Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 75. Ada Sesuatu


" Mas, apakah yakin akan melakukan itu? Maksudku, apa mas benar-benar akan menampilkan ini ke publik. Nanti kalau ... ."


Kaluna dan Yasa tengah berada di kamar. Setelah memastikan bahwa sang putra tidur keduanya kini tengah duduk diatas ranjang dan bersandar di head board. Kaluna terlihat khawatir dengan pembicaraan mereka tadi sore bersama beberapa orang termasuk Zion dan Brisia.


Ada hal yang begitu dikhawatirkan, lagi-lagi mengenai kelangsungan karir mengajar sang suami. Yasa tentu paham apa yang dipikirkan istrinya. Ia kemudian menarik Kaluna ke pelukannya dan mengusap lembut lengan sang istri. Sesekali Yasa juga mencium pucuk kepala istrinya tersebut.


" Jangan terlalu mengkhawatirkan itu. Aku sudah ikhlas dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Yang penting keluarga kecil kita tidak diganggu lagi oleh pemberitaan yang beredar di luar sana."


Sepertinya Yasa benar-benar sudah bulat dalam membuat keputusan. Satu hal yang Kaluna tahu, jika sang suami sudah mengayakan sesuatu hal pantang baginya untuk menarik kembali. Kaluna hanya bisa pasrah. Dia memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Yasa.


" Ya udah mas, mari kita tidur."


" Ho ho ho tidak bisa, kamu sudah janji mau memberiku 3 sesi malam ini."


Kaluna membuka mulutnya lebar-lebar saat Yasa mengatakan hal tersebut. Ia pikir mereka akan tidur mengingat tadi seharian membereskan barang-barang. Dalam benak Kaluna pasti suaminya itu capek tapi ternyata tidak. Yasa masih ingat dengan pembicaraan mereka tadi pagi. Bahkan Yasa sudah mulai menciumi Kaluna di semua tempat yang bisa ia cium.


" Mas, apa tidak capek?" tanya Kaluna di sela-sela nafasnya yang mulai tertahan karena sentuhan Yasa.


" No, untuk yang begini mas masih kuat meskipun itu sampai besok pagi," jawab Yasa tanpa menghentikan kegiatannya menjammah tubuh sang istri. Apa yang ada di tubuh Kaluna menjadi candu baginya. Ia selalu tidak bisa menahan diri jika mereka berada di dalam kamar begini. Terlebih saat ini Kaluna memakai dress satin yang tipis dan memperlihatkan kulitnya yang mulus karena hanya bertali kecil di bagian lengannya.


" Mas ... ."


" Jangan manggil terus, aku sedang konsentrasi. Oh iya kalau mau bersuara lakukan saja kamar ini sudah aku buat kedap suara. Jadi Tara tidak akan mendengar suara seksii mu itu. Astaga ini mau ngadon malah diskusi. Dah lah aku mulai."


Malam itu kembali dihabiskan oleh pasangan pengantin baru dengan saling bertukar peluh. Memupuk rasa cinta di hati keduanya. Kaluna mulai sepenuhnya menerima Yasa. Apa yang ada dalam diri Yasa membuat Kaluna merasa nyaman. Ia merasa begitu dicintai. Dan, seperti yang dikatakan oleh Yasa, wanita itu benar-benar mengeluarkan suara yang biasanya ia tahan.


Bagi Yasa suara Kaluna saat berada di bawah kungkungannya begitu sangat seksii dan indah. Satu hal dimana membuat Yasa terus bersemangat.


" Mas, udah ya." Kali ini Kaluna benar-benar mengibarkan bendera putih. Matanya terpejam, tampaknya rasa lelah bercampur kantuk mulai menyerangnya.


" Baiklah, mari tidur. Aku rasa malam ini sudah cukup. Kita akan mulai lagi besok malam."


" Maaas."


Yasa selalu suka saat Kaluna memanggilnya begitu. Ada nada manja di sana tapi sungguh Yasa menyukainya. Ia memang ingin sang istri bermanja dan bergantung kepadanya.


" Tidurlah istriku, terimakasih. Aku harap setelah besok semuanya akan menjadi baik-baik saja. Tapi apapun hasilnya aku akan selalu melindungi mu dan putra kita."


