
Hasna dan Radi bergegas menuju rumah calon besannya saat tadi menerima panggilan dari Tara. Cucunya itu mengatakan kalau sang putra jatuh pingsan dan belum juga sadar. Dengan sedikit rasa panik bercampur khawatir Radi mengemudikan mobilnya.
Hasna berkali-kali mengingatkan Radi untuk tenang dalam mengemudi. Meskipun sebenarnya ia juga merasa begitu khawatir.
Setelah sekitar beberapa saat berkendara mobil Radi pun sampai di pekarangan rumah Raffan. Keduanya langsung turun. Tapi seketika mereka saling pandang saat melihat gadis yang mereka kenal berbicara melalui telepon sambil menyebut nama putra mereka.
Meskipun tidak mengenal secara dekat tapi Radi dan Hasna tahu siapa Brisia. Putri dari sahabat saudara ipar mereka Arduino. Brisia beberapa kali dibawa Jason saat Arduino membuat acara. Maka dari itu mereka mengenal satu sama lain.
" Mau dibawa kemana Yasa, Bri."
" Om, tante."
Brisia tentu terkejut melihat kedatangan Radi dan Hasna yang tidak ia sadari karena saking fokusnya dengan pembicaraannya di telpon dengan sang ayah. Brisia lalu segera menutup panggilannya. Gadis itu tampaknya harus menjelaskan apa yang terjadi.
" Pak mantan dosen, maksud Bri, Pak Yasa sebaiknya dibawa ke rumah sakit daddy untuk diperiksa lebih lanjut. Om dan tante pasti sudah dengar cerita dari Pak Yasa kan mengapa dia bisa lupa dengan kejadian 6 tahun silam?"
Hasna dan Radi mencoba mengingatnya. Keduanya mengangguk paham. Ini memang seharusnya dibawa ke tempat Jason agar bisa dipastikan kondisi Yasa. Obat penghilang ingatan dan penawarannya memang benar sudah diberikan tapi apakah efeknya sudah sepenuhnya hilang atau belum tentu tidak ada yang tahu.
" Baiklah mari malam ini juga membawa Yasa ke sana. Tapi lebih baik kita tidak usah memberitahu Kaluna dan kedua orang tuanya. Aku takut mereka malah menjadi khawatir."
Brisia mengangguk paham. Ketiganya kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka sama-sama menarik nafas lega melihat Yasa yang sudah bangun dan duduk di sofa. Akan tetapi Radi tetap akan membawa Yasa ke rumah sakit milik Jason.
" Apa yang kamu rasakan saat ini Yas."
" Aku sudah baik-baik saja yah. Tadi cuma seperti pusing saja, mungkin benar kata dokter aku kelelahan."
Radi langsung tersenyum, seperti yang ia katakan tadi dia tidak ingin keluarga Kaluna khawatir. Setelah berbicara singkat Radi dan Hasna membawa Yasa pulang. Ia akan meninggalkan mobil Yasa di rumah Kaluna. Bagaimanapun Yasa tidak boleh mengemudi sendiri.
Tara bisa melihat ada sesuatu yang janggal di wajah Radi dan Brisia. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi Tara tidak akan bertanya, bocah itu yakin pasti mereka memiliki alasan tersendiri untuk menyimpan hal tersebut rapat.
" Yah, bu, kita mau kemana. Ini bukan jalan ke arah rumah kita." Yasa sedikit bingung saat sudah berada di mobil ayahnya, tapi sepertinya ayahnya tidak akan membawanya kembali pulang ke rumah.
" Kita akan ke rumah sakit Mm Jason teman Uncle Ar dan daddy dari Brisia. Kata Brisia mungkin apa yang terjadi padamu efek obat penghilang ingatan yang pernah kamu minum dulu."
" Eeh tadi bukannya kata dokter aku cuma kecapekan."
Yasa seperti akan protes. Pekerjaannya sungguh banyak yang harus segera diselesaikan tapi tampaknya ia hanya bisa pasrah. Sang ayah menjelaskan bahwa dirinya harus diperiksa secara menyeluruh oleh dokter Jason.
