Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 51. Jadi Berita Besar


Klara yang awalnya tidak senang melihat keakraban Zion dengan Kaluna tiba-tiba tersenyum penuh arti. Bagaimana tidak, di sana dia melihat ada Yasa. Sebuah keyakinan timbul di hati Klara bahwa ada sesuatu yang terjadi antara Kaluna dan Yasa.


Niat awal ingin langsung menemui Zion akhirnya ia urungkan dulu. Klara memundurkan mobilnya dan berjalan menjauh. Ia akan menunggu saat yang tepat untuk menemui Zion yakni siang nanti saat jam makan siang. Klara terlebih dulu pergi untuk mencari makan siang untuk Zion. Ia harus kembali meraih hati Zion dengan tujuan tambahan. Yakni mencari tahu tentang Kaluna dan Yasa.


Di villa, Tara mencoba menghubungi Mr. Sun kembali. Bukan untuk meminta Mr. Sun mencari tahu tentang identitas si pemesan lukisan tapi Tara meminta alat untuk menyadap pembicaraan.


Ya, Tara punya rencana lain. Ia ingin tahu lebih banyak mengenai si pemesan dan ada hubungan apa antara pemesan dan nenek buyutnya.


Tring


Sebuah pesan balasan diikuti pesan yang lain masuk ke surel miliknya. Bocah itu tersenyum lebar saat Mr. Sun hendak mengirimkan sebuah alat untuk menyadap sebuah pembicaraan. Alat itu akan Tara tempelkan di lukisan yang rencananya akan ia kirim besok.


" Haah, bisa bernafas lega. Tapi bentar, pesan siapa yang lainnya."


Tara kemudian membuka pesan lain yang masuk ke surelnya. Ia menghela nafasnya berat. Pria yang bernama Hanson O' Connel itu nasih saja kukuh meminta dirinya untuk menduplikasi lukisan. Dan, kali ini lukisan yang diminta lain lagi.


" Haaah terserah kau saja lah. Mau sebanyak apapun kau meminta aku tidak akan pernah melakukannya. Hei, kita punya kode etik tersendiri. Meskipun tidak tertulis tapi pantang bagi seorang seniman menjiplak karya orang lain itu adalah bentuk pelanggaran dan harga diri yang sangat rendah. Hiiih semoga aku dijauhkan dari hal-hal demikian."


Pola pikir bocah 5 thaun on the way 6 tahun itu sungguh luar biasa. Dia sudah tahu bahwa menjiplak atau plagiat adalah perbuatan buruk dan bisa dikenai hukuman pidana.


Tara kemudian melanjutkan kembali kegiatannya. Kemarin sang bunda mempunyai rencana untuk memasukkan Tara sekolah di sebuah taman kanak-kanak sekitar daerah villa. Tapi Tara menolak. Dia ingin langsung masuk SD saja. Baginya masuk ke taman kanak-kanak sedikit menjadi lebih ribet. Padahal sebelumnya Tara sangat antusias sekali untuk sekolah.


Semuanya berubah saat dia banyak menerima orderan. Pekerjaannya menjadi semakin padat. Jika harus sekolah maka bisa dipastikan bahwa ia bisa-bisa bergadang setiap malam untuk menyelesaikan deadline pekerjaannya. Lagi pula ini masih jenjang taman kanak-kanak jadi Tara memilih tinggal di rumah saja dulu.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Tara bergegas keluar saat mendengar suara ayah dan bundanya yang sepertinya sudah kembali dari kebun. Tapi dia tidak melihat pamannya. Yasa seakan paham apa yang dipikirkan oleh Tara. Yasa kemudian mengatakan bahwa Zion kembali ke rumahnya karena akan ada tamu yang datang. Tara hanya ber-o ria mendengar penjelasan sang ayah


" Kal, apakah kalian baik-baik saja jika aku tinggal lusa untuk kembali ke kampus."


" Tidak apa-apa mas. Kami sudah terbiasa."


" Huft, aku tahu. Tapi mengingat kejadian pagi tadi dan prediksi Zion sola orang-orang yang menargetkan mu sungguh aku khawatir Kal."


Ada sebuah getaran yang dirasakan oleh Kaluna melihat perhatian dari Yasa. Senang kah? Mungkin. Baru kali ini dia merasa diperhatikan dan dikhawatirkan. Selama ini hidup di Kota S hanya berdua dengan sang putra mendapat perhatian seperti itu memanglah terasa aneh tapi Kaluna merasa senang.


" Terimakasih mas sudah mengkhawatirkan kami. Tapi aku akan baik-baik saja kok. Aku tidak selemah kelihatannya oke." Kaluna mengatakan hal tersebut dengan senyum. Senyuman yang membuat jantung Yasa berpacu cepat.


