Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 41. Kerusakan Terjadi


Tarjo mengumpulkan orangnya dan mulai memberi perintah atas instruksi dari juragan Tatang. Mereka langsung paham dan mulai berjalan menuju lokasi yang sudah diberitahukan.


Tarjo menyeringai, malam ini ia yakin semuanya akan habis tak bersisa. Dan Tarjo berani bertaruh bahwa besok pagi akan terjadi kehebohan yang luar biasa. Tarjo sangat menanti saat itu.


Entah ala yang membuat pria berusia 35 tahun itu ikut membenci Raffan. Jika Tatang jelas karena baginya Raffan adalah saingannya di tempat ini. Tapi Tarjo? Tidak ada yang tahu. Tapi yang jelas setiap apa yang Tatang perintahkan untuk membuat Raffan sengsara arau kesusahan maka Tarjo dengan senang hati melakukannya.


Iri kah? Dengki kah? Atau hanya puas melihat seseorang menderita? Yang jelas saat ini Tarjo sedang merasa sangat bahagia membayangkan wajah Raffan yang pilu menyaksikan perkebunannya hancur.


Padahal Tatang meminta Tarjo untuk eksekusi besok tapi pria itu malah melakukannya malam ini. Ia sangat puas saat melihat orang-orangnya mulai merusak kebun sayur milik Raffan. Mereka mencangkul sembarangan, memukuli pot-pot stroberi dan mengacak-acak semua yang ada di situ.


Sekitar satu jam mereka berjibaku membuat kerusakan di dinginnya malam tersebut. Dirasa cukup Tarjo menghentikan anak buahnya dan segera kembali. Tentunya dia tidak ingin tertangkap basah sudah melakukan perusakan.


Di rumahnya di ibu kota, Kaluna merasa la tidak nyaman dengan hatinya. Entah mengapa perasaannya sungguh tidak enak. Pikirannya tertuju ke perkebunan. Ia melirik ke arah jam di dinding kamarnya. Masih sekitar pukul 23.00.


" Apa aku harus ke sana? Tapi ini sudah malam."


Kaluna benar-benar gelisah. Ia yang tadi masih berpikir sambil tiduran kini sudah berdiri dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Kaluna Tengah menimbang harus melakukan apa.


Ia pun menyambar jilbab instannya laku bergegas keluar kamar. Kaluna berjalan menuju kamar kedua orang tuanya dan mengetuk pintu kamar tersebut pelan.


Tok tok tok, masih belum ada sahutan dari dalam. Kaluna pun kembali mengetuk pintu tersebut dan kali ini sedikit lebih kuat.


" Kal, ada apa hmm."


" Ma, bisa tolong bangunkan papa."


Vanka sedikit heran atas permintaan putrinya tapi ia tetapi menuruti keinginan Kaluna. Vanka kembali berjalan masuk ke kamar dan membangunkan sang suami. Raffan pun menatap penuh keheranan terhadap Kaluna.


" Ada apa nak."


" Pa, ayo kita ke perkebunan sekarang."


Raffan dan Vanka sungguh terkejut mendengar ajakan Kaluna. Keduanya saling pandang. Ada gerangan apa tiba-tiba Kaluna mengajak Raffan larut malam begini ke perkebunan.


" Tapi ini udah sangat malam Kal. Bahaya malam-malam begini berkendara."


Kauna menunduk lesu. Apa yang dikatakan papanya sepenuhnya benar. Vanka membawa putrinya itu untuk duduk di ruang makan lalu mengambilkan air putih hangat. Vanka langsung meminta Kalun untuk meminumnya.


" Katakan, sebenarnya ada apa?"


" Entah pa. Mungki orang akan mengatakan kalau aku lebay. Tapi sungguh perasaanku nggak enak pa. Kayak ada sesuatu di perkebunan."


Raffan menghembuskan nafasnya pelan. Sebenarnya apa yang dirasakan oleh Kaluna memnag benar. Sayuran yang tidak semua laku terjual merupakan salah satu hal yang mungkin membuat Kaluna merasa itu.


Raffan berdiri lalu mengambil ponselnya. Ia mengatakan kepada Kaluna akan menghubungi Surya untuk memastikan keadaan di perkebunan. Bagaimanapun perkebunan adalah satu-satunya mata pencaharian keluarga mereka saat ini.


