Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 91. Menemukan Yang Siap


Di rumah miliknya Elisa sore itu juga menghubungi Hasna. Ia meminta tolong kepada Hasna untuk membantunya mempersiapkan acara lamaran. Paling tidak beberapa seserahan harus dibawa besok. Dia tidak mungkin ke rumah calon menantunya tanpa membawa apapun. Mengingat Hasna sudah pernah menikahkan Yasa maka dari itu Elisa yakin bahwa kakak sepupunya itu bisa membantu.


" Sekarang juga El?"


" Iya mbak, soalnya Zion meminta besok ke sana juga."


Hasna mengerti, saat itu juga ia menuju ke rumah Elisa. Tapi Elisa mengatakan bahwa mereka ketemuan saja di toko yang menjual macam-macam barang yang biasa digunakan untuk seserahan. Hasna setuju, dengan membawa sang suami keduanya langsung menuju ke tempat dimana Elisa memberikan alamat.


Sekitar 1 jam perjalanan akhirnya Hasna dan Radi sampai juga ke tempat tersebut. Di sana sudah terlihat Elisa dan Arduino yang menunggu di depan toko.


" Loh kok nggak masuk?" tanya Hasna kepada adik sepupunya.


" Nunggu mbak aku tuh nggak tahu apa yang harus dibeli. Tahu sih tapi bingung aja."


Hana memutar bola matanya malas, ia tahu Elisa emang tidak suka ribet. Jadi lebih memilih memanggil Hasna untuk menentukan apa saja yang harus dibawa.


Selama di dalam toko tersebut, Elisa mengatakan bahwa gadis yang akan dilamar Zion itu adalah wanita berhijab. Hasna tentu langsung ingat terhadap menantunya. Saat biasa menikah kemarin Kaluna juga berhijab. Hasna kemudian menarik tangan Elisa dan menunjukkan beberapa barang yang pantas untuk dibawa.


" Wuiih Mbak Hasna keren langsung dapet."


" Halah, kamu aja yang males mikir."


Elisa hanya nyengir. Hasna menggelengkan kepalanya, sudah memiliki anak yang berusia 27 tahun, Elisa jika sedang bersama sang kakak sepupu tak ubahnya seperti anak kecil.


Di saat kedua wanita tersebut sedang sibuk memilih beberapa barang yang akan digunakan untuk seserahan, para pria tengah menunggu di sebuah kursi yang sudah disiapkan oleh pemilik toko.


" Gimana perkebunan sawit mu yang berada di pulau sebrang Ar?"


" Aman sih bang, ada Bruno yang ngurus. Tapi paling aku sebulan sekaki ke sana buat cek. Zion nih yang seharusnya mengelola. Tapi tampaknya dia masih betah menjadi karyawan dari menantumu."


Radi tergelak, ia tentu tahu bagaimana gigihnya sang keponakan yang ingin hidup mandiri. Tapi Radi kagum dengan apa yang dilakukan Zion. Sebagai anak tunggal, pemuda itu tidaklah manja. Memiliki seorang daddy yang memiliki perkebunan sawit besar dan perusahan pengolahan minyak sawit, tidak membuat Zion besar kepala ataupun manja. Dia termasuk pemuda yang mandiri dan mau bekerja keras.


" Sepertinya dia akan lama menjadi mandor di perkebunan Kaluna. Apalagi kalau sudah menikahi gadis itu."


" Kau benar bang. Tapi pasti El tidak akan membiarkannya. Cita-cita El membawa menantunya itu untuk hidup bersama. Tapi aku menekankan kepada El, apapun keputusan Zion biarlah menjadi apa yang akan dijalani. Terapi jika mereka nanti sudah hidup ber rumah tangga."


Radi setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ar. Seperti apa yang dialaminya saat ini. Ketika Yasa memutuskan untuk hidup terpisah dari nya dan istri, Radi pun menyetujui keinginan putranya. Bagi Radi di manapun anak dan menantunya tinggal tetaplah mereka adalah bagian dari keluarga Dwilaga. Toh mereka tetap masih bisa berkunjung.


