang terbagi di sana. Kaluna merasa bebannya pun sedikit berkurang dalam pelukan sang suami.


Adzan subuh berkumandang, kali ini Yasa dan Kaluna menunaikan kewajiban 2 rakaat itu bersama. Keduanya saling memanjatkan doa setelah selesai dengan kewajibannya.


Kaluna mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dadanya tiba-tiba merasa sesak. Entah kenapa, tapi saat ini itulah yang ia rasakan. Kaluna bahkan harus menepuk dadanya agar rasa sesak tersebut sedikit mereda. Tentu hal tersebut tidak lepas dari pandangan Yasa.


" Kal, kamu kenapa?"


" Entahlah mas, tiba-tiba aku merasa tidak enak. Seperti akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Tapi semoga bukan."


Baru saja Kaluna selesai dengan ucapannya seseorang mengetuk pintu kamar Kaluna dan Yasa dengan sedikit lebih keras. Bisa mereka tahu bahwa yang mengetuk pintu kamar mereka adalah mbok Yem.


" Ada apa mbok?"


" I-itu neng, den di luar ada ... ."


TBC