
Zion bersama Yasa sedang membicarakan suatu hal. Ini merupakan bagian dari rencana keduanya untuk orang yang bernama Tatang dan Tarjo.
Orang yang baru saja diamankan oleh Zion adalah salah satu warga di sana yang rupanya bekerja pada perkebunan Kaluna. Dengan iming-iming akan dibayar dengan uang yang lumayan banyak, Asep nama orang tersebut menuruti perintah Tarjo untuk menghasut warga.
Bahkan hasutan yang dilakukan tidak hanya di sekitaran tempat tinggal Kaluna melainkan sudah merambah hingga ke pasar. Maka dari itu banyak pedagang yang awalnya mengambil sayur di tempat Kaluna kini tidak lagi mau mengambilnya.
Sungguh strategi licik untuk menjatuhkan lawan. Rupanya tidak hanya di kota besar politik seperti itu dilakukan.
" Asep, jika kamu tidak mau dilaporkan ke polisi maka kamu harus mengikuti apa yang ku perintahkan."
" Baik Kang Mandor. Saya akan menuruti semua yang diperintahkan Kang mandor."
Zion langsung memberitahu apa yang harus dilakukan oleh Asep. Asep mengangguk patuh dengan setiap instruksi dari Zion. Memang lebih baik dia berubah haluan dari pada harus berakhir menderita.
" Apa kau paham. Sekarang temui orang yang menyuruhmu itu dan katakan semua yang baru saja aku katakan."
Asep langsung bergegas pergi. Yasa sejenak melihat ke arah Zion lalu menanyakan apakah sekiranya Asep akan melakukan apa yang Zion perintahkan. Zion menjawab dengan pasti bahwa Asep tidak akan ingkar. Terlebih dia mengirim satu orang untuk mengawasi pria tersebut.
Asep berkali-kali mengacak kepalanya yang tidak gatal. Ia serasa makan buah simalakama sekarang. Tapi mau tidak mau dia harus melakukan perintah Zion.
" Sialan. Semua teh jadi kacau gini. Kenapa juga aku bisa ketahuan kan runyam huh."
Asep melihat Tarjo yang sepertinya memang sudah menunggunya untuk menanyakan hasil dari tigas yang diberikan. Pria itu mengatur nafasnya. Berusaha setenang mungkin agar tidak gugup dalam berbicara.
" Bagaimana? Apakah berhasil?"
" Begini Kang Tarjo. Kami berhasil mendatangi rumah wanita itu dan warga terlihat begitu marah. Bahkan warga melempari wanita dan pria itu dengan tomat dan sayur-sayuran. Mereka juga tampak malu saat digrebek warga."
Tarjo tersenyum lebar. Ia benar-benar yakin bahwa Asep berhasil melakukan apa yang jadi keinginan Juragan Tatang. Tarjo kemudian memberikan sejumlah uang kepada Asep atas hasil kerja Asep tapi Asep menolaknya dnegan dalih ia senang membantu. Tarjo tentu senang, ia kemudian menyimpan uang itu kembali.
Di sisi lain Tara yang sedari pagi sebenarnya sudah tahu tentang keributan yang terjadi di luar rumahnya ikut merasa kesal kepada para warga tersebut. Bagaiman bisa mereka berbicara buruk tentang bunda nya. Ia sungguh tidak ingin melihat bundanya menangis lagi seperti waktu dulu.
" Awas saja kalau bunda ku kenapa-napa." Tara mengeram marah. Bocah itu menghabiskan waktu semalaman untuk menyelesaikan lukisan malah pagi-pagi dapat hal yang sangat tidak menyenangkan begitu.
Namun saat ini ada hal lain yang harus Tara lakukan terlebih dulu. Mengenai lukisan yang baru saja ia selesaikan dan mengenai wanita yang ia lukis dimana wanita itu sekilas mirip dengan wajah sang nenek.
Tara mengambil ponselnya lalu mencari nama kontak neneknya. Ia harus segera memastikan sesuatu sebelum menanyakan langsung kepada orang yang memesan lukisan.
" Assalamu'alaikum nenek, nek Tara mau tanya sesuatu."
" Waalaikumsalam sayang cucu nenek paling ganteng. Mau tanya apa nak."
" Nek, apakah nenek bukan orang sini, maksud Tara apakah dulu neneknya nenek atau ibu nya nenek adalah orang dari negera lain."
Di seberang sana Vanka terdiam. Ia mencoba mencerna apa yang sedang ditanyakan oleh sang cucu. Vanka sedikit merasa heran dengan cucu nya tersebut. Bagaimana bisa Tara bertanya hal tersebut.
" Kenapa Tara bertanya begitu?" Kini giliran Vanka yang bertanya kepada Tara.