πŸ€πŸ€πŸ€


Dikediaman Zalfa, kedua orang tua gadis itu tentu bingung atas apa yang diucapkan oleh Surya aka Zion. Bagaimana tidak, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba siang meminta untuk kedua orang tuanya datang dan melamar.


" Ini gimana Za, memangnya Zalfa udah siap?"


" InsyaaAllaah Za siap bah."


" Baiklah jika begitu, umi masih ada waktu buat belanja. Ayo kita menyambut keluarga Surya besok."


Umi dari Zalfa mengangguk. Zalfa pun tidak ingin tinggal diam, gadis itu langsung menuju dapur membuat kue yang biasa ia buat.


Di rumahnya Zion sedikit termenung. Ia merasa sedikit terkejut dnegan keberaniannya mengatakan kepada kedua orang tua Zalfa mengenai keinginannya meminang Zalfa. Ada rasa tidak percaya dia berhasil mengutarakan hal itu. Walaupun sebenarnya acara yang sesungguhnya adalah besok.


" Baiklah Zi, pikirkan hal baik. Yakinlah semuanya akan baik-baik saja. Bukankah jika memang sudah ada lebih baik disegerakan. Toh aku nggak muda-muda banget. Umurku sudah 27. Pas lah ya buat nikah."


Zion bermonolog di tengah-tengah kegiatannya menonton televisi. Hanya duduk saja di sana, satu scene pun tidak ada yang dia perhatikan karena pikirannya dipenuhi dnegan apa yang akan terjadi besok.


Drtzzzz


Ponsel miliknya bergetar. Zion mengerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.


" Klara, mau apa dia? Apa dia sudah pulang ke rumah atau masih di rumah sakit?"


Zion menimbang-nimbang, apakah dia akan menjawab panggilan tersebut atau tidak. Akhirnya Zion memutuskan untuk menjawab panggilan dari wanita yang pernah jadi kekasihnya tersebut.


" Hallo, Assalamualaikum Ra. Ada apa?"


" Waalaikumsalam Nak Surya ini papa nya Klara. Apakah Nak Surya bisa kemari. Klara selalu memanggil nama Nak Surya."


Zion terdiam, ia sejenak berpikir. Ini sudah malam, jika ia ke kota maka besok dia bisa terlambat ke rumah Zalfa. Lagi pula dia juga sudah tidak ada hubungan apapun dengan Klara.


Pemuda itu mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan sebelum mengatakan apa yang ingin dia katakan kepada papa dari Klara. Tentu ia harus hati-hati, dia tidak ingin perkataannya menyinggung siapapun.


" Sebelumnya saya mau minta maaf Om Rudi, bukannya saya tidak mau menemui Klara, tapi ini sudah larut. Dan, maaf sekali besok saya ada acara keluarga dimana saya tidak boleh terlambat."


" Apakah tidak bisa sebentar saja nak. Klara sangat membutuhkanmu."


" Maaf om, tidak bisa. Hubungan kami sudah selesai sejak lama. Dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, saya sampaikan kepada Om Rudi bahwa besok saya akan melamar seorang gadis yang sudah siap jadi pendamping hidup saya om. Maaf Om, Klara selama ini selalu menolak saat saya ingin serius, dan sekarang saya menemukan gadis yang mau menjalin hubungan serius dalam hal ini pernikahan."


Rudi di seberang sana hanya termangu dengan setiap apa yang dikatakan oleh Zion. Ia tentu bisa memakluminya. Rudi mengucapkan selamat dan kembali menutup panggilan ponselnya.


Zion menghela nafasnya lega. Apa yang terjadi antara dia dan Klara telah usai. Kini ada hal yang berada di depannya yang siap ia rajut menjadi cerita.


" Bismillah, semoga semua sesuai dengan apa yang kuinginkan. Meminang mu, menikahi mu dan menjalani hidup berdua dengan mencari ridho-Nya."


TBC