
Semua orang jelas terkejut dengan apa yang dikatakan Tara kecuali Vanka. Wanita paruh baya itu sama sekali tidak terkejut. Ia bisa melihat bahwa wanita tua yang bernama Carolina itu memang wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan sang ibu. Jika tidak ada tahi lalat di sebelah pipi kanan sang ibu jelas sekali bahwa mereka memiliki wajah yang sama persis, kembar identik mungkin istilah itu yang past.
" lalu bagaimana Tara bisa mengetahui hal tersebut. Terus bagaimana Tara tahu bahwa nenek buyut dalam masalah dan sedang dalam keadaan bahaya."
Glek, Tara menelan saliva nya dengan susah payah. Kali ini dia tentu sangat kebingungan untuk menjelaskan. Tidak mungkin ia menjawab pertanyaan ayahnya dengan jawaban dia terlah meminta bantuan kepada Mr.Sun. Jelas mereka tidak akan percaya.
Tara mencoba berpikir keras. Ia harus mencari mengenai jawaban yang tepat untuk pertanyaan sang ayah tersebut. Sedetik, dua detik, tiga detik berlalu. Tara belum juga bertemu hingga seseorang menghubungi ponselnya.
" Kang Kurir!" ucap Tara spontan.
" Maksud Tara apa?" tanya Kaluna.
" Begini yah, bund, dan semuanya. Tara pernah diminta seseorang melukis sesuatu. Nah terus Tara iya kan, Kang Kurir lah yang mengantarkan hasil lukisan Tara ke rumah nenek Carolina. Kata kang kurir dia merasa ada yang tidak beres. Ada teriakan minta tolong. Terus Kang Kurir menghubungi Tara. lalu Tara menghubungi Paman Zi."
Tara mencoba merangkai cerita yang real agar mereka semua tidak curiga. Yasa dan Kaluna mencoba memahami apa yang dikatakan Yara. Meskipun begitu, Yasa sungguh tidak bisa percaya sepenuhnya. Yasa menghembuskan nafasnya kasar. Biar saja sang putra mengatakan apa yang ingin dikatakan. Namun, sejurus kemudian ia sudah mengirim pesan kepada Zion, meminta tolong untuk menyelidiki apa yang terjadi.
" Baiklah, sepertinya kita lebih baik mengunjungi Nyonya Carolina dan menanyakan apa yang terjadi."
Yasa memberi keputusan. Sebenarnya agak sedikit aneh, karena secara tidak langsung mereka mencampuri urusan orang lain yang sama sekali tidak mereka kenal sebelumnya. Tapi tidak ada salahnya membantu orang yang sedang kesusahan.
Dipimpin oleh Yasa, mereka masuk ke dalam ruang rawat Carolina. Tentunya atas seizin dokter. Tapi Brisia dan Lio tidak ikut. Merasa tidak ada sangkut pautnya dengan urusan yang ada, Brisia memilih pamit undur diri.
" Aku akan mengantarmu pulang," ucap Lio kepada Brisia.
" Tidak perlu, antar aku ke restoran lagi. Mobilku masih ada di sana. Aku harus pulang bersama mobilku."
Lio pasrah. Niatnya ingin mengantar pulang agar tahu dimana rumah Brisia tapi sepertinya sekarang bukan saatnya. Entah apa yang Lio rasakan tapi ia ingin segera menemui orang tua Brisia. Untuk apa? Untuk melamar. Lio merasa hatinya klik dengan Brisia dan tidak ingin menunda untuk berlama-lama. Gila, mungkin itu lah kata yang tepat untuk mewakili isi hati dan pikiran Lio.
Tapi sungguh pria begitu tertarik dengan tampilan Brisia yang sederhana. Baru kali ini dia menjumpai wanita yang sederhana. Biasanya wanita yang ia temui selalu berpakaian minim dan make up tebal untuk memberitahukan kepada orang lain betapa cantiknya mereka. Sungguh berbeda dengan Brisia. Gadis itu cantik dnegan caranya sendiri. Maka dari itu Lio langsung menyukainya.
