
Klara membenamkan dirinya di bath up yang sudah ia isi dengan air hangat penuh. Kata-kata Lio terngiang dalam kepalanya. Pria itu pergi tanpa melajukan apa-apa setelah Klara benar-benar kukuh menolak dirinya.
" Menikah? Aku tidak mau terikat hubungan dengan orang. Persetan dengan komitmen."
Di sisi lain, Lio jelas kesal. Padahal ia bersungguh-sungguh ingin Klara menjadi pendamping hidupnya. Ia sudah berjanji berhenti untuk bermain-main. Usianya yang sudah menginjak kepala 3 membuat Lio ingin membina hubungan yang serius dan tidak main-main lagi.
" Arghhhh brengsek. Apa sesulit ini untuk berubah menjadi lebih baik. Haish, kayaknya aku akan stop untuk mengejar wanita itu. Dia sudah menolak ku mentah-mentah."
Ckiiit
Karena merasa kesal, Lio tanpa sadar menjalankan mobilnya sedikit lebih cepat tapi ia tidak melihat ada mobil di depannya yang keluar dari sebuah gang. Hampir saja ia menabrak mobil tersebut.
" Bung, kalau berkendara itu fokus. Hampir saja Anda mencelakakan pengguna jalan lain."
" Maaf, maaf bu saya tidak sengaja."
" Bu? Astaga, muka gue nggak tua-tua amat. But whatever."
Mobil tersebut melaju dengan cepat. Lio kemudian membuang nafasnya kasar. Sepertinya ia benar-benar menghapus Klara dari daftar wanita yang ingin dia nikahi.
Pria itu akhirnya memilih menuju ke restoran milik sang ayah. Sebenarnya itu restoran sudah dialihkan kepadanya tapi dia sama sekali belum berkeinginan untuk mengurusnya. Dan, mungkin sekarang adalah waktunya ia serius dalam menjalankan bisnis yang sang ayah berikan itu.
Lio menghentikan mobilnya tepat di depan restoran. Soul restoran, restoran yang sudah berdiri puluhan tahun itu benar-benar masih kokoh dan banyak pengunjungnya. Lio mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia kemudian berjalan masuk, semua pegawai di sana memberi hormat saat melihat putra dari pemilik tempat mereka bekerja.
" Mbak, dimana papa?"
" Dikantor Mas Ardelio."
Lio mengangguk dan menuju ke kantor. Ia mengetuk pintu dan membukanya perlahan saat suara ayahnya memintanya masuk.
" Jadi, apakah sudah siap bekerja."
" Astaga pa, baru ge mau masuk, udah ditodong lagi bae."
Pria berusia 60 tahun itu terkekeh geli melihat wajah putranya yang ditekuk. Sedangkan Lio hanya membuang nafasnya kasar. Sang ayah meskipun usianya sudah tidak muda lagi tapi terlihat masih sehat, dan bahkan sesekali masih memasak untuk pelanggan khusus yang datang di restoran miliknya.
Jiwatrisna, siapa yang tidak mengenal pria itu. Kisah suksesnya dalam merintis Soul Restoran dijadikan inspirasi bagi beberapa usaha rintisan. Jatuh bagun dalam mengembangkan restorannya dibayar lunas dengan keberhasilannya membuka cabang dibeberapa kota besar negri ini.
" Mulailah serius dan berhenti bermain-main. Pilihlah cinta yang benar dan jadikanlah istri yang bisa menemanimu di perjalan hidupmu."
Lio mengangguk mendengarkan petuah sang papa. Ia tentu tahu bagaiman perjalanan cinta sang papa. Jiwa menceritakan kisah cintanya kepada sang putra. Bagaimana saat dia salah mencintai wanita hingga ia menemukan seorang wanita yang benar-benar tulus mencintainya. Jiwa menceritakan hal tersebut agar Lio tidak mengalami hal yang ia alami dimasa lalu. Cinta buta, cinta yang menyalahi aturan karena Jiwa pernah berhubungan dengan wanita yang sudah bersuami.
" Aku sekarang tahu pa, dan aku tidak akan melakukan kesalahan yang pernah papa lakukan."