" Maaf pak. Tapi semuanya tidak baik. Maafkan saya pak, saya terlambat. Kebun kita dirusak dan bisa dipastikan lusa kita tidak bisa mengirim jatah sayur ke ibu kota. "


Surya sungguh merasa bersalah. Seharusnya dia mengikuti filing nya dari tadi pagi. Tapi penyesalan sellau terjadi belakangan.


Raffan tentu terkejut tapi ya sudah mau bagaimana. Semua sudah terjadi. Ia yakin pasti akan ada pelajaran dibalik setiap peristiwa.


" Sudah, tidak perlu minta maaf. Ini semua bukan salahmu. Tolong hubungi pihak pasar bahwa kita tidak bisa menyetok sayuran. Katakan saja bahwa kita gagal panen atau sayurannya rusak."


Setelah menutup panggilannya Raffan kembali ke ruang makan. Tatapan mata sang putri sudah menagih jawaban atas apa yang ia lakukan. Raffan kemudian menceritakan apa yang terjadi.


" Astagfirullaah. Tuh kan pa. Benar feeling Kaluna. Terus kita harus bagaimana. Kita harus cari tahu, pasti itu disengaja."


" Kita nggak bisa nuduh siapapun Kal. Tidka ada bukti atau saksi. Ya sudah, mungkin ini teguran buat kita agar lebih sabar lagi."


Jika papa nya sudah bicara seperti itu maka ia pun tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Vanka dan Raffan meminta Klaun untuk kembali ke kamar. Rupanya apa yang mereka bicarakan di dengar oleh Tara. Kekacauan menjelang pernikahan ayah dna bunda nya entah mengapa terjadi berturut turut. Seuntai doa bocah itu panjatkan.


" Ya Allaah, Tara mohon semoga pernikahan ayah dan bunda lancar sampai hari H nanti. Dan tidak ada gangguan yang berarti. Tara ikhlas deh setahun nggak dapat orderan asalkan semuanya bisa lancar. Aamiin."


Di perkebunan Surya aka Zion mengeram marah. Ia yakin pelakunya adalah anak buah Tatang. Siapa lagi kalau bukan orang itu dan antek-anteknya. Orang-orang kiriman sang daddy itu baru datang sekitar satu jam kejadian tersebut.


" Maaf tuan muda kami terlambat."


" Aishhh bukan salah kalian. Kan perjalanan dari kota kesini juga bukan 30 menit. Ini sebenarnya salah ku. Andai aku meminta kalian pada daddy lebih cepat, kejadian ini tidak akan terulang. Sekarang bantu aku bersihkan semua ini."


Orang kiriman Arduino yang berjumlah 7 orang itu seketika banting stir jadi petani dadakan malam ini. Para bodyguard bertubuh tinggi besar itu langsung melaksanakan perintah dari putra sang king. Biasanya berjibaku melawan irang kini mereka harus berurusan dengan tanah dan sayur-sayuran yang berantakan dibawah dinginnya malam dan langit yang gelap.


" Buset deh mending gue ngehajar orang."


" Lo nggak bakal bisa milih itu. Pilihan lo hanya patuh sama tuan muda dan aman damai sentosa lalu pagi-pagi besok bisa ngopi, atau lo nolak dan lo bakal kena tinju bos besar. Gaji melayang bonus bablas di pecat pula."


Seketika salah satu body guard itu merinding mendengar kicauan panjang temannya. Seketika bayangan apa yang dikatakan temannya itu menari di pelupuk matanya. Ia pun segera bergegas melakukan apa yang diperintahkan oleh si tuan muda.


Surya berdecak kesal. Ini tidak akan selesai meskipun dikerjakan sampai pagi juga. Ia menyadari malam semakin larut dna dingin. Diatas jam 01.00 suhu semakin turun. Ia lalu menghentikan pekerjaan semua anak buahnya dan membuat mereka untuk ikut pulang bersamanya.


" Sudah cukup kita lanjut besok. Sekarang kita pulang dulu saja. Udara sudah semakin dingin. Meskipun otot tubuh kalian besar kalian tidka mungkin kebal dingin bukan? Jadi mari kita istirahat dulu malam ini."


Semuanya mengangguk dan mengikuti Surya untuk pulang ke rumah tuan mudanya itu. Surya berjalan kembali ke rumah dnegan terus berpikir bagaimana cara memancing Tatang untuk mengakui apa yang sudah dilakukan.


" Apa aku harus pakai cara daddy?"


TBC