Dua jam perjalanan, mobil Brisia diikuti oleh mobilnya Radi sampai juga di halaman rumah sakit. Sambutan hangat diberikan oleh Jason kepada keluarga tersebut. Ia langsung meminta Yasa untuk masuk ke ruang perawatan. Jason tidak akan menunggu. Ia akan melakukan pemeriksaan sekarang juga.
Radi dan Hasna menunggu di luar. Mereka terlihat khawatir, jangan sampai ada sesuatu yang membahayakan dari diri Yasa.
" Bagaimana Dokter Jason, apakah Yasa baik-baik saja?"
" Syukurlah tidak ada yang mengkhawatirkan. Tapi aku akan memberi vitamin khusus untuk otak Yasa, bagaimanapun otaknya sempat terganggu gara-gara penghilang ingatan itu."
Radi mengangguk mengerti, ia dan sang istri bernafas lega bahwa tidak ada hal yang serius terjadi dengan Yasa.
πππ
Didalam kamarnya Tara langsung menghubungi sang opa menayakan keadaan ayahnya. Bocah itu tampak menarik nafasnya penuh dengan kelegaan saat opanya memberikan kabar bahwa Yasa baik-baik saja.
Tring
Sebuah suara notifikasi pesan surel berbunyi darti tabletnya. Nama pengguna yang sungguh ia tunggu pesannya. Mr. Sun, pesan tersebut berasal dari hacker kenamaan yang beberapa bulan ini menjadi temannya di dunia maya.
Ia menghubungi Mr. Sun untuk menanyakan identitas dari klien yang memesan lukisannya. Tara tidak ingin berurusan dengan klien yang bermasalah. Seperti beberapa hari lalu ada seorang klien yang memintanya untuk menduplikasi karya lukis yang begitu terkenal. Tara pun meminta Mr. Sun untuk menyelidiki siapa orang tersebut.
" Aku sudah menemukan apa yang kamu inginkan. Dia seorang yang kaya raya berasal dari salah satu negara adidaya. Sejujurnya dia termasuk mafia karya seni dalam artian dia memang suka memperjualbelikan karya seni ASPAL yakni ASLI tapi PALSU. Bayaran yang diberikan selalu mahal."
Tara membaca dengan seksama setiap apa yang tertulis dalam pesan tersebut. Hanson O' Connel, itulah nama orang yang memesan lukisan kepada Tara. Terang saja Tara tidak akan menyanggupi permintaan dari O' Connel tersebut.
Tara lantas membalas pesan O' Connel yang sudah ia abaikan beberapa hari yang lalu. Tara dengan tegas menolak permintaan pria itu mau berapapun bayarannya. tapi sepertinya orang yang bersangkutan tetap meminta Tara sebagi pelukisnya.
" Aku ingin kau tetap melukisnya. Jika kayu tidak mau melakukannya maka aku akan mencari tahu siapa kau sebenarnya dan aku jamin keluarga mu tidak akan hidup dengan tenang."
Tara bergetar saat menerima balasan pesannya. Meskipun anak itu memiliki otak yang cerdas dia tetaplah anak kecil. tara bahkan sampai melempar tabletnya ke atas tempat tidur. Bocah itu berjalan kesana dan kemari.
" Apa ini, dia mengancam ku. Tidak, aku harus melakukan sesuatu. Mr. Sun lagi."
Tara kembali mengambil tabletnya dan menghubungi Mr. Sun. Tara menceritakan apa yang baru saja ia alami bahwa dirinya diancam oleh O' Connel karena menolak permintaan pria itu.
" Tidak usah khawatir. Jaringan ini sudah aku lindungi, pun dengan surel mu, semua aman. Jika ada yang menyusupi sistem mu maka akan langsung akan ketahuan oleh ku."
" Terimakasih Mr. Sun. Aku sungguh berhutang banyak kepadamu."
Meskipun demikian tampaknya Tara tidak bisa langsung tenang, ia harus mencari cara agar keluarga nya tetap aman. Sebentar lagi ayah dan bunda nya akan menikah. Dia tidak ingin ada yang mengganggu pernikahan kedua orang tuanya.
" Kemana kiranya aku harus mencari orang untuk melindungi seluruh anggota keluarga ku?"
TBC