Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 84. Mulai Curiga


Vanka memilih menemani Carolina di rumah sakit, di dekat kembaran sang ibu membuat ia merasa seperti ibu nya masih ada di sana. Sesekali Vanka mengeluarkan air matanya, ia terisak setiap mengingat wajah ibu nya yang telah tiada.


" Maafkan Vanka bu. Sungguh Vanka minta maaf. Semoga ibu tenang."


Raffan mengusap punggung istrinya dengan lembut. Ia tahu bagaimana Vanka berusaha berubah menjadi yang lebih baik lagi. Pria itu tahu bagiamana kesungguhan hati Vanka dalam bertaubat dari kesalahan-kesalahan masa lalunya. ( ekhem, yang penasaran sama kisah Vanka di nopel sebelah ye 🤭).


Vanka memegang erat tangan Carolina. Ia berharap Carolina masih diberi umur panjang sehingga dia bisa merawat saudara kembar sang ibu. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan. Walaupun banyak tanya dalam benak Vanka, mengapa sang ibu tidak pernah sekalipun bercerita mengenai keluarga dan saudaranya.


Namun, Vanka memilih bungkam. Pasti ada sesuatu yang tidak mengenakkan hati. Ia tidak mau membuka sesuatu yang mungkin adalah luka lama tersembunyi.


Di kediaman Yasa, Kaluna berkali-kali melihat jam yang berada di dinding. Sudah pukul 23.00 tapi sang suami belum juga pulang. Ia sejenak melihat ke kamar putranya, Tara tampak tertidur pulas. Sepertinya bocah itu benar-benar lelah. Sedikit merasa penasaran dengan anaknya, Kaluna akhirnya memilih masuk dan mencari ponsel serta tablet milik Tara. Ia pun mengambilnya dan mencoba untuk membuka kedua benda elektronik tersebut.


" Laah di password. Apa yang anak itu simpan di dalam kedua benda ini."


Kaluna jelas terkejut, sejenak merasa sesal karena membiarkan anak seusia Tara bermain gawai. Kaluna sungguh merasa buruk sebagai ibu. Ia sedikit lalai dnegan hal tersebut. Meskipun selama ini yang dilihat Tara tidak pernah bermain game, tapi mengetahui dua benda pipih beda ukuran itu dikunci jelas membuat Kaluna khawatir.


" Aku harus bertanya padanya besok." Kaluna kembali meletakkan dua gawai milik Tara ke tempat semula. Ia memikirkan hal lain saat ini yakni studio plus galeri Tara. Selama ini jika berada di vila bocah itu tidak mengizinkan Mbok Yem dan Mang Didi untuk memasukinya. Kini Kaluna menjadi penasaran.


Ia pun berjalan pelan menuju sebuah ruangan yang lumayan luas itu, membuka pintunya dengan hati-hati lalu menekan saklar lampu. Kaluna berjalan masuk, di studio milik Tara itu berdiri beberapa kanvas yang ditempatkan di beberapa dudukan kayu. Bisa Kaluna ambil kesimpulan mungkin saja lukisan Tara belum selesai. Setidaknya ada empat kanvas yang ditutupi kain putih.


Wusss


Kaluna membuka kain di salah satu lukisan Tara. Matanya membelalak, ia sungguh terkejut melihat lukisan itu. Semakin penasaran, ia pun membuka semua kain yang menutupi kanvas lainnya.


" Ya Allaah."


Kaluna memundurkan tubuhnya, kedua tangannya menutup mulutnya sendiri. Ia sungguh terkejut dengan apa yang ia lihat. Lukisan-lukisan Tara ini sungguh sempurna untuk ukuran bocah 5 tahun. Meskipun beberapa detail bagiannya masih belum selesai tapi Kaluna tahu itu benar-benar lukisan seorang maestro.


" Sayang kau kenapa?"


" Mas."


Kini giliran Yasa yang terkejut melihat apa yang ada di depannya itu. Dia juga suka melukis dan menyukai karya seni tersebut jadi dia tahu sedikit banyak soal lukisan. Yasa mendekat ke arah lukisan-lukisan yang dibuat oleh putranya. Bahkan ia mendekatkan matanya ke salah satu lukisan untuk melihat detail dari coretan kuas cat pada kanvas itu.


" Sayang, putra kita benar-benar seorang yang jenius. Aku rasa dia menyembunyikan banyak hal. Sepertinya kita harus menanyainya besok."


