Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 59. Pingsan


" Pakeeeet!!!"


Kang Kurir partner Tara mengetuk sebuah rumah besar bergaya eropa. Di dominasi warna putih dengan atap genteng dan jendela kaca yang tinggi. halaman rumah lumayan luas dan terdapat beberapa pohon tinggi dan pendek juga. Lantai marmer menjadi ciri khas nya.


Jika Kang Kurir tidak salah, bangunan yang ia lihat saat ini masih mempertahankan bentuk aslinya. Mungkin saja ini merupakan bangunan tempo dulu dimasa kota J masih bernama Batavia.


" Apakah itu paket untuk saya?"


" Iya Nyoya, ini adalah paket untuk Anda."


Seorang wanita yang mungkin berusia sekitar 80 tahunan itu terlihat masi sehat. Meskipun rambutnya sudah sepenuhnya memutih tapi dilihat dari cara jalannya wanita itu masih begitu sehat. Wajah cantiknya tidak luntur oleh usia. Wajah wanita itu benar-benar bule, begitulah orang pribumi menyebut orang asing yang datang ke negeri ini.


" Terimakasih kang, ini untuk Kang kurir." Nyonya bermata coklat terang itu memberikan sejumlah uang kepada Kang Kurir dan langsung ditolak oleh kurir Tara. Ia mengatakan bahwa sudah mendapatkan bayaran yang cukup untuk pengiriman paketnya kali ini.


" Aah begitu. Baiklah. Terima kasih ya kang."


" Baik nyonya, sama-sama. Ini sudah jadi tugas saya."


Melihat nyonya bule itu kesusahan membawa paketnya masuk ke dalam rumah, Kang Kurir berinisiatif untuk menawarkan batuan. Nyonya bule sungguh senang. Sekali lagi ia mengucapkan terimakasih kepada kurir baik hati tersebut.


" Haish, andaikan aku punya cucu perempuan sudah kuangkat jadi cucu menantu itu Kang Kurir."


Sesaat kemudian setelah kurir tersebut pergi nyonya bermata coklat terang itu langsung membuka paket yang sungguh sudah ia nantikan. Satu persatu ia membuka pembungkus paket yang sangat ia tahu bahwa isinya adalah sebuah lukisan.


Matanya berbinar saat melihatnya secara langsung, air matanya tak terasa luruh. Ia mengusap pelan lukisan tersebut.


" Cecilia Van Leeuwen, sungguh aku, aku sangat merindukanmu saudari kembarku."


Tes, air mata Carolina menetes mengingat bagaimana sang saudara kembar memilih pergi dari rumah karena cinta sejatinya terhadap orang pribumi. Sang ayah Jurrien Van Leeuwen sangat tidak setuju saat Cecilia membina hubungan dengan Harsono Wiryo. Saat itu Cecilia sudah dijodohkan oleh seorang pilihan Jurrien. Tapi cintanya terhadap Harsono membuat Cecilia memilih meninggalkan keluarganya.


" Cel, papi udah nggak ada Cel. Apa kamu masih hidup ataukah kamu sudah ikut papi meninggalkanmu sendiri."


Carolina tergugu sambil terus menatap hasil lukisan itu. Namun detik selanjutnya ia terkagum dengan sang pelukis karena bisa memvisualisasikan sesuai apa yang dia inginkan. Padahal Carolina hanya memberikan foto hitam putih tapi Raka Pittore mampu membuatnya berwarna bahkan vibes nya sama persis dengan keadaan nyata yang Carolina saksikan puluhan tahun silam.


Di villa keluarga Danendra tepatnya di studio lukis milik Tara, bocah itu sungguh terkejut saat mendengar ucapan dari wanita tua di sebrang sana.


Alat penyadap yang diberikan oleh Mr. Sun benar-benar berfungsi dengan baik. Bahkan suara percakapan antara wanita tua itu dengan kurir paket pun jelas terdengar. Tapi sebuah hal yang tidak Tara sangka wanita di seberang sana itu, orang yang memesan lukisannya adalah seorang wanita. Dimana wanita tersebut adalah saudara dari nenek buyutnya.


Tapi dalam surel yang masuk dan memesan lukisannya adalah nama seorang pria. Jurrien Van Leeuwen, nama itulah yang menghubungi Tara saat memesan lukisan.


" Mungkin dia menggunakan nama suami. Ah iya tadi dia bilang papi, jadi bisa saja Jurrien Van Leeuwen adalah ayahnya nenek buyut. Haish, kenapa masalahnya jadi numpuk-numpuk gini sih. Perkebunan, berita tentang ayah dan bunda ditambah keluarga nenek buyut."