Lio tampaknya semakin mantap untuk melepaskan Klara. Tampaknya percuma saja ia mengejar wanita itu karena dengan tegas Klara tidak memikirkan berkomitmen dalam waktu dekat ini.
πππ
Kediaman Yasa mulai ramai saat kedua orang tuanya dan kedua mertuanya datang untuk membantu merapikan acara pindahan mereka. Ya, Yasa memberitahu bahwa hari ini ia akan menempati rumah baru mereka setelah Kaluna setuju untuk kembali ke ibu kota.
" Kenapa neng, manyun gitu," tanya Kaluna kepada sang sahabat.
" Tahu nggak, masa ya tadi gue dipanggil ibu-ibu. Kan kesel."
" Maksudnya?"
" Jadi tadi, ada mobil yang hampir nabrak mobil gue. Nah gue tegor tuh nyang punya mobil eh dia bilang maaf ya bu. Lah gue langsung syok dong dipanggil ibu. Muka gue emang setua itu ya."
Kaluna terkekeh geli mendengar cerita Brisia. Sahabatnya itu selaku ekspresif saat menceritakan sesuatu. Kaluna pun menarik tubuh Brisia dan membawa sang sahabat ke depan cermin. Ia meminta Brisia untuk mengamati cermin tersebut.
" Nah, sekarang lihat deh. Kira-kira wajah mu itu tua nggak?"
" Kampret lo Kal."
Tawa keduanya meledak. Dan tanpa disadari hak itu menarik perhatian seseorang. Niat hati ingin menanyakan dimana letak toilet akhirnya ia urung saat melihat tawa itu.
Plak
" Istri ku itu jangan dilihatin terus."
" Aku nggak lihat istrimu bos. Aku lihat yang satunya. Siapa dia."
Yasa tersenyum, tampaknya Frans sang teman sekaligus orang kepercayaannya itu tertarik dnegan sahabat sang istri. Yasa lalu menjelaskan siapa Brisia kepada Frans. Wajah Frans seketika menjadi cerah bersinar. Pria itu seperti menemukan sebuah harta karun yang terpendam lama.
" Masih free nggak bos."
" Kayanya sih masih."
Senyum Frans mengembang sempurna. Sudah lama patah hati karena diselingkuhi, melihat Brisia seperti hatinya bahagia kembali.
Frans tidak berhenti memperhatikan Brisia hingga sebuah tepukan pelan tangan Yasa menyadarkannya.
" Sudah jangan dilihatin terus. Bila sudah yakin temui orang tuanya langsung. Ingat bapaknya dokter tapi serem. Kamu harus hati-hati. Yang aku tahu bapak sama kakak laki-laki nya itu agak-agak pshyco."
Frans menelan saliva nya dengan susah payah. Sepertinya Brisia bukanlah gadis yang mudha diambil hatinya. Yang awalnya Frans begitu bersemangat tiba-tiba ia merasa lemas kembali saat mendengar penjelasan Yasa.
Dua orang pria itu kembali ke ruang tamu saat Kaluna dan Brisia membawa makanan dan minuman untuk disajikan kepada semua orang yang datang. Mereka tampak senang bercengkerama.
Beberapa saat kemudian Yasa meminta semua orang untuk memperhatikan apa yang ingin dia sampaikan. Tapi terlebih dulu ia meminta ibu dan mama mertuanya untuk membawa Tara ke kamar. Hal ini harus dibicarakan tanpa boleh didengar oleh Tara. Hasna dan Vanka pun paham. Dua wanita paruh baya itu langsung mengajak sang cucu untuk bermain di kamar.
" Apa yang ingin kamu sampaikan Yas," tanya Radi memecah keheningan.
" Tentang rencana besok. Aku sudah meminta Frans untuk membawa menyiapkan wartawan dan mengundang media. Aku akan mengenalkan secara resmi Kaluna dan Tara. Dan, sekaligus aku ingin mengungkapkan siapa dalang dibalik penyebaran berita serta orang yang sudah menjebak kami dulu. Maka dari itu aku meminta Zion membantu dan Brisia sebagai saksi kejadian waktu itu."
TBC