Haish, pengen ku tubruk juga nih emaknya bocah tapi kok ya kayaknya doi belum siap. Sabaar ...


Yasa berbicara dalam hati sambil memperhatikan Kaluna. Ternyata apa yang dilakukan tidak lepas dari pengelihatan Tara. Bocah itu hanya tersenyum simoul melihat kelakuan dua orang dewasa yang terkesan masih malu-malu tersebut jika tengah bersama.


Ya kali aku harus ikut campur dengan urusan orang tua. Ish, tak boleh tuh. Biar mereka mengurus sendiri urusan itu. Sungguh urusan lebih banyak. Haish


πŸ€πŸ€πŸ€


Zion yang mendapat pesan dari mantan kekasihnya kini sudah menunggu di teras rumahnya. Terlebih dulu Zion melaksanakan kewajiban 4 rakaat siang itu. Karena Klara mengatakan bahwa ia akan membawakan makan siang untuknya maka pemuda itu pun memilih tidak memasak.


Ya, biasanya Zion akan memasak sendiri makanannya. Setelah memutuskan bekerja di perkebunan dan hidup mandiri, Zion benar-benar berubah jadi pria yang serba bisa melakukan pekerjaan rumah.


" Haish, daddy lagi ngapain ya. Telpon ah. Eh telpon mommy aja deh."


Zion mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Tapi ia urung menekan nomor sang mommy saat sebuah mobil terparkir tepat di depan rumahnya. Zion tersenyum melihat siapa yang keluar dari dalam mobil tersebut.


" Assalamu'alaikum Klara Maysa Ningrum."


" Stop a' jangan memanggil nama lengkap ku. Aku nggak suka."


Zion hanya terkekeh geli. Ia sungguh tahu kalau Klara tidak suka dipanggil dengan nama lengkapnya. Padahal menurut Zion itu sungguh bagus. Bahkan Zion sebenarnya lebih suka memanggil dengan nama tengah Klara yakni Maysa, tapi Klara selalu menolak.


" Ini aku bawakan makan siang untuk aa ."


" Terimakasih May."


Bibir Klara mencebik kesal. Ia benar-benar tidak suka nama itu. Tapi Klara memilih diam. Untuk sekarang ada hal lain yang harus ia cari tahu. Berpacaran selama setahun ia yakin Zion pasti mau bercerita mengenai Kaluna dan Yasa. Terlebih Zion tidak tahu hubungan dirinya yang tidak baik dengan Kaluna.


" Perlu aku ambilkan piring a' ?"


" Nggak usah. Aku aja. Udah kamu duduk. Aku buatin minum dulu."


Klara mengangguk, sebenarnya dia sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi tapi ia harus sabar. Dirinya tidak boleh terburu-buru. Yang ada Zion pasti akan curiga.


Klara benar-benar dalan mode santuy dan kalem. Ia menunggu Zion sampai pemuda itu selesai dengan makan siang nya.


" Alhamdulillah kenyang oh iya Ra ada apa. Kupiikir kamu sudah nggak mau ketemu aku sejak kamu mutusin aku."


" Maaf a' itu emosiku sesaat. Bisakah kita kembali? Aku sungguh masih cinta sama aa."


Zion mengambil nafasnya dalam-dalam tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun membuat Zion merasa lebih tenang sekarang. Dan mungkin memang lebih baik begini saja.


" Maaf Ra, aku nggak bisa. Aku lebih nyaman begini."


Klara tentu terkejut, dia sangat yakin bahwa Zion akan kembali pada nya. Tapi ternyata semuanya benar-benar tidak sesuai ekspektasi nya. Tapi saat ini Klara mengesampingkan hal itu. Ia akan mengejar Zion nanti setelah mencari informasi tentang Kaluna.


" Oh iya tadi aku sempat lihat aa ngobrol akrab sama beberapa orang. Siapa mereka?"


" Oh itu Zalfa, lalu Kak Kaluna dan Kak Yasa. Kalau nggak salah kamu dulu kuliah di univ tempat Kak Yasa ngajar kan?"


" Iya, kok Pak Yasa ada di sini?"


" Ooh mereka baru aja menikah sabtu kemarin."


Klara sedikit terkejut dengan fakta bahwa Yasa menikahi Kaluna. Wanita itu langsung mengambil kesimpulan sendiri. Otaknya pun cepat menyusun sebuah rencana.


" Ini akan jadi berita besar. Aku yakin kehancuran itu akan di depan mata."


TBC


TBC