Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 96. Kekhawatiran Benoit


Yasa dan Tara bekerja sama untuk membuat alasan agar Kaluna sementara tinggal di rumah Hasna dan Radi. Tentu saja dua orang tua itu sungguh senang. Terlebih kabar kehamilan kedua Kaluna menjadi sesuatu yang membahagiakan bagi Hasna dan Radi. Meskipun saat ini Radi masih berada di kampus, Yasa rupanya menghubunginya via telepon sebelum mereka sampai di kediaman Dwilaga.


" MasyaaAllaah selamat ya sayang. Ibu turut bahagia. Semoga selalu sehat. Apakah sudah mengabari mama dan papamu hmm?"


" Belum bu, soalnya kami langsung kemari. Nggak tahu itu mas Yasa dan Tara mau ada yang dikerjakan dulu di rumah. Katanya mau sedikit membereskan barang yang tidak diperlukan jadi Kaluna diminta Mas Yasa untuk tinggal di sini."


Hasna langsung melayangkan tatapan maut nya kepada sang putra setelah mendengar ucapan Kaluna. Ia merasa putra dan cucu nya itu sedang merencanakan sesuatu.


" Jangan berpikiran yang aneh-aneh bu. Aku hanya mau ngajak Tara beresin lukisan dan beresin cat-cat lukis itu. Kalau Kaluna di rumah kan pasti baunya kecium kan, itu nggak bagus buat ibu hamil."


" Bener juga. Ya udah sayang, kamu di sini saja. Mau makan apa hmm, ada kepengen apa nanti ibu buatin."


Hasna langsung membawa Kaluna ke dapur sedangkan Yasa dan Tara menghela nafas penuh kelegaan. Hampir saja Yasa kerepotan untuk menjawab pertanyaan ibunya.


Ayah dan anak itu kemudian pamit untuk pulang. Mereka berjanji akan segera menyelesaikan beres-beresnya. Beberapa orang milik Wild Eagle tetap tinggal di kediaman Dwilaga untuk berjaga dan sebagian lagi ikut pulang ke kediaman Yasa.


Tadi malam, Tara menyalakan ponsel dan tabletnya. Ia kemudian berkomunikasi dengan Mr. Sun untuk melonggarkan akses agar O'Connell menemukan keberadaan dirinya. Seperti yang sudah Tara rencanakan dan rupanya Yasa juga berpikiran hal yang sama, mereka akan menyelesaikan ini sesegera mungkin agar bisa menjalani hidup dengan tenang.


Tara tentu tidak ingin juga terus dikejar-kejar oleh ketua sindikat barang palsu itu. Begitulah Tara menyebut Hanson O' Connell. Dan rupanya keputusannya itu mendapat dukungan dari Mr. Sun juga Wild Eagle. Dan tanpa sepengetahuan Tara Black Wolf yakni organisasi milik Baba Arduino turut akan membantu Tara.


Setelah kembali dari vila, Ar langsung menemui Silvya dan menceritakan semuanya. Kini bahkan kedua orang itu sudah ada di rumah Yasa.


" Laah Baba Ar dan Oma Silvya di sini juga?"


" Yup!!"


Jawab Silvya dan Ar bersamaan. Sebenarnya Tara masih sedikit bingung, yang ada dalam pikirannya mungkin sang ayah yang meminta dua saudara kembar Linford itu untuk datang.


" Lalu apa strateginya?" Yasa bertanya kepada kedua paman dan bibi nya tersebut.


" Pancing ke villa Paman Dika. Paman mu memiliki villa yang lumayan jauh dari penduduk. Tempat itu sangat pas untuk memancing O'Connell."


Penjelasan Silvya jelas membuat Yasa bernafas lega. Jika itu dilakukan di rumah, ia yakin akan butuh waktu untuk mengembalikan rumah seperti sedia kala. Jika tidak maka Kaluna pasti akan curiga.


" Baiklah, mari kita berangkat. Dan Tara, aku akan mengantarkan ke rumah oma dulu. Di sana ada Tante Dita, oma yakin Tante Dita bisa menjagamu," ucap Silvya kepada Tara. Sebenarnya Tara hendak protes, ia ingin ikut serta. Akan tetapi, ini adalah situasi berbahaya. Kehadirannya bisa saja akan membuat kubu mereka terpecah konsentrasinya. Tara pun mengangguk patuh menuruti pengaturan dari Oma Silvya.