" Aah pengen tahu saja nek. Solanya kok mata bunda tuh warnanya coklat gitu, nggak kayak warna mata orang sini asli." Tara menghembuskan nafasnya penuh kelegaan saat berhasil menjawab pertanyaan sang nenek. Beruntung dia ingat akan hal tersebut, jika tidak entah alasan apa yang harus dia gunakan untuk memperkuat pertanyaannya.
Tara mendengarkan setiap cerita sang nenek dengan seksama. Dia tidak ingin ada yang terlewat sedikit pun. Rupanya benar, ibu dari sang nenek atau bisa dikatakan bahwa nenek buyut Tara masih keturunan dari negara yang mendapat julukan negeri van orange. Nenek butut Tara menikah dengan kakak buyutnya yang asli orang pribumi dan akhirnya menetap di sini.
Akan tetapi Vanka sendiri juga tidak pernah tahu keberadaan keluarga dari pihak ibu. Lagi pula sang ibu juga tidak pernah bercerita mengenai keluarganya. Ibu nya hanya mengatakan bahwa negara yang terkenal dengan bendungan dan kincir angin itu adalah tanah kelahirannya.
" Nah jadi begitu sayang ceritanya, cucu nenek yang paling ganteng. Apakah sudah menjawab rasa penasaran Tara."
" Aah begitu. Alhamdulillaah sudah nek. Terimakasih sudah bercerita. Sekarang Tara jadi mengeri asal-usul keluara dari bunda."
Setelah mendengar cerita sang nenek kini Tara kembali termenung. Ia merasa yakin bahwa orang yang memesan lukisan tersebut pasti mengenal keluarga dari bunda nya. Tapi dia tidak mungkin bertanya langsung. Pasti akan menimbulkan kecurigaan.
" Haish, lagi-lagi aku harus minta bantuan Mr. Sun. Siapa lagi orang yang bisa aku mintain tolong."
Baru saja Tara hendak mengambil tabletnya dan mengirim surel, pintu kamarnya sudah diketuk terlebih dulu. Suara sang bunda terdengar memanggil namanya.
" Tara sayang, mari sarapan dulu nak. Sudah ditunggu ayah. Ada paman Zion juga."
" Ya bund, wait. Just a moment."
Tara kembali meletakkan tabletnya lalu membuka pintu kamarnya dan langsung memeluk sang bunda. Bocah itu tersenyum saat melihat wajah cantik bundanya yang menampilkan senyum juga. Tara menelisik wajah Kaluna, melihat ke arah mata Kaluna. Tara sungguh khawatir bundanya akan menangis gara-gara kejadian tadi selepas subuh. Tapi apa yang ia pikirkan ternyata salah, bundanya tampak baik-baik saja.
" Alhamdulillaah," ucap Tara lirih.
Ia lalu menggandeng Kaluna untuk menuju ke ruang makan. Sesampainya di sana Tara menyalami ayah dan pamannya bergantian.
" Hey boy, bagaimana tidurmu? Apakah cukup nyenyak?" tanya Yasa kepada sang putra.
" Eeh itu, lumayan yah," jawab Tara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bocah itu meyakinkan dirinya bahwa dirinya tidak berbohong. Aku nggak bohong lho Ya Allaah, kan emang Tara bobo nya nyenyak meskipun hanya tiga jam terus habis itu begadang sampai pagi, batin Tara dalam hati.
Yasa tersenyum simpul. Ia mengusap kepala sang putra dengan penuh kasih sayang. Yasa kembali meneguhkan dirinya untuk melindungi putra dan istrinya. Namun saat ini ia belum bisa berbuat banyak karena mereka harus LDM meskipun hanya terpaut jarak sekian jam.
" Zi aku harap kamu bisa ikut menjaga vila ini saat aku sedang tidak ada di sini."
" Tenang kak, aku udah nyiapin beberapa orang untuk menjaga villa ini. Aku udah minta tambahan orang dari daddy."
Tara dan Kaluna saling pandang. Ibu dan anak itu tidka mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh dua pria dewasa yang duduk di depan mereka.
" Jadi, apakah ayah akan ke ibu kota?"
" Iya nak, soalnya ayah harus mengajar. Nanti para mahasiswa ayah nyariin kalau ayah liburnya ke lamaan."
Tara tentu mengerti bahwa sang ayah adalah dosen dan profesor muda di sebuah universitas yang tentu masih milik keluarga besar Dwilaga. Semua kembali menikmati sarapan mereka dengan hikmad. Namun, sebuah pertanyaan dari Tara seketika membuat Yasa dan Kaluna tersedak hingga mereka sampai mengeluarkan air mata.
" Paman, memangnya pertanyaan salah ya."
" Hahaha tidak salah tapi mungkin ayah dan bunda mu belum tepat saja waktunya."
TBC