Tara mengusap wajahnya kasar. Sepertinya banyak sekali yang harus ia pikirkan kali ini. Tara merasa perutnya sedikit lapar. Padahal belum lama bocah itu makan siang. Tara berjalan menuju keluar dari studio lukisnya menuju ke dapur. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba tubuh kecil ambruk.


" Astagfirullaah, Tara!!!"


Vanka yang baru saja keluar kamar berteriak histeris melihat cucunya jatuh ke lantai. Vanka seketika itu juga berlari. Dia yang awalnya memegang botol air mineral langsung ia lemparkan begitu saja.


" Tara nak bangun nak, mas! Kaluna!"


Raffan dan Kaluna yang memang masih berada di kamar langsung berlari menuju sumber suara. Ayah dan anak itu sungguh terkejut. Terlebih Kaluna, wanita itu bahkan sudah mengangkat gamisnya dan berlari mendekati sang putra.


" Ma, Tara kenapa ma?"


" Tidak tahu Kal. Tadi pas mama keluar kamar Tara sudah terjatuh di lantai."


Kaluna jelas panik, saat makan siang tadi tidak ada tanda-tanda Tara sakit atau lemas. Tara terlihat sehat dan baik-baik saja. Kaluna mengambil Tara dari pangkuan Vanka dan membawanya ke gendongannya. Raffan sudah berlari terlebih dulu untuk menyiapkan mobil.


Kaluna dan Vanka langsung masuk ke dalam mobil. Mbok Yem dari arah dapur berlari keluar. Vanka menyampaikan pesan kepada Mbok Yem bahwa mereka akan menuju ke rumah sakit terdekat. Semuanya sungguh takut jika terjadi sesuatu kepada Tara. Mereka tentu tidak mau Tara kembali sakit seperti dulu.


" Nak bangun sayang. Jangan bikin bunda takut nak."


Kaluna tak henti-hentinya meminta Tara untuk bangun. Wanita itu benar-benar takut sekarang. Ia samoai lupa bahwa rumah sakit milik ayah Brisia berada di sekitar daerah perkebunan Kaluna berada. Beruntung Vanka ingat dan menghubungi Brisia. Menanyakan Brisia ada di rumah sakit atau di tempat kerjanya.


" Bri ada di rumah sakit daddy tante ada apa?"


" Tara pingsan Bri, kami akan membawa Tara ke sana."


" Oh Ya Tuhan. Baiklah Tante, bilang ke Om Raffan untuk langsung kemari. Bri akan minta daddy untuk bersiap." Vanka menghembuskan nafasnya lega. Ia sungguh beruntung, keluarganya di kelilingi oleh orang-orang yang baik.


Vanka langsung menginstruksi sang suami untuk menjalankan mobilnya ke rumah sakit milik dr. Jason. Saat ini rumah sakit milik ayah Brisia adalah tempat yang paling mudah dijangkau.


" Kal, jangan menangis terus nak. Kita berdoa ya semoga Tara tidka kenapa-napa."


" Iya ma, tapi Tara belum bangun juga."


Vanka mengusap kepala sang putri yang berbalut jilbab lebar. Ia bisa melihat betapa sedihnya Kaluna saat ini. Sedangkan Raffan, pria paruh baya itu tidak berkata apapun. Fokusnya saat ini adalah mengemudi dengan cepat dan fokus agar bisa sampai rumah sakit secepatnya.


20 menit berlalu akhirnya Raffan berhasil sampai di rumah sakit. Beruntung jalanan sepi jadi Raffan bisa melajukan mobilnya dengan lebih cepat diatas rata-rata ia biasanya mengemudi.


Tampak di depan pintu IGD berdiri Brisia dan ayahnya yang sudah siap dengan brankar dan beberapa petugas medis lainnya.


Kaluna langsung keluar dari mobil sambil menggendong Tara. Brisia juga terlihat khawatir saat Tara dibaringkan di brankar.


" Kenapa ini Kal?"


" Nggak tahu om. Tadi Tara tiba-tiba aja pingsan."


Jasin mengangguk dan langsung membawa Tara menuju ruang penanganan. Kaluna hampir terjatuh namun Brisia dengan cepat menangkap tubuh sang sahabat tersebut.


" Bri, Tara Bri."


" Berdoa kepada Tuhan Kal. Kita harus yakin Tara baik-baik saja."


TBC