
Selama Keluarga Yasa berada di perkebunan, Zalfa sering diminta oleh Kaluna untuk datang ke vila. Apalagi Zalfa adalah seorang guru paud, Kaluna ingin tahu mengenai putranya. Meskipun Tara sudah menjelaskan siapa sebenarnya dirinya, tapi Kaluna tetap saja merasa khawatir.
Kekhawatiran Kaluna ialah, ia takut Tara tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. Dalam hal ini adalah teman sebaya. Tapi sebuah perkataan dari Zalfa membuat Kaluna begitu lega.
" Teteh tenang aja, Tara adalah anak yang cerdas. Dia bukan anti sosial kok. Tara nyatanya mudah menerima orang baru seperti saya. Dan, Tara adalah anak yang cerdas. Itu yang saya tangkap saat bersamanya."
Kaluna mengucapkan syukur. Selama ini tidak berteman dengan teman sebayanya membuat Kaluna sedikit risau. Wanita itu pun semakin mantab dengan apa yang saat ini terjadi kepada dirinya.
Alat tes kehamilan yang dibeli oleh Yasa dua hari yang lalu itu baru tadi pagi Kaluna gunakan. Padahal sang suami sudah memintanya untuk melakukannya segera. Akan tetapi Kaluna masih meragu. Pasalnya ia tidak merasakan tanda-tanda orang hamil. Bahkan seperti saat hamil Tara pun Kaluna tidak mengalami tanda tanda nya.
Tapi atas desakan sang suami akhirnya Kaluna mau melakukan hal tersebut. Sedikit deg-degan sebenarnya. Kaluna mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum melihat hasil alat tes yang sudah ia celupkan di air seni.
" Bismillaah ..." Kaluna membuka perlahan matanya. Mata wanita itu seketika berbinar namun detik berikutnya berubah menjadi berembun. Ia bahkan menutup mulutnya sendiri saking terkejutnya. Dua garis merah itu terlihat jelas di sana. Bisa dipastikan saat ini Kaluna kembali mengandung, mengandung adik Tara. Mengandung benih Yasa dari hubungan halal mereka.
Tok tok tok
" Sayang, kenapa lama sekali. bagaimana hasilnya?" Suara yasa terdengar lantang dari balik pintu kamar mandi.
Ceklek ... ngeeek
Kaluna membuka pintu kamar mandi lalu memperlihatkan testpack yang ia pegang. Yasa melihat dengan seksama. Mata Yasa pun berembun. Ia langsung memeluk sang istri.
" Alhamdulillah, alhamdulillah Ya Allah. Allah mengabulkan doaku lebih cepat dari yang ku duga. Terima kasih sayang, terimakasih. Aku berjanji akan selalu ada untuk mu dan anak kedua kita nanti. Pulang ke kota kita langsung ke rumah sakit. kita langsung menemui Dokter Lisa. Aku akan membuat janji dari sekarang."
Kaluna mengangguk, air matanya luruh di pelukan sang suami. Satu hal yang begitu membuatnya bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena kehamilan kali ini ada suami bersamanya, dan sedih jika mengingat bagaimana Tara waktu itu kurang ia perhatikan bahkan saat di masa kandungan.
Kembali pada saat ini, ketika Kaluna tengah berbicara dengan Zalfa. Kabar itu pun ia bagi kepada Zalfa. Mengenal Zalfa beberapa hari membuat Kaluna berkesimpulan bahwa Zalfa adalah gadis yang baik dan menyenangkan. Ucapan selamat disampaikan oleh Zalfa untuk Kaluna. Gadis itu turut senang mengetahui Kaluna hamil.
Akan tetapi rupanya Kaluna dan Yasa belum memberitahu tara. Sepertinya keduanya tengah khawatir. Mereka bertanya tanya apakah Tara kiranya sudah siap untuk memiliki adik. Yasa dan Kaluna akan menyampaikan kehamilan Kaluna kepada Tara nanti saat mereka pergi ke dokter.
Di sisi lain Zion sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Zalfa. hal tersebut tidak luput dari pengamatan Yasa. Yasa tentu tahu bagaimana tatapan seorang pria yang mengagumi wanita yang disukai.