Lain di kamar Yasa dan Kaluna lain pula di kamar Tara. Bocah itu menyelinap keluar kamar setelah terbangun beberapa menit yang lalu. Ia berjalan mengendap menuju studionya. Sungguh tidak memiliki rasa takut. Padahal untuk menuju studionya ia harus melewati ruang tamu dimana ruang tersebut tentunya saat ini gelap.


" Aihhh jam 1, aku tidur terlalu lama." Tara bergumam pelan sambil berjalan sedikit lebih cepat. Ia bahkan menenteng sendal rumahnya dan membiarkan kakinya telanjangg untuk menghindari suara langkah kaki yang bisa saja di dengar oleh ayah dan bundanya.


Cekleeek nggeeek


Tara membuka pintu studio plus galerinya dengan perlahan. Terdengar bunyi klik saat ia menyalakan saklar lampu ruangan tersebut. Ruangan yang awalnya gelap gulita itu kini menjadi terang benderang. Tara pun tersenyum saat melihat beberapa kanvasnya berjajar rapi di dudukan kayu. Setidaknya ada 5 kanvas dengan ukuran yang berbeda-beda di sana. Tentunya itu menyesuaikan pesanan masing-masing orang.


Kretak kretak


" Baiklah, Let's get to work!" Tara membunyikan jari-jarinya dan kemudian mengangkat tangannya itu ke udara. Targetnya malam ini atau bisa dibilang on the way dini hari ini adalah menyelesaikan satu pesanan. Ia mematikan paket data handphone dan tabletnya. Sungguh kali ini ia tidak ingin melirik 2 benda eletronik tersebut. Karena jika sudah membukanya maka mata dan tangan tidak akan mudah berhenti.


Sapuan demi sapuan kuas Tara jatuhkan di salah satu kuas. Tak lupa ia menggunakan appron agar cat tidak mengotori bajunya. Tara tampak fokus dengan lukisan yang saat ini ia kerjakan.


Lukisan kali ini adalah lukisan yang dipesan oleh orang timur tengah. Sebuah lukisan piramida mesir yang berada di tengah gurun dan juga terdapat beberapa musafir dengan unta-unta mereka. Satu hal yang masuk dalma pikiran Tara saat itu, mengapa mereka tidak mengabadikannya langsung saja.


" Tapi kalau mereka memfotonya nanti aku nggak dapat order. Weeeh cuan ku nggak nambah dong. Jadi good lah mereka pesen itu lukisan." Tara bergumam sendiri tapi tangannya tidak berhenti sekalipun menyapukan kuasnya di atas kanvas.


Sekitar 3 jam ia berkutat di depan kanvas yang berukuran 90x60 cm itu, akhir.ya ia bisa menyelesaikannya. Jam menunjukkan pukul 04.00 pagi. Sebentar lagi adzan subuh berkumandang dan dia harus bergegas untuk kembali ke kamar. Ia tidak boleh menundanya. Nanti jika ayah atau bundanya membangunkan untuk ibadah bersama dan tidak menemukan dirinya dikamar maka urusannya akan jadi runyam.


Tara meletakkan appron dan kuasnya ke tempat semula. Ia memundurkan langkahnya untuk melihat kembali hasil lukisannya. Semua terlihat sempurna. Tara juga sudah membubuhkan tanda tangannya di sana. Tapi, ada sesuatu yang lain yang ia rasakan saat melihat hasil tulisannya kembali.


" Entah mengapa setiap melihat hasil lukisanku ada sesuatu yang lain di sana. Tapi apa itu aku sendiri nggak tahu. Haish, jangan sampe nih cerita berubah jadi genre misteri lho ya thor." ( Tenang, kagak. Othor nggak bisa bikin genre misteri soalnya, othor belike.)


Tara kemudian menggelengkan kepalanya sejenak untuk mengusir pikiran-pikirannya yang berkelana. Ia kemudian berjalan ke arah pintu, mematikan saklar lampu dan keluar dari sana.


" Tapi sungguh, aku merasa ada sesuatu dalam lukisan tersebut." gumam Tara sambil berjalan sedikit lebih cepat untuk kembali ke kamar.


TBC