πŸ€πŸ€πŸ€


Pria itu bahkan selama beberapa hari berdiam diri di kamarnya dan terus mencari mengenai keberadaan buruannya. Ya, Hanson O'Connell menganggap dirinya adalah seekor serigala yang saat ini tengah mengintai mangsa dan siap untuk menerkamnya.


" Ha ha ha, apa ku bilang, tidak mungkin mereka tidak memiliki kelemahan. See, nyatanya web nya berhasil aku dapatkan kembali. Kena kau Pittore. Aku akan mendapatkan mu, rupanya lokasi kita begitu dekat. Kita masih berada di kota yang sama. Waah aku sungguh tidak sabar untuk menemui mu."


Tanpa O' Connell tahu, bahwa apa yang ia anggap kemudahan itu sebenarnya adalah hal yang disengaja.


Pria tersebut segera keluar kamar setelah berhasil mendapatkan sinyal keberadaan Pittore. Ia lalu memanggil semua Benoit, sang asisten pribadi. O'Connell memerintahkan Benoit untuk mengumpulkan anak buahnya dan bersiap menuju lokasi yang ia temukan.


" Apa sudah mendapatkannya tuan?"


" Sudah lah, kau saja yang tidak becus bekerja. Meskipun harus bergadang tapi aku berhasil menemukan lumbung uang ku. Tck, jangan kebanyakan tanya. Ayo segera ke lokasi."


Benoit sedikit agak ragu sebenarnya dengan penemuan lokasi Raka Pittore yang terkesan tiba-tiba tersebut. Pasalnya sekelas hecker internasional saja tidak bisa menemukan dan sampai sekarang serangan virus yang masuk ke sistem mereka tidak juga bisa dibersihkan. Naluri Benoit mengatakan bahwa ad ayang tidak beres dengan ini semua.


Ketika hendak menaiki mobil, Benoit menahan lengan sang tuan dan memberanikan diri bertanya. " Apa Anda tidak merasa curiga tuan? Maksud saya ini seperti di sengaja. Sepertinya mereka sengaja mempermudah."


" Ooh maksudmu, aku bisa menemukan lokasi Raka Pittore ini adalah hal yang mustahil. Jadi mereka sengaja menunjukkan diri begitu. Sialan, brengsek kamu Benoit, bisa-bisa nya kamu meremehkan kemampuanku."


O'Connell sungguh kesal dengan ucapan Benoit. Ia menepis tangan Benoit lalu masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya. Ia meninggalkan Benoit berdiri mematung. Pria itu kemudian menaiki mobil yang ada di belakang mobil O'Connell sambil membuang nafasnya kasar. Ia tahu bagaimana sikap sang tuan, jika sudah menginginkan sesuatu maka harus mendapatkannya.


" Apa tuan marah?" tanya Rekan Benoit.


" Ya begitulah, kau tahu sendiri. Dia begitu terobsesi dengan Raka Pittore. Aku hanya khawatir ini adalah sebuah jebakan. Tapi dia benar-benar tidak mau tahu dan mengacuhkan penilaianku."


" Pimpinan selalu benar. Bukankah seperti itu hukum mutlaknya."


Benoit mengangguk. Apa yang dikatakan oleh rekannya jelas sangat benar. Bawahan seperti mereka hanya bisa memenuhi perintah. Bahkan jika salah dan yang salah sang atasan lalu mereka disalahkan pun harus tetap menerima.


" Baiklah, mari kita ikuti Tuan kita itu aku berharap semua prediksi ku salah. Jika benar, maka kita kan fight dengan berat. Aku yakin jika prediksiku benar pihak Pittore sudah mempersiapkan sesuatu tang besar dan entah kita bisa melawannya atau tidak."


Benoit sungguh merasa begitu was-was. Selama ini bermain feeling selalu saja benar. Kali ini sia sungguh berharap feeling nya salah. Ada rona kecemasan di wajah Benoit. Sekeras apapun O'Connell, pria itu adalah orang yang berjasa dalam hidupnya. Ia tidak ingin pencarian Pittore ini menghancurkan semua yang sudah O'Connell bangun selama ini.


TBC