Kaluna mengangguk setuju dengan usulan sang suami. Bagaimanapun mereka harus bertanya, untuk apa lukisan-lukisan itu dibuat. Pikiran Kaluna langsung dirasuki sesuatu, sebuah kesimpulan dimana waktu itu Dokter Jason mengatakan bahwa Tara kecapekan dan kurang tidur. Kaluna lantas menghembuskan nafasnya.


Keduanya kembali menutupi kanvas-kanvas itu dengan kain putih seperi semula. Mereka berdua keluar dari studio tersebut dna tidka lupa mematikan lampu.


" Mas bagaimana urusan dua orang art nenek Carolina?"


Entahlah, dari tadi mencoba tidur tapi Kalun tidak bisa. Ia ingi Yasa berada di sampingnya menemaninya menuju alam mimpi. " Pengen tidur sama mas. Aku nggak bisa tidur."


Yasa tersenyum mendengar jawaban sang istri. Ia kemudian merangkul bahu Kaluna dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia kemudian mendudukkan Kaluna diatas ranjang. " Berbaringlah dulu, kau akan mandi sebentar."


Kaluna mengangguk, ia melihat Yasa hingga tubuh suaminya itu hilang dibalik pintu kamar mandi. Kaluna sendiri merasa herna dnegan dirinya, padahal biasanya ia akan tidur saja meskipun Yasa belum pulang. Tapi kali ini ia benar-benar ingin tidur dengan ditemani sang suami.


Sekitar 10 menit berlalu, Yasa akhirnya selesai juga mandinya. Pria itu terkejut saat melihat istrinya masih duduk di tempat semula. Ia merasa Kaluna sungguh aneh malam ini. " Sayang, kan mas bilang suruh perubahan dulu."


" Maunya sama mas."


" Heee???"


Yasa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kaluna benar-benar bersikap diluar kewajaran. Tapi Yasa tidak akan membicarakan hal itu. Melihat malam yang semakin larut ia pun langsung membawa istrinya untuk membaringkan tubuh.


Di atas kasur itu Kaluna mendekap tubuh Yasa erat. Ia menghirup aroma tubuh sang suami dalam-dalam. Dna tak berselang lama Kaluna terlelap dengan memeluk Yasa.


" Ada apa denganmu hmmm? Malam ini sungguh bersikap sangat aneh."


Yasa membelai wajah Kaluna. Wajah cantik dengan rambut panjang itu kini menjadi dunia nya. Ia mencium kening sang istri dengan sedikit lebih lama, menyalurkan rasa cinta dan sayangnya.


Kriiing


Yasa sedikit terkejut saat mendengar ponselnya berdering. Dengan satu tangan ia berusaha meraih ponsel yang sebelumnya ia letakkan di atas nakas. Sebuah panggilan dari sang teman, tertera nama Frans di sana.


" Elaah Frans, ini tengah malem bree. Ada apa?"


" Sorry ma bos. Ini soal Brisia. Dia ada hubungan apa ya dengan anaknya pemilik Souk Restoran?"


Yasa membuang nafasnya kasar. Tengah malam begini Frans telepon hanya untuk menanyakan hubungan Brisia yang tentu Yasa tidak tahu. Tapi mengingat jas Frans akhirnya Yasa memilih untuk menanggapi teman jomblo nya yang sedang kasmaran tersebut.


" Aku nggak tahu soal itu Frans. Mending ye, kalau kamu udah yakin dah lah gas aja temui orang tuanya. Soal diterima atau kagak itu urusan belakangan. Dari pada nanti keburu diambil orang yang ada nyesel."


Di seberang sana Frans terdiam mencerna setiap apa yang Yasa katakan. Ada benarnya juga memang omongan Yasa. " Oke deh, aku bakalan mikirin hal itu. Thanks Yas, sorry ganggu," jawab Frans sambil terkekeh. Dirinya tahu pasti saat ini ia mengganggu waktu istirahat sang teman.


Frans kembali terdiam setelah menutup panggilannya. Pria itu bermonolog, " Menemui orang tua Brisia? Apakah harus secepat ini. Tapi yang dibilang Yasa ada benarnya juga. Baiklah, besok aku akan mendatangi rumah Brisia. Bener juga, diterima atau nggak itu urusan nanti."


TBC