" Ekheem, belum halal. Jangan berlebih dipandangi. Jatuhnya zina mata," celetuk Yasa kepada sang adik sepupu.
" Astagfirullah. Issh Kak Yas, apa an sih," kelit Zion sembari memalingkan pandangannya ke arah lain.
" Buruan lah Zi, keburu diambil orang. Bilang gih sama sama Uncle Ar dan Aunty El, minta segera melamar. Ntar aku hubungin Uncle Charles buat kirimin set perhiasan buat lamaran. Mumpung aku masih di sini."
Mata Zion membulat sempurna. Ia memang berencana membawa kedua orang tuanya menemui umi dan abah nya Zalfa tapi tidak secepat yang Yasa katakan ini. Zion menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kata kata kakak sepupunya yang mengatakan bahwa nanti keburu diambil orang membuat Zion sedikit gusar.
" Haish, kelamaan mikir," celetuk Yasa. Pria yang on the way jadi bapak dua anak itu langsung mengambil ponselnya dari kantong celana. Mencari nomor ponsel yang akan ia hubungi lalu menekan tombol hijau di sana.
" Assalamualaikum Yas, ada apa?"
Mata Zion membelalak saat ia dengar suara siapa yang berada di sebrang. Zion tentu tidak menyangka jika Yasa benar benar bergerak begitu cepat.
" Waalaikumsalam salam uncle. Ini, Zi, mau ngelamar gadis desa cantik nan sholihah. Tapi nggak berani bilang ke uncle."
" Dasar bocah kampret, man bocah itu. Uncle mau bicara langsung."
Yasa terkekeh geli melihat raut wajah pias Zion. Bukan tanpa alasan, jika tidak begitu entah sampai kapan Zion akan berencana tapi tak kunjung beraksi. Yasa kemudian memberikan ponselnya kepada Zion, membiarkan ayah dan anak itu saling berbicara. Zion sedikit berjalan menjauh dari tempatnya tadi berbincang dengan sang kakak sepupu.
Setelah beberapa saat Zion kembali dan memberikan ponsel Yasa kepada pemiliknya. Kedua alis Yasa bergerak ke atas sebagai kode tentang bagaimana pembicaraan antara anak dan ayah tersebut.
" Besok daddy sama mommy mau ke sini katanya. Mau ngajak Paman Radi dan Bibi Hasna."
" Good, gitu kan oke jadi sat set langsung halalin. Nggak pake lama."
Zian membuang nafasnya kasar, PR nya yang baru adalah nanti saat mengantarkan Zalfa pulang dia harus menemui kedua orang tua Zalfa. Iya harus mengatakan alasan kedatangan kedua orang tuanya besok.
Kesannya seperti terburu-buru sih tapi sebuah niat baik, sebaiknya disegerakan. Apalagi beberapa hari ini Zen sering ke rumah Zalfa. Pemuda itu tidak ingin ada omongan buruk dari warga sekitar terhadap keluarga Zalfa terutama kepada gadis itu.
Hari semakin sore Zian pun mengajak Zalfa untuk kembali pulang. Sepanjang perjalanan Zion Tengah berpikir dan merangkai kata yang tepat dan pas untuk berbicara kepada Umi dan Abah gadis tersebut.
" Kang Surya kenapa lagi mikirin sesuatu?" tanya Zalfa saat Zion sudah memarkirkan mobil tepat di depan rumah Zalfa.
" Ooh , tidak ada. Hanya aku ingin bertemu dengan umi dan abi."
Kening Zalfa berkerut saat Zian mengatakan hal itu. Tidak seperti biasanya dengan nada bercanda kini Zion tampak begitu serius. Zalfa pun mengangguk, Iya mempersilahkan Zion untuk masuk ke rumah setelah itu Zalfa memanggil kedua orang tuanya.
" Eh nak Surya kata Za ada yang mau dibicarakan dengan kami?"
" Begini umi, abah, saya menemui umi dan abah karena besok kedua orang tua saya akan kemari untuk meminang Zalfa."
TBC