Sesuai keinginan Brisia Lio mengantarkan gadis itu kembali ke restoran miliknya. Sesampainya di tempat parkir Brisia langsung berpamitan keluar mobil. Lio hanya mengangguk kecil sambil tersenyum simpul. Tapi senyumnya sirna saat ia melihat Brisia dihampiri oleh seorang pria. Ia tidak mengenal pria tersebut, tapi Lio cukup ingat bahwa pria itu yang kemarin juga ada bersama Brisia saat acara konferensi pers dengan media bersama dengan keluarga Yasa.
" Apa itu kekasih Brisia? Mengapa mereka terlihat begitu akrab?"
***
" Habisnya kamu sih. Kan bisa diminta baik-baik. Aku yakin pasti kita bisa dapat semua sertifikat tanah dan perkebunan yang dia pegang. Kalau sudah begini mau gimana hah!"
Dua orang berbeda jenis kelamin itu tampak saling menyalahkan satu dengan yang lain. Yang satu mengeram marah karena rencana ayang sudah ia susun gagal dan yang satu kesal karena sebenarnya mereka tidak harus menggunakan cara kasar untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
" Sudah percuma berdebat. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah kembali ke rumah itu dan mencarinya. Aku yakin dia menaruhnya di dalam rumah. Nenek bau tanah itu tidak akan bisa pergi kemanapun buka.ln? Dan rumah satu-satu nya tempat yang bisa ia gunakan untuk menyimpan apapun benda berharganya."
Si wanita mengangguk setuju. Rejeki nomplok begitulah kiranya apa yang mereka dapatkan saat bertemu dengan Carolina. Carolina yang waktu itu kesusahan membawa barang belanjaannya dibantu oleh Kani. Dan singkat cerita Kani bekerja di tempat Carolina sebagai asisten rumah tangga.
Bukannya bersimpati kepada Carolina yang hidup sebatang kata, Kani malah memiliki motif lain. Tahu bahwa Carolina tidak memiliki anak dan cucu Kani enjadi tamak dna menginginkan harta benda milik Carolina yang lumayan banyak. Hal tersebut Kani ketahui sata Carolina bercerita tentang kemana dia harus memberikan warisannya. Carolina bercerita kepada Kani karena dia menganggap Kani adalah orang yang baik.
Tapi ternyata Kani tidak sebaik yang Carolina pikir. Setelah bekerja selama setengah tahun Kani memiliki rencana buruk. Ia membawa serta sang suami yang bernama Sarno untuk ikut ke rumah Carolina dan selalu membujuk Carolina mengatakan dimana wanita tua itu menyimpan surat berharganya. Dengan dalih akan membantu mengurus. Tapi Carolina tentu tidka percaya hingga paksaan demi paksaan dia terima dna terakhir kejadian fatal terjadi yang membuat nyawanya hampir melayang.
" Apakah kita akan kesana sekarang mas?"
" Nanti dulu Ni, takutnya rumahnya ada yang jaga."
" Halah mana ada. Kan dia nggak punya siapa-siapa mas. Nanti keburu ada maling kita malah nggak bakalan dapat apa-apa."
Sarno memikirkan setiap ucapan sang istri. Dan sebuah kesimpulan diambil bahwa apa yang dikatakan Kani semuanya jelas benar adanya. Seandainya pun mereka tidka bisa menemukan sertifikat rumah serta perkebunan teh milik Carolina, paling tidka mereka bisa mendapatkan benda-benda antik di dalam rumah wanita tua itu.
" Oke, ayo kita kesana. Semakin cepat semakin baik. Aku yakin rumah wanita yang sudah bau tanah itu pasti kosong."
Kani tersenyum, harapannya untuk hidup enak tidak akan lama lagi terwujud. Dia sudah menahan beberapa bulan ini untuk mengerjakan setiap pekerjaan rumah tangga di rumah Carolina. Sungguh Kani sudah sangat muak.
" Setelah ini kita akan hidup enak mas. Kita nggak perlu lagi susah payah kerja."
" Kau benar sayang. Tidak lama lagi kita akan jadi juragan perkebunan teh."
Tawa kedua orang tamak itu sungguh luar biasa keras. Inilah kategori manusia yang ingin merasakan kenyamanan tanpa mau bekerja dN berusaha. Jadi, apakah mereka akan berhasil?
TBC